Depresi ImaRi's Blog ImaRi's Corner Parenting Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kisah Hikmah Mental Illness Mindfulness Motivasi dan Inspirasi Tulisan Ribka ImaRi (Owner)

Zoominar Stop KDRT Akibat Inner Child

Oleh: Ribka ImaRi

Flashback status FB 6 tahun lalu saat aku terpuruk depresi parah.

Edit via canva by Wuri

ZOOMINAR GRATIS

Alhamdulilah zoominar gratis pada flyer di atas berjalan sukses atas kehendak-Nya. Dihadiri sebanyak 49 peserta, aku benar-benar merasa bersyukur semua peserta bisa sabar selama dua jam menyimak pemaparanku.

Rumah tanggaku yang dulu hampir berakhir tragis akibat terpicu Inner Child (IC) yang miris, atas seizin-Nya, kini kembali harmonis.

Aku enggak mau sampai tua rumah tanggaku ribut-ribut terus. Sekadar saling membentak atau ngambek-ngambekan engak jelas yang dulu bisa berhari-hari bahkan sampai berminggu-minggu vibrasinya masih negatif terus di dalam rumah. Aku sadar, kasihan Tyaga dan Jehan kecil, saat itu menjadi tong sampah emosi kedua orang tuanya yang sama sekali belum paham ilmu pengendalian emosi.

Tahun 2016, pernikahanku benar-benar terasa di ujung tanduk. Namun Tuhan Maha Baik memberi petunjuk. Aku menemukan sebuah ilmu KESADARAN (MINDFULNESS) yang mengajari untuk tidak lagi merasa ngenes-ngenes sendirian, terus menerus meratapi rumah tangga yang saling menyakiti fisik dan perasaan.

Namun, aku bersyukur sebaliknya, mempunyai rekaman IC yang melihat mama pernah bercerai sewaktu baru mempunya satu anak saja. Membuatku kembali bertekad kuat untuk mempertahankan pernikahan. Pikirku saat itu, tidak mau nasib anak-anakku seperti saudara tiriku yang tinggal tidak bersama bapak atau ibunya.

Jatuh bangun selama lima tahun berproses sejak aku mengenal IC melalui Mentor Mindfulness sejak Agustus 2016. Aku benar-benar berjuang mengasuh IC demi kebahagiaan dalam rumah tanggaku. Tepat 11 tahun pernikahan, menjadi yang terakhir kalinya pada 16 Agustus 2021, aku dan suami ribut termasuk besar di depan Tyaga Jehan karena memang terpicu oleh anak. Meski tidak lagi main fisik, tetapi secara psikis sudah membuat luka. Saat itu lagi-lagi aku bertekad membaik terus untuk tidak mudah terpicu dan memicu suami akibat rekaman IC.

Aku berjuang sadar untuk bangkit dan semangat lalu mengambil tanggung jawab memperbaiki pernikahan. Walaupun saat itu suami belum mau diajak berjuang dan bekerjasama untuk memperbaiki rumah tangga yang hampir porak poranda dilanda badai IC yang memang belum diketahui olehku apalagi oleh suami. Hingga berkali-kali memicu perasan ingin bercerai saja.

Sekarang, seperti inilah kondisi rumah tanggaku. Seperti penampakan chat di bawah ini pada tanggal 29 Oktober 2021. Aku dan suami sudah dengan mudah berbaikan setelah pertengkaran sepele. Kini, aku sudah bisa sebegitu cepatnya selesai emosi menjadi terkendali dan tidak lagi berlanjut menyakiti suami dengan kalimat merepet panjang dan lebar seperti dulu. Stop di aku saja!

sumber foto: screen shoot foto pribadi

Semudah itu sekarang aku meminta maaf lebih dulu? Semua berkat pertolongan dan kekuatan dari Tuhan, rumah tanggaku dan suami menjadi tentram kembali setelah selesai mengasuh IC.

Untuk itu, dengan semangat dan rasa senang hati, aku berbagi kisahku dari yang pernah saling KDRT sampai bisa romantis abiiiss seperti saat ini.

Silakan bantu share artikel ini, agar banyak rumah tangga SADAR MENGENALI INNER CHILD, lalu bisa belajar STOP KDRT AKIBAT INNER CHILD dan berjuang Mengasuh Inner Child agar rumah tangga bisa menjad harmonis seperti yang dicita-citakan sejak sebelum menikah.

Bisa juga untuk yang masih single agar belajar sejak dini mengenali Inner Child diri sendiri demi mencegah ribut terus dengan calon pasangan.

Sepele, sangat sepele. Ya, flashback kejadian enam tahun lalu tepat di hari Pahlawan 10 November 2016 aku malah jadi ibu pecundang! Kenapa harus sampai KDRT hanya gara-gara mesin cuci? Iya, hanya gara-gara mesin cuci saja! Sepele sekali, bukan?

Hanya karena hal sepele mesin cuci rusak, tetapi ternyata rumit karena ini berpola rantai KDRT (suami KDRT aku, aku KDRT Tyaga Jehan) yang berasal dari akar Inner Childku dan suami. Bukan salah suami sepenuhnya, karena aku pun punya andil besar dalam memicu memicu KDRT dari suami. Nyatanya sekarang kami bisa saling memahami, terlebih aku yang sudah mengenali IC suami, jadi bisa PAUSING lebih dulu jadi mencegah tak pernah ada lagi ribut parah seperti dulu. Perlu menggali akar Inner Child selama bertahun-tahun setelah mengenal ilmu MINDFULNESS sejak Agustus 2016.

Akhirnya ketemu polanya: aku ngegas–>suami membentak–>aku menangis–>suami marah nada tinggi–>aku histeris nangis berjam-jam–>suami kalap main tangan. Semua ini berakar dari orangtua kami masing-masing, terutama bapak yang KDRT ke ibu.

Ini nyata! Ini rantai KDRT akibat Inner Child. Atas seizin Tuhan dan berbekal ilmu MINDFULNESS dari Mentorku, kini, aku bukan hanya bisa memutus rantai KDRT main tangan, marah nada tinggi dan bentakan tetapi bahkan bisa mencegah aku ngegas duluan ke suami. Sekarang rumah bisa tetap damai, Tyaga Jehan pun tetap jadi anak yang bahagia meski ayah bundanyanya sedang ada masalah bertubi.

Ya, enam tahun lalu, tepat di hari Pahlawan, aku justru menjadi pecundang dengan menoreh luka pengabaian kepada Tyaga usia 3 tahun 8 bulan dengan tidak mengurusnya dan Jehan 15 bulan dengan tidak menyusuinya. Sehabis bertengkar hebat dengan suami, aku sibuk tidur telungkup dalam keadaan baju basah kuyup sambil meratapi luka-luka inner child-ku yang saat itu belum kuketahui apalagi pahami. Karena enam tahun lalu aku belum tahu ilmu MINDFULNESS. Sekarang aku sama sekali tak malu mengakui sebab ini fenomena gunung es. Ada banyak Mentee yang kumentoring di kelas MIC (Mengasuh Inner Child) dari Batch 1 pada Desember 2019 sampai Batch 22 pada Oktober 2021, banyak mengalami hal yang sama denganku, Mentornya.

Jika ingin belajar mengasuhnya, dibuka kelas Mengasuh Inner Child setiap bulannya. Silakan hubungi Mentor

Ternyata, aku dan suami mempunyai akar inner child sebagai anak korban KDRT di masa kecil. Akhirnya saling memicu parah sehingga terjadi KDRT sama persis dengan orang tuaku dan suami dulu. Bukan saja aku sebagai korban tetapi seringkali menjadi pelaku KDRT ke suami dan anak. Hari ini, setelah enam tahun perjuangan memutus rantai KDRT akibat inner child, bisa membaik dari depresi dengan segala macam terapi yang ditempuhi, atas seizin-Nya, aku berhasil mengasuh inner child-ku sendiri, suami dan Tyaga Jehan. Sujud syukur luar biasa, berhasil Mengasuh Inner Child  membuat keluarga ImaRi’s bukan saja terbebas dari KDRT fisik dan merusak barang, tetapi selama tiga bulan penuh sudah sampai di fase damai tanpa ledakan sama sekali. Maha Besar Alllah.

Secara terus menerus, aku ingin berbagi pengalaman perjuangan selama enam tahun untuk memutus rantai KDRT akibat Inner Child. Bahkan benar-benar STOP seperti hari ini. Padahal ada banyak kejadian Tyaga dan Jehan memicu kemarahanku dan ayahnya tetapi alhamdulillah malam ini kami menutup hari dengan manis tanpa kekerasan bahkan sekadar kekerasan intonasi suara. Sujud syukur alhamdulillah, suamiku berubah luar biasa karena Allah yang telah mengubahnya melalui ilmu pengasuhan diri dengan kesadaran (MINDFULNESS).

-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 45 buku Antologi sejak Januari 2019 (Sebanyak 35 antologi sudah terbit, 26 dari Penerbit Rumedia, 8 dari Wonderland Publisher dan 1 dari Aksana Publisher)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/Desember 2019-Sekarang)
❤️Mentor Kelas The Power of Sounding (TPS/2020-Sekarang)
❤️Mentor Kelas Healing Anak oleh Ibu (HAI/2020-Sekarang)
❤️Mentor Kelas Be Mindfulness Wife (BMW/Mei 2021-Sekarang)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (Desember 2019-sekarang)
❤️Owner website binaan Rumah Media: ImaRi’s Corner Parenting (April 2020-sekarang)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

6 Komentar

  1. Anonim menulis:

    Membaca cerita mbak Ribka membuat saya jadi tambah melek tentang luka batin inner child. Ternyata efeknya cukup dahsyat jika tidak diasuh dengan baik. Ikut bahagia mendengar cerita mbak yang sudah dapat bangkit dari luka inner child dulu, dengan semua perjuangan dan kesadaran yang tinggi sehingga dapat menciptakan keluarga yang lebih baik dan harmonis. Sukses selalu buat mbak Ribka.

  2. Terkadang ada orang yang tidak mengetahui efek Inner Child terhadap kehidupannya di masa sekarang, ya. Padahal dengan memahaminya bisa membantu sekali ketika menghadapi suatu masalah

  3. Sharing yang pastinya akan bermanfaat bagi yang mengalami inner child. Sukses terus ya, semoga makin harmonis bersama suami dan keluarga hingga nanti.

  4. Puji Tuhan mba Ribka bisa sampai pada titik ini ya.. aku bacanya sambil deg degan membayangkan betapa kacaunya kondisi waktu itu saat semuanya belum tahu akar masalah ya. Syukurlah sekarang sudah jauh lebih baik dan anak-anak mba bisa memiliki orang tua yang lengkap. Semangat mba.. ke depan semoga makin banyak keluarga yg terselamatkan dari KDRT.

  5. Damar Aisyah menulis:

    Proses mencapai kehidupan yang berkesadaran penuh memang tidak mudah, maka layak untuk dibagikan kepada khalayak. Apalagi semua based on experience ya, pastinya lebih aplikatif. Semoga dengan begini makin banyak keluarga yang terbantu untuk keluar dalam lingkaran IC negatif dan KDRT

  6. menulis:

    Masyaallah, mengarungi rumah tangga dengan pasangan yang sama-sama mengaamiinner child lalu bersama mengatasinya adalah berkah yang luar biasa. Teruslah berjuang hingga rantai innaer child betul-betul terputus.

Tinggalkan Balasan