Kisah Hikmah Latihan Menulis Komunitas Parenting

Yakin, Pasti Ada Ujungnya

Yakin, Pasti Ada Ujungnya

Oleh : Ribka ImaRi

Lima tahun lebih sudah berlalu … ketika sepulang dari RS, dimulai perjalanan panjangku menjadi ibu baru dari seorang batita aktif dan bayi baru lahir tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah dan suami.

Di saat suami usai cuti menemani melahirkan, bahkan aku benar-benar tidak bisa berharap kepada orangtuaku yang hanya berjarak 30 km, bisa mendampingi diawal kehidupan menjadi ibu dari dua anak dengan jarak yang sangat dekat bagiku. Ya, Tyaga dan Jehan hanya berjarak 2 tahun, 5 bulan, dan 5 hari.

Pun tak ada mertua yang bisa menemani karena semua sudah almarhum dan almarhumah.

Di sinilah titik awal terlihatnya depresiku akibat luka pengabaian. Aku merasa sangat tidak berharga sebagai anak perempuan. Ternyata, inilah maksud Allah yang tersembunyi. IA berkehendak aku dapat merawat, mengasuh dan mendidik kedua anakku sebaik-baiknya agar tidak mengalami luka pengabaian sepertiku.

Lima tahun lamanya … segala yang pernah sangat sulit bahkan disaat yang bersamaan aku sampai mengalami depresi pengasuhan. Akibat begitu banyak luka batin dan trauma masa lalu sedari kecil hingga dewasa.

Sungguh, ini semua pernah sangat berat bagiku.

Namun, satu hal yang aku syukuri karena punya satu keyakinan “semua pasti ada ujungnya.”

Kemudian aku mohonkan terus pertolongan hanya dari Allah saat aku benar-benar sendirian.Dan memohonkan kekuatan untuk menapaki perjalanan jadi ibu hingga ujung jalan ini.”

Hingga d ititik dan di ujung perjalanan sekarang ini … ujung dari perjuangan meski baru sampai di tingkat paling dasar dan masih jauh dari kata usai.

Namun, sungguh … apa yang terlihat indah dan sempurna seperti di foto, ada perjuangan yang menguras air mata. Ibarat air mata darah karena saking sudah sangat lelahnya aku mengasuh keduanya.

Akan tetapi, kini air mata perjuangan berganti bahagia mengukir kenangan.

Tentang kenangan baik dari anak-anak yang baik karena diperlakukan dengan baik. Setelah aku bisa kembali membaik. Kembali belajar menjadi ibu yang baik seperti masa bayi Tyaga dan Jehan. Sebelum masa Tyaga dan Jehan memasuki fase tantrum bersamaan.

Tentang kenangan indah dari anak-anak yang manut bukan karena takut. Melainkan taat karena mempunyai pengertian dan kesadaran Sebab sudah terbiasa diberi pengertian dan kesadaran panjang lebar.

Tentang kenangan manis dari anak-anak yang manis. Sekarang tinggal diinstruksi saja untuk mengurus dan mempersiapkan diri mereka sendiri saat menjelang bepergian keluar rumah.

Sungguh, perjuangan menapaki jalan panjang itu kini berbuah hasil yang baik, indah dan manis … bahkan teramat manis bagiku. Karena aku tinggal duduk manis menyaksikan hasil pembelajaran kemandirian Tyaga dan Jehan. Mereka sudah bisa mandi sendiri, handukan sendiri, ambil baju padu padan sendiri, pakai baju sendiri, sisiran sendiri, pakai sepatu sendiri dan benar-benar semua sendiri tanpa ayah bunda turun tangan membantu keduanya.

Setidaknya … sungguh aku sudah bisa merasa lega dan bersyukur alhamdulillah karena bisa mendidik dan mengasuh Tyaga dan Jehan menjadi anak-anak yang mandiri di usianya yang dini. Tyaga jelang 8 tahun dan Jehan jelang 5,5 tahun.

Percayalah, ibu muda di mana pun berada, saat dirimu yakin akan ada ujung dari perjuangan, di sanalah kau temukan kekuatan untuk menjalani kehidupan sebagai ibu baru yang masih banyak belum tahu.

Aku banyak belajar maafkan diriku yang banyak kesalahan karena belum banyak belajar. Tak mengapa tidak menjadi sempurna. Asal akhirnya aku bisa berjuang membaik kembali.

Meski pada awalnya, jalan ini sangat berliku dan terjal. Percayalah, semua ada hikmah-Nya. Allah akan memberi pemandangan indah di puncak pemberhentian kelak.

Selalu yakin, percaya, semangat, konsisten, sabar dan telaten. Hasilnya, serahkan dan pasrahkan selalu hanya kepada Allah semata.

Sokaraja, 24 November 2019

-Ribka ImaRi-

(Penyintas Depresi & Bipolar, Mentor Kelas Online Tantrum Anak, Kelas Online Seni Mengasuh Anak Laki & Perempuan)

Dapat dihubungi di wa 085217300183

Sumber foto: dokumentasi pribadi

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan