Tema Ditentukan Writing Challenge Rumedia (WCR)

Usai Kumandang Takbir, Teriring Doa Semoga Corona Segera Berakhir

Oleh: Ribka ImaRi

Assalamualaikum, semangat pagi Sahabat ImaRi’s!

Aku merasa harus benar-benar berjuang memupuk rasa semangat di tengah pandemi seperti ini. Semoga semua sahabat ImaRi’s juga selalu semangat ya

Walaupun Ramadan telah berlalu kemarin di Magrib yang syahdu. Kumandang takbir baru saja berakhir gemanya dari Masjid belakang perumahan pagi tadi. Salat Id telah terlaksana meski pun hanya di rumah saja. Tak lupa ku ucapkan maaf setulus hati, “Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin.”

Sungguh, perayaan hari nan fitri kali ini sangat jauh berbeda. Perbedaan yag paling mencolok adalah ketika suami dan kedua anakku melaksanakan salat Id di dalam rumah. Tidak ke Masjid di belakang perumahan, atau tidak pula ke lapangan Alun-alun Kota Purwokerto seperti biasanya sejak kami pindah ke kota ini bulan puasa tahun 2016.

Campur aduk perasaan ketika suasana sungkem bermaaf-maafan dengan suami dan kedua anakku. Ditambah tadi, aku tidak bisa mengikuti salat Id karena sedang berhalangan. Namun selama menjadi mualaf sejak tahun 2010, seumur-umur memang baru kali ini, hampir semua ulama sepakat bersama mengimbau untuk melaksanakan salat Id di rumah saja. Karena Indonesia dan juga seluruh dunia masih dalam keadaan pandemi corona.

Padahal biasanya selepas salat Id, kami bisa bersilaturahmi menuju rumah saudara-saudara dari pihak keluargaku yang berjarak 25 km dari rumah. Atau juga ke rumah para tetua dari pihak keluarga suamiku (adik-adik mertua almarhum). Namun kali ini kami benar-benar harus tetap istiqomah dalam ketaatan untuk tetap di rumah saja demi mencegah penyebaran virus corona.

Jujur, sebenarnya sempat kelebat frustasi. Ada banyak hal yang biasanya kita, umat muslim lakukan di Hari Raya, tetapi kali ini tidak bisa kita lakukan sama sekali. Padahal yang namanya silturahmi Idul Fitri semacam kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan.

Betapa istimewanya Idul Fitri tahun 1441 Hijriah kali ini. Kendati pun aku dan keluarga kecilku hampir terbiasa hanya berempat saja di Hari Raya. Karena kedua orangtuaku masih non muslim jadi tidak merayakan Lebaran. Pun kedua orangtua suamiku sudah almarhum semua. Akan tetapi keinginan untuk segera berkumpul bersama keluarga besar yang masih ada tetaplah membuncah.

Sering pertanyaan ini muncul, “Kapan corona ini akan berakhir? Rindu aktivitas normal seperti biasanya.

Demi mencegah pikiranku yang campur aduk membawa suasana negatif menjadi bad mood untuk seisi rumah buru-buru aku afirmasi positif. Aku berjuang menyakinkan diri bahwa keadaan akan tetap baik-baik saja. Meskipun keadaannya memang seperti ini adanya. Terima saja dulu semua satu per satu.

Yakin Allah punya maksud indah mendidik semua hamba-Nya untuk belajar mengendalikan segala rasa ingin. Ingin ini, ingin itu, banyak sekali. Akan tetapi sering lupa nikmat terindah di depan mata. Bisa berkumpul bersama keluarga inti, suami dan kedua anak. Aku tetap bisa berbahagia bersama keluarga kecilku. Justru ini nikmat yang luar biasa. Karena masih banyak keluarga pejuang LDM (Long Distance Marriage) yang belum bisa melakukan sungkem dengan pasangannya karena terhalang PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sehingga tidak memungkinkan untuk pulang ke kota asal.

Sore ini, masjid di belakang perumahan tempat kami tinggal, sudah tidak lagi mengumandangkan takbir. Berganti azan untuk salat Asar. Teriring doa dan harapan semoga pandemi corona ini segera berakhir. Agar semua berbahagia berkumpul bersama dan bersilaturahmi dengan semua orang tersayang. Aamiin.

Sokaraja, 24 Mei 2019 (1 Syawal 1441 H)
-Ribka ImaRi-
Depresi & Bipolar Survivor (215-2018)
Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (2018)
Mentor Kelas Tantrum Anak (2018)
Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (2019)
Founder ImaRi’s Corner Parenting (2020)
imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan