Blog Umum Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi RNB 3 (Rumedia Nubar Bla Batch 3) Tulisan Wenny Kartika Sari

Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan (Oleh: Wenny Kartika Sari)

Sumber foto: google edit meitu

Hidup di dunia pasti membutuhkan uang. Hal di segala bidang pasti harus membayar, sehingga perlu uang. Kita pasti juga pernah mendengar istilah “uang tidak dapat membeli kebahagiaan.” Dalam kehidupan ini kita sering melihat banyaknya permasalahan yang justru berasal dari uang.

Ironis bukan? Pada saat seseorang sudah sukses dan mempunyai jabatan mencapai puncaknya, justru mengalami kegagalan gara-gara uang. Kecenderungan manusia kalau sudah memiliki segalanya, tidak menghargai kelimpahan itu sebagai suatu rahmat yang luar biasa.

Banyak orang menyia-nyiakan dan menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak berguna. Padahal masih banyak orang yang benar-benar kekurangan. Kebanyakan manusia meluangkan banyak waktu untuk berdoa ketika ditimpa masalah keuangan. Sebaliknya pada saat sukses waktu doa berkurang bahkan lupa sama sekali.

Orang bisa hidup bahagia bukan karena uangnya banyak, itu bukan jaminan. Orang bisa berbahagia, disaat bisa bersyukur bagaimanapun keadaannya. Ada orang miskin tetapi selalu ceria dan tersenyum. Ada orang kaya tetapi wajahnya kelihatan kusut, karena tidak pernah bersyukur dan takut kehilangan uang.

Padahal justru dari pengalaman aku sendiri, dengan mengalami kehilangan uang adalah rahmat untuk melepas keterikatan dunia. Kedengarannya aneh ya, kehilangan kok rahmat. Itulah kenyataan selama kita punya kepekaan terhadap musibah yang pernah terjadi, ada berkat di baliknya.

Harus kita sadari bahwa semua yang kita miliki termasuk uang adalah milik Tuhan. Kalau kita harus kehilangan karena apapun sebabnya, kuatkan mental untuk ikhlas. Anggap saja bukan rezeki kita. Dengan ikhlas, akan kembali apa yang telah hilang dan berlipat-lipat.

Semakin kita takut kehilangan, bisa benar-benar hilang dan hidup kita tidak pernah tenang. Teruslah berdamai dengan diri sendiri sehingga bisa juga berdamai dengan orang lain dan masalah. Kebahagiaan sejati itu hanya ada di dalam mereka yang hidup di dalam Tuhan.

Artinya, kaya atau miskin, selama ada Roh Tuhan menyala di dalam hidup kita, maka kita akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya atau kedamaian yang abadi.

Dalam injil Matius 5:3 : Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Tuhan mengajarkan kepada kita cara mendapatkan kebahagiaan. Kemiskinan di sini, bukan berarti hal materi, tetapi lebih kepada rohani. Artinya, apabila kita tetap merasa “miskin” dan ingin memperoleh lebih banyak lagi kekayaan rohani, kita akan senantiasa mencari Tuhan. Miskin, yang diartikan sebagai rasa rendah hati, tidak berlebihan dan selalu haus akan Tuhan.

Berkat itu bukan berarti harus berupa uang atau materi, akan tetapi mencakup banyak hal. Apabila kita diberkati secara berlimpah, sanggupkah kita untuk tetap hidup “miskin” dan mencari lebih lagi kekayaan rohani dari Tuhan apapun keadaan kita saat ini? Apabila kita belum mampu hidup layak, sanggupkah kita untuk tetap bersyukur dan mencari Tuhan?

Tuhan selalu mencukupi tepat pada waktuNya, asal kita melakukan kewajiban kita. Intinya kaya atau miskin, selama kita hidup dalam Tuhan, dan berusaha terus naik hingga suatu level tertentu secara rohani. Aku sungguh mengalami berbagai mukjizat, dan berkat disaat berserah total.

Tuhan selalu mempunyai rencana yang indah di dalam diri kita. Alangkah baiknya bila kita tidak membandingkan berkat Tuhan kepada kita dan berkat Tuhan kepada orang lain, karena jelas berbeda-beda. Hal terpenting adalah sekaya apapun manusia itu, kebahagiaan sejati tidak bisa dibeli dengan uang, tetapi merupakan anugerah bagi siapa saja yang setulus hati mencari Tuhan.

The Power of Thinking💖

The Power of Forgiveness💖

Solo, 4 Desember 2020
Wenny Kartika Sari
#Nubar
#Nulisbareng
#Level3
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week1day4
#RNB092NubarSumatera
#rumahmediagrup

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan