Hari-Hari Bersama Duo ImaRi Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Mental Illness Mindfulness Parenting Parenting

Tyaga dan Jehan Terlalu Berharga Untuk dijadikan Pelampiasan Emosiku

Oleh: Ribka ImaRi

Ramadan 2019
18 Mei 2019

Penyandang HSP (Highly Sensitive Person-orang yang sangat sensitif) sepertiku sangat mudah terpicu saat ada suara berisik dari mesin pemotong keramik. Karena ada pekerja sedang merenovasi kamar mandi.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Suara bising pengerjaan membuat bagian belakang telinga jadi sakit, leher tegang, kepala senut-senut dan rahang kencang. Efek begadang juga semalam dan ditambah lagi tambalan gigi sementara malah sudah lepas sebelum kontrol ulang di hari selasa nanti.

Karena sudah memahami penyebab kemarahan yang tersebut di atas, aku jadi bisa ancang-ancang untuk mencegah ledakan kemarahan. Sewaktu Tyaga dan Jehan bercanda. Padahal sedang makan. Jehan jadi menyenggol banyak botol yang berada di jendela dekat meja makan. Semua menjadi berserakan di lantai dan satu botol parfum kecil menjadi pecah.

Jujur, aku ingin sekali mengomel. Aku ingin melampiaskan segala rasa yang tertahan di tubuh. Namun aku sadar sepenuhnya, kalau melampiaskan semua sensasi rasa tertekan akibat bising ke anak, itu bukan lah pilihan yang tepat.

Segera aku STOP,.PAUSING dan Self talk (bicara pada diri sendiri) untuk STOP MENGOMEL. Lalu aku melakukan PAUSING dengan cara tarik napas panjang dan dalam, hembuskan panjang dan dalam dan sebut nama panjang JEHAN XAVIERA PUTRI IMARI.

Dengan menyebut nama lengkap anak saat marah menjadi salah satu caraku mencegah bicara kasar bahkan sumpah serapah ke anak.

Kemudian aku jujur pada Tyaga dan Jehan, “Sebenarnya Bunda mau marah banget ini Mas, Dek. Lagi makan malah mainan penggaris. Bunda kesal banget Dek. Dede dibilangin dari Bunda nada datar sampai naik nadanya tapi nggak mau dengar. Keseeel banget dek. Ada rasa pengen cubit. Tapi Bunda tahan sabar supaya nggak ngomel dan nyubit. Supaya Dede nggak sakit hati dan nggak sakit badan. Yang baiklah Dek … Duduk yang anteng Dek. Jadi gak nyenggol botol-botol di sini (jendela). Ngerti Dek, Mas?”

“Iya, Bun.” jawab Tyaga dan Jehan kompak.

Selamaaat … selamaaat … bisa MARAH TAPI TIDAK MARAH-MARAH,” ucapku dalam hati.

Meski perjuangan ini sangat sulit bagiku seorang penyintas BIPOLAR yang bisa tiba-tiba MOOD SWING. Dari yang semula sangat sabar, bisa tiba-tiba marah-marah seperti kesetanan. Sebenarnya bukan kelakuan Jehan yang memicu kemarahan. Namun, karena ada masalah di tubuhku. Ditambah keadaan sedang puasa jadi lemas karena lapar. Jujur ini tantangan yang sangat luar biasa sulit.

Sejatinya puasa bukan hanya berjuang menahan lapar dan haus. Namun, pengendalian emosi itu lebih penting. Terlebih penting adalah saat bisa menjaga keutuhan hati anak. Menjaganya agar tidak pecah berkeping akibat mulutku yang tidak terkendali. Cukup botol parfumnya saja yang pecah berkeping-keping.

MINDFULNESS mengajarkanku untuk bisa MENERIMA KEADAAN YANG TIBA-TIBA TERJADI DILUAR DUGAAN.

Dengan RADICAL ACCEPTANCE (RA) ini aku jadi punya slogan “AKU TERIMA SEGALA KEADAAN YANG MEMBUATKU MARAH KARENA HATI DUO IMARI (TYAGA DAN JEHAN) TERLALU BERHARGA UNTUK DIJADIKAN PELAMPIASAN AMARAHKU”.

Dengan RA di atas memampukanku menghentikan marahku. Stop sampai di aku saja. Jangan aku lanjutkan marahku ke Tyaga dan Jehan atas ketidakmampuanku mengatasi masalah yang hectic di rumah pada hari itu.

Aku terus berlatih pengendalian emosi dengan Semangat, Konsisten, Sabar & Telaten (SKST). Terutama di bulan puasa penuh berkah ini. Supaya bisa lulus sabar seterusnya.

Karenanya pelajaran pengendalian emosi menjadi begitu penting bagi setiap ibu supaya bisa tetap sabar setiap saat. Bukan hanya saat bulan puasa saja demi mendapat pahala melimpah. Namun pembelajaran seumur hidup saat membersamai anak hingga menua nanti. Demi menjadi role model pengendalian emosi buat anak. Agar Tyaga dan Jehan bisa menjadi orangtua yang sabar untuk anak-anaknya kelak.

Menulis adalah sebagai pengingat diri sendiri.

Sokaraja, 18 Mei 2019 (hari di bulan puasa)
-Ribka ImaRi-

❤️Penulis 21 buku Antologi (16 antologi sudah terbit, 6 antologi sedan dalam proses cetak)

❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan