Hari-Hari Bersama Duo ImaRi ImaRi's Blog Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Ditentukan Writing Challenge Rumedia (WCR)

Titik Kulminasi Keikhlasan Ibu Depresi

Oleh: Ribka ImaRi

20 September 2017

“Astagfirullah! Astagfirullah! Astagfirullah” Sambil berusaha mengendalikan laju sepeda motorku, aku masih ingat merapalkan istigfar berkali-kali ketika melihat dengan jelas dari jarak 50 meter, sepeda motor dari arah berlawanan mengarah ke kanan di jalur aku melaju.

Namun sedetik mataku terpejam karena ngeri.

Braaaaaaak

“Ya Allah! Anakku! Anakku! Anakku! Kepala anakku nggak apa-apa kan, Pak? Anakku nggak celaka kan, Pak? Astagfirullah … astagfirullah … astagfirullah … anakku, anakku, tulang punggungnya nggak kena hantam tadi kan, Pak? Anakku baik-baik aja semua kan, Pak?” tanyaku pada seorang bapak yang membantuku bangun dari aspal, lalu berdiri dan segera menepi. Menepikan diriku, dua anakku dan sepeda motorku.

Masih terekam jelas di mata dan otakku, sebuah sepeda motor bebek model lama dari arah berlawanan yang dikendarai oleh seorang pemuda dengan satu tangan kanannya. Sementara tangan kirinya memegang kandang burung yang ditutupi kain berwarna ungu. Dari dalam gang keluar ayam betina yang membuat sepeda motor bebek itu mengerem mendadak. Si pengendara membuang motornya ke arah kanan. Tepat menabrak dari depan yang sedang melaju di jalur kiri.

Seketika aku menangis histeris dan menjerit tak terkendali. Aku merasa terkena serangan panik sesaat setelah bangun dari terkapar di aspal bersama dua anakku. Hatiku miris membayangkan yang terjadi barusan. Dua belahan jiwaku sangat kucemaskan ketimbang diriku sendiri.

Jehan diam dalam gendongan dipelukanku. Dalam tergugu, segera kuraba dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Tak ada yang basah. Berarti Jehan aman tidak berdarah.

“Ya Allah, ya Allah, ya Allah, alhamdulillah tadi Jehan kugendong, apa jadinya kalau ia duduk di kursi balita….” Kupejamkan mata. Aku tak berani berandai-andai selanjutnya. Hanya rasa syukur yang tiada henti terucap dalam hatiku.

Sumber foto: dokumentasi pribadi.

Padahal tadi sebelum berangkat menjemput Tyaga pukul 11, Jehan sedang tertidur pulas. Aku stres karena bingung menentukan pilihan. Memilih meninggalkan Jehan dalam keadaan tidur tentu bukanlah pilihan bijak. Aku takut anak bungsuku yang baru berusia tiga tahun terbangun dalam keadaan sendirian di rumah. Karena tidak ada seorangpun yang bisa kutitipi anak.

Atau memilih membawanya dalam gendongan. Itu artinya, aku akan kerepotan. Dengan postur tubuhku yang mungil, menggendong Jehan dengan beratnya yang sudah 12 kg benar-benar membuatku harus berjuang sekuat tenaga.

Aku ingin mengeluh bakan menyumpahi diri sendiri. Sebegini repotnya aku hidup sendirian, jauh dari suami, orangtua dan saudara. Namun kemudian aku putuskan menggendong Jehan saja. Agar tidurnya tidak terganggu. Aku tidak tega membangunkan dalam keadaan pulas begini.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Dengan napas terengah-engah karena takut terlambat menjemput Tyaga yang keburu keluar kelas, segera kutata Jehan dalam gendongan. Aku benar-benar bersyukur karena keputusanku yang terburu-buru tadi adalah berkat Allah memberi pilihan tepat. Allah menyelamatkan Jehan-ku.

Meski aku pernah merasa sangat repot, bahkan ketika belanja bahan bangunan karena sedang merenovasi rumah, Jehan tertidur pulas di gendonganku. Aku pernah membenci keadaan ini. Wajahku terlihat sangat stres bahkan mungkin depresi pengasuhan. Aku mengasuh dua anak sejak Tyaga Jehan lahir. Tak ada jeda sesaat. Tak ada seorangpun di rumah yang bisa kumintai tolong menjaga Jehan sedetik saja. Selama ini aku harus membawa serta Jehan ke mana pun kakiku melangkah.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Kualihkan pandangan dan tanganku ke Tyaga yang ada di sampingku. Aku menggamit tangan mungil Tyaga. Lalu membimbingnya lebih ke tepi.

“Mas nggak apa-apa kan, Nak.” Aku menatap lekat Tyaga dan memeriksanya dengan seksama.

“Nggak, Bun.”

“Tadi Mas kena apanya, Nak?”

“Kepala Mas kena aspal, Bun”

“Ya Allah, iya Nak. Maafin Bunda ya tadi nggak bawain helm.”

Diriku sendiri, entah mana yang terluka, sama sekali tidak kupikirkan lagi. Yang pasti lengan kananku sulit digerakkan. Akibat jatuh ke arah kanan dan menubruk aspal. Mendadak air mataku langsung berderai tak terbendung lagi ketika teringat di rumah tak ada siapa-siapa yang bisa kupanggil untuk mengurus aku beserta kedua anakku yang baru saja menjadi korban kecelakaan.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Demi melihat motorku dibawa ke dalam pekarangan rumah yang berada tepat di depan tepi jalan tempat kejadian perkara. Kerusakan yang semakin membuatku histeris. Rumah tanpa pagar membuat banyak orang lebih leluasa berkerumun. Ada yang menuntunku, juga anakku Tyaga, untuk duduk di teras si pemilik rumah.

“Mas kenapa sih pakai nabrak aku segala? Aku bakalan repot banget Mas. Nggak punya siapa-siapa yang mengurus aku dan anak-anakku.” Suaraku lirih memelas.

“Ini, Mbak. Minum dulu.” Suara ibu pemilik rumah membuyarkan tangisanku untuk segera tersadar mengurus diri sendiri dari syok.

“Nih, Sayang minum juga supaya hilang syoknya.” Aku menyodorkan satu gelas kepada Tyaga sambil mengelus punggungnya.

Ya, Tuhan … Tyaga dan Jehan masih kecil kala itu. Ia baru berusia 5,5 tahun. Jehan apalagi baru berusia 3 tahun 1 bulan. Kasihan sudah mengalami trauma akibat kecelakaan motor. Buru-buru aku tepis pikiran itu.

“Mbaknya nggak telepon suami?” tanya seorang ibu yang berada di dekatku.

Handphone-ku? Ya ampun, aku lupa membawanya karena tadi memang sedang terburu-buru menjemput Tyaga yang bersekolah di TK yang berjarak 4 km dari rumah.

“Mbak, ini pakai HP saya saja untuk telepon suami.”

Ya, setidaknya aku memberi kabar. Akhirnya aku bisa menghubungi suamiku di Cirebon sana. Sedangkan aku berada di Sokaraja, Banyumas. Kami terpisah jarak 200km akibat Long Distance Marriage.

Alhamdulillah ia menjawab akan segera pulang. Selesai menutup telepon, Sekonyong-konyong aku teringat betapa banyak dosa-dosaku atas kebencian dan dendamku pada orangtua, saudara kandung, suami, kakak ipar dan tetangga. Aku pernah menyalahkan mereka semua atas kesusahan yang kualami dalam hidup.

Namun kecelakaan barusan di depan mata menyadarkanku, mau sampai kapan aku mengembol dendamku ke mana-mana. Terlebih aku benar-benar takut mati sebelum meminta maaf lebih dulu kepada orang-orang yang membuatku dendam.

Ya, aku dendam pada orangtuaku. Gara-gara mereka aku jadi tidak bisa mengendalikan rekaman sumpah serapah di dalam otakku. Semua meluncur begitu saja di depan kedua anakku yang memicu ketika mereka memberantaki rumah. Saat melihat semua berantakan, seketika aku mengamuk sama seperti bapakku mengamuk di depanku sewaktu aku kecil.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Baca juga RA-Radical Acceptance Tak Ingin Membawa Luka Batin Sampai Mati

Proses Islah dengan Bapakku yang Paling Kubenci Selama 37 Tahun Usiaku

Aku juga dendam pada tetanggaku. Karena saat aku teringat sakit hatiku padanya, seketika aku sangar di depan Tyaga dan Jehan. Tanpa bisa kutahan mata yang melotot di depan kedua anakku yang aktif saat aku mengurus renovasi rumah sendirian tanpa suami di rumah. Sedangkan aku harus bisa selalu mengasuh dua anak balita dan batita dalam keadaan rumah sangat hectic dan berdebu. Menghadirkan sensasi kepala kesemutan kala melihat pemandangan seperti ini di dalam rumah.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Terlebih aku benci pada suami. Karena ia belum bisa segera pindah ke Purwokerto, aku jadi harus terbebani mengasuh dua anak sekaligus. Ditambah jika ia sedang mengambek, aku berjuang untuk tetap waras di depan Tyaga atau Jehan. Bahkan aku tetap jualan ini itu demi mengusir rasa jenuh.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Satu per satu kejadian berkelebat menuntunku untuk belajar ikhlas walaupun sangat susah sekali. Karena aku seorang ibu depresi yang terkadang masih sangat sulit memaafkan semuanya. Luka batin itu terlalu dalam ditorehkan oleh orang dari masa lalu.

Ikhlas memaafkan dan melepaskan dendam itu sungguh sangat tak mudah. Ketika semua seakan tak semudah mengucapkan kata ikhlas. Namun aku berusaha berjuang MENERIMA-nya.

Beruntung dan bersyukurnya aku karena mengenal teknik ACCEPTANCE yang aku pelajari di pelatihan Mindfulness Online di bulan Agustus 2016. Perlahan namun pasti, aku terus menerus mencari dan menemukan makna ikhlas versi diriku.

Ikhlas adalah ketika aku tidak lagi merasakan sakit hati atas ucap dan laku orang lain terhadapku.
Pun, ikhlas adalah ketika aku tidak lagi berharap pada manusia meski itu suami sendiri. Melainkan hanya pada Allah semata untuk mengharap rida-Nya.
-Ribka ImaRi-

“AKU TERIMA SATU PER SATU BEBANKU SEBAGAI IBU YANG MENGASUH ANAK SENDIRIAN TANPA SEORANG PUN MEMBANTU TERMASUK SUAMI SAAT MASIH LDM. AKU BELAJAR MENERIMA SATU PER SATU. TERMASUK KENYATAAN KALAU AKU INI ADALAH IBU PENYINTAS DEPRESI YANG HARUS MINUM OBAT ANTI DEPRESAN YANG MEMBANTUKU AGAR BISA STABIL EMOSI SAAT MENGASUH TYAGA DAN JEHAN. AKU TERIMA INI SEMUA DENGAN IKHLAS.”

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Alhamdulillah, atas Kebesaran Allah aku bisa plong memaafkan kedua oranguaku pada Oktober 2017. Pun dendam pada suami berangsur menghilang seiring penerimaanku pada keadaan suami. Yang pasti aku repot setengah mati saat harus berbelanja semua kebutuhan di saat suami belum pulang di akhir pekan. Jadi aku harus membawa Jehan ikut berbelanja di saat masnya sekolah. Setidaknya bebanku lebih ringan ketika hanya membawa satu anak.

Sumber foto: dokumentasi pribadi.

Aku berjuang seikhlas-ikhlasnya. Aku pun belajar melepaskan MENTAL KORBAN. Berganti MENTAL PEJUANG agar tidak lagi menyalahkan apa dan siapa. Namun mengambil tanggung jawabku untuk menjalani seluruh kehidupanku atas rida-Nya semata.

Walhasil, aku menemukan hakekat kulminasi keikhlasan dalam perjalanan panjangku sebagai ibu depresi. Aku yang semula merasa begitu banyak masalah bertubi-tubi. Tiada henti dan kuhadapi sendiri.

Kini aku sadari, ini semua Allah berikan justru saking sayangnya padaku. IA ingin aku berjuang sabar dan ikhlas dalam mengarungi lautan kehidupan yang menjadi misteri Ilahi. Namun selalu penuh keberkahan tak terduga di akhir cerita.

Keikhlasanku berbuah manis. Aku tak pernah menyangka sama sekali. Ibu depresi akhirnya bisa menjadi mentor kelas parenting online yang menginspirasi banyak ibu yang mengalami hal yang sama. Sungguh … semua itu rencana Allah yang semula menyakitkan, pada akhirnya mendatangkan kebaikan.

Sokaraja, 17 Juli 2020
-Ribka ImaRi-

❤️Penulis 21 buku Antologi
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/2019-sekarang)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan