Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Bebas Kategori Tetap Writing Challenge Rumedia (WCR)

Tuhan Tidak Tidur

Oleh: Ribka ImaRi

“Tuhan Tidak Tidur”

22 Juni 2018

Dari dulu, kalimat di atas seringkali kudengar. Namun aku seperti menyangkal, “Apa iya Tuhan tidak tidur? Rasanya segala cara sudah kulakukan untuk memperbaiki keadaan. Akan tetapi, sepertinya entah sampai kapan hubunganku dengan orangtuaku bisa membaik?”

Jujur, aku pernah merasa putus asa dan putus harapan. Lagi-lagi aku terus berusaha untuk berjuang menerima takdir Allah. Mau atau tidak mau, aku harus menerima apa adanya. Ikhlas menjadi titik tertinggi keberserahanku kepada-Nya Yang Maha Membolak-balikkan hati kami sekeluarga besar.

Benar saja! Hari itu aku merasakan betul bahwa memang benar Tuhan tidak tidur. IA bekerja luar biasa mengubah hati, hidupku dan juga kedua orangtuaku. Tuhan juga yang memberiku kesadaran untuk berusaha mengobati luka-luka batin yang memicu depresi genetik, turunan dari bapakku.

Aku benar-benar berjuang fokus dan semangat luar biasa untuk sembuh jiwa. Aku pun berjuang sabar dan telaten mengurai satu per satu masalah hidupku yang berakar dari inner child warisan pola asuh lama dari kedua orangtuaku. Hingga semua akhirnya benar-benar selesai.

Berbekal pertolongan dari-Nya dan ilmu Mindfulness Parenting yang dimentori oleh Pak Supri Yatno, saat itu aku benar-benar berproses selama dua tahun lamanya untuk mengaplikasikan ilmu mengasuh diri sendiri dengan kesadaran.

Hari itu, tanggal 22 Juni 2018, Tuhan memberi keberkahan hidup luar biasa. Juga berkat doa para sahabat semua. Semoga Allah membalas semua kebaikan doa kalian semua.

Pada akhirnya, buah kesabaran dalam berproses yang perlahan namun pasti mulai terlihat hasilnya. Alhamdulillah saat itu aku punya potret kehidupan keluarga yang normal dan sehat seperti keluarga lain pada umumnya. Antara mertua (bapak dan mamaku) bisa akur dengan menantunya (suamiku).

Pun, anak-anakku dan ponakanku yang bisa kumpul bocah sesama sepupu saling menyayangi dan merindukan.

Bonusnya, saat itu, tepat dua tahun lalu, aku sudah bisa tidak terpicu lagi saat bercerita mengenang masa lalu dan masa kecilku yang suram bersama kedua orangtuaku. Tidak ada lagi dendam dan amarah membuncah menyalahkan kedua orang tuaku atas kehidupan yang pernah terseok-seok. Namun aku mengambil tanggung jawab memperbaiki keadaan demi masa depan keluarga kecilku.

Bahkan aku bisa dengan jujur bercerita tentang sakitku pada mama. Pada akhirnya mama bisa menerimaku yang menderita sakit DEPRESI dan BIPOLAR. Sangat tak mudah untuk jujur kepada orangtua tanpa menyalahkan mereka.

Akan tetapi karena aku sudah bisa terkendali, jadi bisa jadi lebih mudah menata bahasa dan komunikasi asertif. Justru sekaligus mengedukasi mamaku tentang bapak yang juga kemungkinan BIPOLAR dan berniat mengajaknya ke Psikiater supaya bapak bisa membaik dari marah-marahnya setiap saat.

Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kudustakan???

Sokaraja, 21 Juni 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 20 buku Antologi
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
❤️Penulis 20 buku Antologi
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan