Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Parenting Online Mental Illness Mindfulness Parenting Tulisan Ribka ImaRi (Owner) Writing For Healing

Trauma Ramadan dan Lebaran Itu Nyata

Oleh: Ribka ImaRi

Sumber foto: canva edit by Pamela Wuri

ZOOMINAR “SKILL MENGONTROL EMOSI & MENYEMBUHKAN TRAUMA”

Sub Tema: MOMEN LEBARAN, HARI NAN FITRI, Memaafkan Orang Lain Sampai Ke Dasarnya Tanpa Berharap Orang Lain Meminta Maaf Lebih Dulu

Kolaborasi Ilmu MINDFULNESS & STIFIn Mempercepat Penyembuhan Banyak Trauma

Alhamdulillah saat menulis ini, hatiku sudah damai, sudah tak ada desir-desir perasaan sesak di dada. Alhamdulillah aku sudah memaafkan sampai ke dasarnya untuk semua orang yang kuanggap pernah menyakiti perasaanku tanpa melakukan pertemuan dengan mereka. Aku pun menyadari, sebenarnya, bisa jadi aku pun pernah menyakiti hati mereka.

Dulu aneh! Tiap Puasa dan Lebaran kena serangan panik, lemas, tak bergairah, seluruh badan terasa sakit. Aku sakit perasaan dan sakit badan, tak ada suka cita menyambut HARI NAN FITRI. Hanya saja aku berjuang kuat demi dua anak. Aku tampak baik-baik saja. Meski terasa Sakit jiwa dan raga di hari Raya.

Ya, dulu aku merasa menjadi muslimah paling aneh saat ramadan dan lebaran. Aku bahkan benci momen luar biasa. Ini NYATA! Karena selalu saja teringat hal yang membuatku sedih mendalam sekaligus marah mendendam. Aku tahu banget, sebagai muslimah soleha tidak lah boleh mendendam, tapi Ramadan 2013, aku belum tahu caranya memaafkan sampai ke dasarnya atas orang-orang yang menyakiti perasaanku.

Sebenarnya, aku tahu penyebabnya, tapi belum paham kalau trauma itu nyata pernah merusak pertahanan mentalku di Ramadan dan Lebaran 2013. Saat itu aku juga belum paham bagaimana cara mengobati traumaku. Jadi menumpuk selama bertahun-tahun. Membuncah di Lebaran, Juni 2016. Menjadi kemarahan membara yang kulampiaskan ke Tyaga dan Jehan. Tanpa ampun.

Awalnya, beberapa hari jelang lebaran 2013, aku menatap kosong rumahku. Ya, memang kosong beneran. Karena banyak perabot rumah tangga yang sudah di bawa pergi kakak ipar keluar dari rumahku dan suami. Setelah pertengkaran hebat kami di bulan April 2012 sampai aku harus mengalami depresi pasca melahirkan, ingin pergi jauh, menghilang dari pandangan mata orang yang menyakiti, ingin kukasih orang lain untuk merawat bayi Tyaga usia 1,5 bulan. Tak ada yang bisa memahami perasaanku. Tidak suamiku. Suamiku tidak tahu kenapa bisa aku histeris dan pingsan. Bahkan diriku sendiri belum paham apa itu depresi. Namun yang kuingat, aku menangis berjam-jam, ingin mati saja, tak ingin menyusui bayi Tyaga, tak ingin lagi bertemu dua kakak ipar yang menyebabkan aku menderita saat itu.

Semua terjadi dengan sangat dramatis yang ternyata membuatku trauma Lebaran. Karena saat itu lagi-lagi terjadi pertengkaran saat pengambilan properti milik kakak ipar yang dikeluarkan dengan cara dramatis dari dalam rumah kami. Sudahlah trauma, sepi, kosong, karena semua kosong melompong tanpa barang besar, ditambah merasa tak ada keluarga besar yang menjadi tempat di tuju saat hari Lebarann 2013.

Ramadan 2016, H2, aku kembali mengalami trauma akibat ditinggal LDR suami kembali ke Depok, Jawa Barat. Sementara aku sudah harus tinggal hanya bertiga dua anak yang masih kecil-kecil. Tyaga usia 4,3 tahun dan Jehan 22 bulan. Dalam kondisi rumah belum ada tetangga kiri, kanan, depan dan belakang serta tak ada pagar pelindung. Tak ada orangtua, mertua, saudara, ipar, siapa pun yang menemani di rumah baruku. Suami hanya 2 hari menemani. Tak ada seorang pun yang bisa memahami perasaanku. Bahkan menanggap kisahku lebay yang sedikit-sedikit trauma.

Bersyukur alhamdulillah, setelah mengenal ilmu MINDFULNESS PARENTING, aku belajar MENYADARI UNTUK MEMAAFKAN SATU PER SATU ORANG YANG MENYAKITI, TANPA BERHARAP MEREKA MEMINTA MAAF LEBIH DULU, AKU MEMILIH MEMAAFKAN MEREKA SEMUA DEMI KEBAIKAN DIRIKU SENDIRI, DEMI KEDAMAIAN JIWAKU.

Butuh waktu 3 tahun setelah pindah rumah, dan total 6 tahun sejak kejadian 2013, butuh waktu panjang untuk mengobati trauma jiwa di hari Ramadan dan Lebaran, baru bisa clear plong, lega dan tidak memicu sama sekali lagi di tahun 2019.

Ternyata, aku tak sendirian. Setelah menjadi Mentor dari Kelas Parenting Online Mengasuh Inner Child (MIC) ternyata kami banyak yang senasib seperjuangan.

Simak kisah nyata Mentor Ribka ImaRi secara live di ZOOMINAR, bagaimana ia berjuang mengobati trauma Ramadan dan Lebaran sampai akhirnya benar-benar lega, damai jiwa raga di Ramadan 2021 ini dan tak ada sedih-sedih menggelayut menjelang Lebaran 2021 yang bisa mempengaruhi kesehatan fisiknya dulu. MasyaAllah Alhamdulillah.

Simak juga ilmu Kecerdasan Genetik STIFIn dari Trainer Renny Artanti untuk penyembuhan trauma.

Narasumber:
1. Ribka ImaRi, sesi Inner Child & Outer Child
2. Renny Artanti , sesi STIFIn

Waktu 📆: Minggu, 25 April 2021

Jam. ⏰: 09.00-12.00

Investasi : 200K

Untuk 30 pendaftar pertama HANYA 100K

Dalam Zoominar ini anda akan belajar MENGELOLA EMOSI dengan :

+Mengenali luka masa kecil yang tak pernah dimintai maaf oleh orangtua (Inner Child)

+Mengenali jiwa kanak-kanak yang memberontak dan terbawa sampai dewasa jadi sulit memaafkan (Outer Child)

+Mengubah jiwa kanak-kanak memberontak menjadi jiwa dewasa yang bijaksana (Self Adult)

+ Mengenali jenis kepribadian melalui ilmu STIFIn dengan pendekatan masing-masing untuk mengelola emosi & mengobati trauma.

Cocok untuk anda yang ingin:

1. Belajar mengontrol emosi
2. Punya hubungan harmonis dengan suami/istri
3. Mengasuh anak tanpa stress
4. Memahami cara menangani emosi sendiri, anak & pasangan
5. Menyembuhkan bermacam trauma

DAFTAR SEKARANG & DAPATKAN HARGA SUPER MURAH

HANYA 100K
Untuk 30 orang saja.

WA Pamela Wuri wa.me/6282225640740

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan