Blog Umum RNB 3 (Rumedia Nubar Bla Batch 3)

Toxic Parents (Oleh: Wenny Kartika Sari)

Sungguh memprihatinkan zaman sekarang di era milenial banyak orangtua semakin parah dalam bersikap terhadap anaknya. Beberapa keluarga yang konseling denganku ada cerita yang sungguh mengiris hati. Cerita ini sudah lama sebenarnya, tetapi aku baru sempat menuliskannya.

Ada sebuah keluarga yang sangat harmonis tanpa banyak drama seperti lagu Betaria Sonata-Hati Yang Luka, ada lirik “Pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku.”

Selama 10 tahun lebih, pernikahan itu tak ada konflik. Masa Golden Age ( usia 0 sampai 8 tahun ), ketiga anak ini sangat merasakan Full of Love. Ini perlu dicatat baik-baik, bahwa menjadi pribadi yang baik harus mengisi masa Golden Age dengan cinta yang penuh.

Setelah ibunya meninggal, ternyata ayahnya belum siap dan baru terlihat luka batin yang tersembunyi dengan almarhum bapaknya. Luka pengabaian akibat kurangnya pertanggungjawaban bapaknya, sampai tidak membiayai kuliahnya. Ayah ini harus membiayai kuliahnya sendiri, sehingga terbentuk menjadi pribadi yang keras dan otoriter. Akhirnya ayah tersebut melukai anaknya yang pertama dengan tidak mau membiayai juga saat kuliah.

Banyak syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh anak sulung itu. Ekspektasi ayah ini jadi terlalu tinggi, karena angan-angannya kandas dan tidak dibiayai kuliahnya. Impiannya diletakkan di pundak anak sulung. Beruntungnya ketiga anak ini sudah penuh cinta semasa Golden Age, sehingga mereka bener-bener tegar hadapi kenyataan mempunyai seorang ayah toxic parents.

Ada banyak kasus toxic parents, bisa ayah atau ibu bahkan keduanya, tergantung bagaimana cara orang tua memberikan cinta kepada anak-anaknya. Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang kurang mendapatkan kasih sayang penuh, akan haus cinta dan sangat mendambakan pengakuan dan pujian. Ironisnya, mereka sulit sekali memberikan pujian apalagi mengakui kelebihan orang lain.

Aku sering mengingatkan pentingnya penyembuhan luka batin. Contoh di atas, bisa menjadi warning buat calon orang tua ataupun kita para orang tua. Jangan pernah menyepelekan Luka Batin, perlu dicari dengan pertolongan Tuhan. Luka manakah yang sangat menjerat jiwa seolah-olah terpenjara dalam batinnya sendiri.

Saat tidak ada masalah, mungkin akan baik-baik saja, tetapi saat muncul masalah besar yang datangnya tak pernah disaat siap, mulailah meledak luka batin yang tersembunyi itu. Marilah kita yang sudah mengetahui pentingnya memberikan cinta yang total kepada anak-anak kita, mulai dari sekarang kita berikan. Memperbaiki pribadi yang terluka sangat sulit, maka lebih baik mempersiapkan diri dari awal sebelum menikah, sembuhkan luka batin sebelum melukai anak-anaknya.

Langkah-langkah penting untuk Penyembuhan Luka Batin :

1. Pembersihan Hati masa dewasa, bisa dengan cara Meditasi

2. Penyembuhan luka batin masa dalam kandungan (masa kecil) – Inner Child Healing ( Tehnik Pak Supri Yatno – Trauma Healing Therapist)

3. Acceptance oleh Pak Supri Yatno, dengan cara menerima apapun yang terjadi dan bagaimana sikap orang memperlakukan kita terutama yang menyakitkan.

4. Berdoa secara khusus untuk Penyembuhan Luka Batin

Semoga dari pengalamanku dan pengamatan terhadap pengalaman orang lain ini bermanfaat. Selamat berjuang sembuhkan luka batin, untuk menjadi pribadi yang baik. Tuhan memberkati kita semua.

The Power of Thinking

The Power of Forgiveness

Solo, 9 Oktober 2020

Wenny Kartika Sari

#Nubar

#Nulisbareng

#Level1

#BerkreasiLewatAksara

#menulismengabadikankebaikan

#week1day2

#RNB092NubarSumatera

#rumahmediagrup

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan