Blog Umum RNB 3 (Rumedia Nubar Bla Batch 3) Tulisan Wenny Kartika Sari

The Power of Forgiveness (Oleh: Wenny Kartika Sari)

Mendengar kata memaafkan, terutama untuk orang yang sering menyakiti hati kita, seperti suatu hal yang konyol dan tidak masuk akal. Agama apapun pasti mengajarkan demikian. Memahami suatu pernyataan, harus menjalani terlebih dahulu. Pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup ini. Aku mulai terapi Forgiveness tahun 1995. Hal itu aku lakukan karena menyadari seringnya terpancing emosi oleh orang-orang di sekitarku, walaupun sudah ikut retret (pembinaan rohani) dan doa saja tidak cukup.

Aku menyadari bahwa penyebab terpancing emosi adalah luka batin. Perlu penyembuhan luka batin, dengan pembersihan hati, membongkar akar-akar kepahitan selama hidup, dari dalam kandungan sampai sekarang. Tidak mudah untuk bisa memaafkan, tetapi kalau mau berjuang pasti berhasil. Merasakan tidak enaknya emosi yang terpendam, karena aku termasuk orang yang sensitif. Hal ini membuatku bertekad memperbaiki diri dengan menyadari semua orang punya kelebihan dan kekurangan. Meditasi adalah cara terbaik untuk bisa memaafkan. Aku sudah mulai belajar meditasi sejak tahun 2000. Proses memaafkan perlu waktu sangat lama. Ketekunan adalah kunci keberhasilan menjalani segala sesuatu.

Puji Tuhan aku sudah mulai terbiasa dengan memaafkan. Tidak ada hal yang sia-sia kalau ditekuni dengan baik. Dulu mau memaafkan perlu waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan kadang sampai bertahun-tahun.

Hal terdahsyat yang aku alami setelah rutin terapi Forgiveness, tepatnya pada tanggal 8 Agustus 2014. Aku bersama mami yang sudah berumur 70 tahun, tetapi masih sangat sehat, ditabrak motor yang tiba-tiba muncul dengan kecepatan tinggi saat mau menyebrang ke parkiran mobil. Tabrakan itu membuat mami terlempar sampai terbang, terhempas di jalanan, bahkan kepala berlubang dan telinga berdarah-darah di depan mataku.

Aku masih diberi kekuatan walaupun aku sendiri terbentur motor dan besi penutup jalan yang tebal. Aku masih bisa memarahi yang menabrak karena ceroboh sekali. Emosiku sudah sangat jauh berkurang dan tidak histeris apalagi pingsan seperti yang sebelumnya, aku sangat temperamental.

Kejadian di atas, sungguh anugerah luar biasa buatku, karena tidak membabi buta menyerang orang yang sudah membunuh mami karena itu semua bukan suatu kesengajaan, tetapi kecerobohan. Beberapa orang menganggapku sangat tegar dan sabar walaupun saat itu dalam kodisi marah.

Aku merasa masih wajar karena tidak mungkin aku tertawa dalam kondisi seperti itu. Aku bersyukur karena tidak ada keinginan untuk memenjarakan orang itu, walaupun kesempatan itu besar sekali. Buatku, penjara batin lebih berat, aku berpikir kasihan ibunya.

Aku hanya berpesan kepada orang itu, “Lain kali kalau naik motor jangan tergesa-gesa apalagi dengan kecepatan tinggi, mau mengejar waktu seperti apapun percuma, malah kalau ada kejadian seperti itu merugikan diri sendiri dan orang lain.”

Aku selalu tanamkan di balik kejadian yang tidak menyenangkan selalu ada hikmahnya dan rahmat besar.

Benar sekali ternyata, ada satu saudara yang orangnya cukup keras, dengan heran bertanya, “ Bagaimana kamu semudah itu memaafkan orang yang menabrak sampai mami meninggal?”

Aku bilang, “Tidak mudah ya … terapi Forgiveness tidak cukup satu atau dua hari atau minggu atau bulan.”

Perlu waktu sangat lama, makanya harus tekun terapi walaupun memang sulit. Hanya kekuatan Tuhan yang memampukanku hadapi semua. Dengan memaafkan orang itu, tubuhku yang lebam-lebam dan bengkak besar di pinggang sampai celana tidak bisa dikancingkan, pemulihannya sangat cepat.

Saudaraku itu akhirnya mau mengikuti caraku dan mau lebih melunakkan hati. Benar-benar luar biasa terapi Forgiveness yang tanpa terasa sudah puluhan tahun aku jalani.

Dengan terapi itu, dalam menghadapi hal-hal tak menyenangkan otomatis tertanam, “Ada berkat besar di baliknya.” Ya itulah yang terjadi. The Power of Forgiveness sungguh dahsyat merubah hidupku. Semua masalah menjadi mudah. Marilah kita mulai dari sekarang membiasakan diri memaafkan. Hidup menjadi ringan dan sehat.

The Power of Thinking

The Power of Forgiveness

Solo, 6 Oktober 2020

Wenny Kartika Sari

#Nubar

#Nulisbareng

#Level1

#BerkreasiLewatAksara

#menulismengabadikankebaikan

#week1day1

#RNB092NubarSumatera

#rumahmediagrup

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan