Buku Terbit ImaRi's Blog Latihan Menulis Komunitas Penerbitan puisi Tulisan Ribka ImaRi (Owner)

Tertawan pada Keabadian


Oleh: Ribka ImaRi

Semangat pagi Sahabat ImaRi’s!

Apa kabar hari ini? Semoga semua dalam keadaan sehat dan bahagia ya. Aamiin

Dalam rangka Milad NuBar Area Sumatera yang ketiga pada bulan Oktober 2021, Mbak Emmy Herlina selaku Manajer Area NuBar Sumatera mengadakan challenge meresensi buku-buku NuBar Area Sumatera. Walaupun rasanya aku belum pernah meresensi buku, tetapi kali ini aku merasa tertantang untuk ikut berpartisipasi. Pilihanku jatuh pada sebuah buku super ekslusif dari NuBar Area Sumatera.

Waaah buku apakah itu? Silakan lihat covernya di bawah ya. Sssst, sekalian ada pengumuman pemenang challenge ini, loh! So, simak sampai akhir ya, Sahabat!

Sumber foto: dokumentasi pribadi0

Judul buku : Jejak Sajak Abadi
ISBN :978-623-6932-75-9
Penulis : Emmy Herlina, dkk (Tim NuBar Area Sumatera#37)
Penerbit : Rumah Media
Tahun Terbit : 2021
Cetakan Pertama : Mei 2021
Dimensi Buku : 19 cm x 13 cm x 0,7 cm
Tebal Buku : 98 halaman
Jenis Buku : Antologi sajak
Jenis Cover : Soft Cover
Harga buku: : Rp. 60.000,-

Resensi buku ini berjudul, “Tertawan pada Keabadian” karena rasa takjubku pada buku Jejak Sajak Abadi yang isinya tertulis banyak kisah tentang keabadian. Salah satu buku unggul terbitan NuBar Area Sumatera ini merupakan hadiah dari MA Sumatera, yaitu Mbak Emmy Herlina. Buku yang berisi 36 sajak ini berhasil membuat jantungku berdesir ketika pertama kali memeluk dan membacanya secara perlahan-lahan mencerna kata demi kata. Bukan tanpa alasan. Karena aku hanya sebatas pengagum para penulis puisi terutama sajak. Oleh karena ilmu kepenulisanku di genre ini sangat dangkal.  Jadi menikmatinya saja sudah membuatku terbuai makna terdalam dalam setiap untaian sajak abadi.

Antologi ini begitu spesial karena merupakan kumpulan naskah dari 22 penulis luar biasa yang mengabadikan karyanya lewat sajak untuk mengenang wafatnya Sang Pujangga Romantis Indonesia, yakni Prof. Sapardi Djoko Damono. Beliau kerap dipanggil dengan SDD yang merupakan singkatan namanya. Sastrawan ini dikenal melalui berbagai karya puisinya mengenai hal-hal sederhana tetapi penuh makna kehidupan. Tokoh kesusasteraan Indonesia ini berpulang kepangkuan Yang Kuasa pada tanggal 19 Juli 2020. Momen kehilangan ini yang pada akhirnya dijadikan ide menulis antologi oleh PJ (Penanggung Jawab) sekaligus MA Nubar Area Sumatera, Mbak Emmy Herlina untuk mengenang SDD dalam keabadian.

Salah satu kutipan SDD yang terkenal berjudul “Yang Fana adalah Waktu” berikut isinya:

Yang fana adalah waktu. Kita abadi memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa. Tapi, ‘yang fana adalah waktu, bukan?’ tanyamu. Kita abadi.” (m.liputan6.com:2020)

Kabut duka menggelayut ketika jemariku membuka lembar demi lembar sedari halaman pertama. Kemudian lambat-lambat aku membaca kata demi kata. Sebuah keunikan yang membuat hatiku tertawan ketika membaca sajak keabadian pertama yang di tulis oleh penulis yang berbetulan sebagai PJ-nya, pun berbarengan tanggal 19 mengenang wafatnya ayahanda.

Petikan sajak karya Mbak Emmy Herlina yang berjudul, “19 September 2012, Selamat Tinggal”

Kami adalah buah karyanya yang menjadi saksi abadi,” ujar
Anak kelima: aku
Bulan Sembilan, tahun duaribu duabelas, hari kesembilan
Belas
Hari kepulangannya kepada Pemilik Alam Semesta


Meski berbeda profesi, kedua tokoh dalam hidup penulis sama-sama meninggalkan karya abadi. Bapak SDD meninggalkan karya puisi, bapak penulis meninggalkan lima anak. Aku tersentak menyadarinya. Ya … aku pun adalah karya abadi mendiang ibuku yang meninggal 16 Juni 2021. Kupikir, tak ada yang abadi di dunia fana ini. Nyatanya anak adalah karya abadi dari orangtua kita.

Kemudian beruntun Jejak Sajak Abadi lainnya yang tak kalah memesona ketika membaca akhir sajak Mbak Lita Fuss,

Ternyata hanya doa-doaku yang abadi
Karena Dia tidak pernah ingkar janji
Terbaik untukku pada suatu hari

Semakin terpesona ketika merasuk lebih dalam lagi pada halaman 56 buku, kutemui karya peraih sajak terbaik, Mas Chandra Musliminnata dengan petikan sajak seperti ini,

Harta takkan berarti
Kuasa tak akan kekal

Kata-kata
Hanya ia yang abadi
Bersemayam dalam benak

Antologi sajak ini terasa menjadi lebih abadi karena ditutup dengan sajak karya Bapak Ilham Alfafa yang merupakan founder Rumah Media, membuat buku ini semakin spesial. Beliau adalah tokoh yang kukenal menginspirasi di bidang puisi. Dalam buku antologi ini beliau menulis sajak abadi dengan judul “Bukan Untukmu dan Untukku.” Berikut ini petikan sajaknya,

Abadi bukan hanya untukmu dan untukku
Tapi untuk karya yang harus kita toreh
Demi kemajuan bangsa dan bahasa

Sungguh, dalam setiap untaian kata penuh makna dalam buku Jejak Sajak Abadi membuat perasaanku menghangat dan merasakan jatuh cinta pada sajak. Cinta yang abadi dalam kata penuh makna.

Meskipun berisi 36 sajak, buku antologi ini termasuk sangat tipis. Mungkin karena ini ciri khas buku puisi. Sebab berdasarkan contoh resensi yang kubaca di internet memberi informasi ada beberapa buku puisi di bawah 100 halaman. Kendati demikian, jumlah halaman tak mengurangi esensi dari buku antologi sajak ini.


Secara keseluruhan buku antologi ini sukses memberiku pelajaran sarat makna tentang keabadian. Untuk Sahabat Imari’s yang penasaran dengan isi keseluruhan buku ini, berikut ini daftar isi buku Jejak Sajak Abadi yang akan membuat kita semakin kagum pada keabadian:


19 September 2012, Selamat Tinggal (Emmy Herlina)
Antara Kenangan, Momen dan Perasaan (Emmy Herlina)
Abadi? Ternyata Sepi (Emmy Herlina)
Doa Abadi oleh (Lita Fuss)
Meniti Keabadian (Lita Fuss)
Bapak Sapardi Djoko Damono (Mutimatun Diniyah)
Ciptaan Keabadian (Munimatun Diniyah)
Pertanyaan Keabadian (Hardianti)
Kau dan Aku di Keabadian (Hardianti)
Keabadian (Juniawati)
Kasih Kita adalah Abadi-Nya (Juniawati)
Kenangan (Leni Chan)
Selamat Jalan Eyang SDD (Neti Soelistyani)
Biru (Liz Elsyahla)
Lengkara (Liz Elsyahla)
Jejak Nirwana (Audy Ramadhani)
Duka (Widya Dwi Septorini)
Abadi Dalam Kerinduan (Euis Trena Gumilar)kkk
Aku di Sini, Kamu Entahlah (Iyus Ruchdiana)
Atara Kisah dan Waktu (Iyus Ruchdiana)
Sajak Rindu kepada SDD (Ida Saidah)
Waktu Kan Selalu Ada (Ida Saidah)
Kata, Abadi (Chandra Musliminnata)
Tersesat (Chandra Musliminnata)
Antara Amal dan Tulisan (Neneng HS)
Apakah yang Abadi di Dunia (Nofita Sari Astanu)
Yang Abadi adalah Perubahan (Nofita Sari Astanu)
Sepucuk Rindu (Nurhayati Afh)
Jembatan Kita (Nurhayati Afh)
Segala Tentangmu (Nun Kappaeta)
Masa Lalu (Nun Kappaeta)
Sukai yang Kamu Miliki (Wiznu Aldian)
Perjalanan (Iyon Sg)
Dia yang Tak (Pernah) Ada (Villia Rangkoto)
Bejana (Villia Rangkoto)
Bukan Untukmu dan Untukku (Ilham Alfafa)

Bagi yang ingin memiliki buku antologi sajak terbaik ini bisa langsung menghubungi PJ sekaligus MA ketjeh Mbak Emmy Herlina yang akan terhubung ke nomor whatsapp-nya. Hanya dengan uang sebesar RP. 60. 000,- Sahabat bisa segera memeluk buku terbaik, Jejak Sajak Abadi dan nikmati rasa tertawan pada keabadian.

Daftar Pustaka:

Prasasti, Giovani Dio, 2020. Yang fana adalah waktu, Sapardi Djoko Damono Abadi. https://www.google.co.id/amp/s/m.liputan6.com/amp/4309253/yang-fana-adalah-waktu-sapardi-djoko-damono-abadi. Diakses 30 September 2021.

Sokaraja, 30 September 2021

***

Alhamdulillah resensiku ini akhirnya dipilih menjadi satu resensi terbaik. Sehingga menjadi pemenang yang berhak mendapat minigold 0,05 gram. Terima kasih Mbak Emmy Herlina atas penilaiannya yang juga dibantu oleh Mbak Melani Dewi. Terima kasih Pak Ilham, Rumedia dan NuBar Area Sumatera. Barakallah untuk semua. Selamat ulang tahun yang ketiga untuk NuBar Area Sumatera. Semoga resensi ini bisa bermanfaat bagi para pambacanya dan bikin penasaran ingin membeli buku super keren ini. Aamiin.

Di bawah ini bukti screen shoot pengumuman dan penilaiannya.

Sumber foto: screen shoot dari website ParaPecintaLiterasi

-Ribka ImaRi-

Diperbaharui 8 Oktober 2021


❤️Penulis 40 buku Antologi sejak Januari 2019 (Sebanyak 31 antologi sudah terbit, 22 dari Penerbit Rumedia, 8 dari Wonderland Publisher dan 1 dari Aksana Publisher)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/Desember 2019-Sekarang)
❤️Mentor Kelas The Power of Sounding (TPS/2020-Sekarang)
❤️Mentor Kelas Healing Anak oleh Ibu (HAI/2020-Sekarang)
❤️Mentor Kelas Be Mindfulness Wife (BMW/Mei 2021-Sekarang)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (Desember 2019-sekarang)
❤️Owner website binaan Rumah Media: ImaRi’s Corner Parenting (April 2020-sekarang)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

8 Komentar

  1. Membaca petikan-petikan sajaknya, maknanya begitu dalam ya, Mbak. Sebagai orang yang menyukai sajak tapi beneran nggak sanggup kalau harus menulis sajak, harus aku akui kalau petikannya saja sudah sanggup membuat hati meleleh. Apalagi kalau membaca lengkap keseluruhannya, ya?

    Btw, selamaaaat ya sudah menjadi pemenang.

  2. Anonim menulis:

    Wah bagus sekali bukunya mbak. Saya masih belum bisa kalau buat sajak, susah cari diksinya, huhuhu. Tapi saya suka baca sajak atau puisi, suka dengan kalimat2 bijak dan menyentuhnya. Sukses buat antologi sajaknya, dan selamat atas terpilihnya mbak Ribka jadi pemenang .

  3. Anonim menulis:

    Saya sering kagum dan salut pada para penulis puisi. Jujur saja saya paling tidak bisa menulis puisi. Pernah menulis beberapa puisi, tapi saat dibaca kok rasanya masih jauuh dari puisi-puisi berkualitas. Dari resensi di atas terbaca isi buku tersebut bisa dipastikan puisinya bagus-bagus sekali. Semoga makin sukses untuk para penulis puisi di buku itu.

  4. Saya terhanyut baca petikan petikan sajaknya mba. Luar biasa memang talenta perangkai kata ini. Selalu suka dengan makna yang tersirat di dalam sebuah kata. Dan sepertinya buku ini benar2 penuh dengan makna keabadian sepanjang masa. Thanks buat resensinya mba. Dan selamat ya utk kemenangannya juga.

  5. Pengetahuan saya tentang puisi pun dangkal, Mbak. Suka merasa kagum dengan mereka yang bisa menulis puisi dengan rangkaian kata-kata yang manis dan bermakna.
    Bagi saya tidak mudah untuk membuat sebuah puisi.

  6. wow! baca sekilas petikan sajak-sajak di atas aku langsung terhanyut mbaa.. aku ini penyuka puisi yang mendayu-dayu seperti ini. rasanya meleleh dan hangat di hati. apalagi puisi-puisinya SDD.. laff banget. Btw selamat ya jadi pemenang!

  7. menulis:

    Petikan-petikan sajaknya membuatku merinding mbak. Bagus banget dan sungguh membuat hatiku terhanyut membacanya.
    Termasuk membaca tulisan ini. Maka pantaslah dipilih sebagai penulis resensi terbaik, sebab tulisannya memang bagus.

  8. masyaallah… saya merinding bacanya, pemilihan katanya sungguh indah dan sangat bermakna. Saya suka baca buku puisi tapi kurang pandai menuliskannya, hehehe. Dulu pas SMA suka banget koleksi petikan sajak Kahlil Gibran yang cinta-cinta gitu, hehe

Tinggalkan Balasan