Depresi Hari-Hari Bersama Duo ImaRi Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Tema Bebas Kategori Segar Writing Challenge Rumedia (WCR)

Temukan Selalu Semangat Pagimu, Ibu!

Oleh: Ribka ImaRi

Semangat pagi Sahabat ImaRi’s😍

Akhir-akhir ini aku selalu menyapa dengan kata semangat pagi. Tak lain dan tak bukan hanya demi menyemangati diri sendiri. Sekaligus menyemangati banyak ibu hebat yang tergabung di kelas parenting online-ku atau group support di aplikasi WhatsApp sedang berjuang menerima keadaan setiap harinya. Apapun keadaannya. Terlebih di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

Rasanya aku sering sekali menulis tentang SEMANGAT. Bukan berarti aku selalu semangat setiap harinya. Namun karena aku pun sering terseok-seok menyemangati diri sendiri. Ya, aku percaya pasti ada banyak ibu yang mengalami hal yang sama denganku yaitu patah semangat ketika menyambut hari. Apalagi hari Senin dan telanjur menancap iklan dengan tagline, “I hate Monday itu sudah biasa, but I love Monday baru luar biasa!”

Nah, kita mau pilih yang mana?

Kalau aku mau pilih yang LUAR BIASA!

Meski jalan yang kutempuh sangat tak mudah saat memilih menjadi luar biasa. Aku harus berjuang melawan EGO diri sendiri. Apalagi dulu, sewaktu masih depresi dan masih LDM (Long Distance Marriage) aku sering berantem saat berpisah dengan suami ketika ia kembali ke kotanya di hari Minggu. Dunia seakan runtuh membuatku oleng dan tak ada semangat sama sekali di hari Seninnya.

Lalu, apa yang akhirnya membuatku, seorang ibu, akhirnya bersemangat kembali untuk bangun pagi dan mengerjakan semua pekerjaan rumah meskipun sedang hari libur? Seperti saat tulisan ini diunggah, suasananya sedang hari libur Lebaran di tanggal 27 Mei 2020.

Namun, ketika tulisan ini aku perbaharui, sekarang adalah hari Senin tanggal 2 November 2020. Di mana kemarin badanku terasa sakit semua karena Sabtu malam Minggu aku tidur larut malam. Terkadang hal ini membuatku berpikir untuk bermalas-malasan mengerjakan semua.

Seperti biasanya, lagi-lagi HANYA DIRIKU YANG MEMAHAMI DIRIKU SENDIRI. Aku terima (ACCEPTANCE) rasa malasku, “AKU TERIMA RASA MALASKU. TAPI AKU HARUS SEMANGAT BERJUANG DEMI MENGURUS KEDUA ANAKKU YANG BUTUH SARAPAN SEHAT.”

Kurang lebih sama seperti peristiwa lima bulan lalu. Yang sampai pagi ini pun aku tetap berjuang memotivasi diri sendiri saat tak ada seorang pun yang bisa memotivasiku termasuk suami sekali pun.

***

Pagi tadi, seperti biasa, mataku otomatis terbangun jam tiga pagi. Karena memang terbiasa bangun jam segitu juga walaupun bukan bulan puasa untuk memasak sahur. Alarm HP malah berbunyi jam empat pagi sewaktu nasi sudah matang😀

Semalam hujan turun dengan derasnya di Purwokerto dan sekitarnya. Termasuk rumahku di Sokaraja yang kebetulan hanya berjarak 500 m berbatasan dengan Purwokerto. Lalu pikiran negatif berkelebat, “Kalau tidur lagi aja, kayaknya enak nih. Tarik selimut. Lalu pelukan sama suami.”

Kemudian pikiran positif berkelebat, “Lanjut masak aja. Kalau tidur lagi, nanti keteteran bikin sarapan loh. Kasian anak kalau keburu lapar.”

Hmmm … beberapa saat pikiran negatif dan positif bolak balik bergejolak membuat aku bingung mengambil keputusan. Akibat sedari kecil tidak dibiasakan mengambil keputusan sendiri, hal sepele seperti ini saja membuatku plin plan. Hehe. Memang sih terkesan sangat sepele, tetapi menentukan masa depan pagi ini. Kalau semua urusan dapur bisa beres selagi pagi, aku bisa menyelesaikan pekerjaan lainnya terutama menemani suami dan kedua anakku.

Dorongan kuat untuk tidur lagi terasa membuncah. Namun teringat senyum sumringah manakala Tyaga dan Jehan lahap memakan masakanku. Ingatan ini lebih kuat dorongannya ketimbang memilih tidur kembali.

Akan tetapi keinginan tidur lagi pun semakin kuat ketika rintik hujan menderas di saat cucian piring sudah selesai bersih semua.

Kedua keinginan berkelebat kuat antara memilih kembali tidur atau melanjutkan menggoreng ayam kriuk dan menumis kangkung. Yang semuanya itu menu favorit Tyaga. Kalau sudah makan ini, jadi lahap luar biasa.

Kelebat lahapnya Tyaga membuatku termotivasi (semangat) memilih melanjutkan memasak saja.

Seketika itu juga langsung kuputuskan untuk mengikuti pikiran positif. Aku segera melakukan SELF TALK (bicara pada diri sendiri dalam hati) dengan panjang dan lebar untuk ACCEPTANCE & AFIRMASI POSITIF (penegasan keyakinan).

OKE! AKU TERIMA AKU SEDANG TAK ENAK BADAN JADI BERMALAS-MALASAN. TAPI DEMI ANAK, AKU PILIH LANJUT MASAK. BIAR CEPAT MATANG SEMUA. BUAT JAGA-JAGA KALAU TYAGA JEHAN BANGUN PAGI. BISMILLAH TETAP BISA RAJIN DEMI KESEHATAN SEKELUARGA. LAKUKAN DULU TUGASKU. BONUSNYA BIAR MENJADI URUSAN TUHAN. YANG PASTI, BONUSNYA SUDAH TERLIHAT SELAMA 2,5 BULAN INI SUAMI DAN ANAK-ANAK TERBUKTI LEBIH SEHAT SEJAK AKU SELALU MASAK SENDIRI. KARENA SETELAH SERUAN STAY AT HOME OLEH GUBERNUR JATENG PADA TANGGAL 15 MARET LALU, AKU BENAR-BENAR SELALU MASAK SENDIRI SEGALA MAKANAN UTAMA DAN CEMILAN. PADAHAL BIASA HASRAT INGIN JAJAN MEMBUNCAH SAAT LIBUR SEPERTI INI. SEKARANG TIDAK LAGI BERANI JAJAN DEMI MENJAGA DIRI TERHINDAR DARI PENYEBARAN VIRUS CORONA. KARENA MEMAKAN MASAKAN RUMAHAN LEBIH TERJAMIN BERSIH DAN SEHATNYA.

Ya, ternyata kebahagiaan dan kesehatan anak dan suami lah yang selalu membuatku selalu saja semangat dan semangat lagi bahkan membara untuk bangun pagi meski cuaca mendukung untuk bangun agak siangan.

Ssstt, sahabat ImaRi’s tahu tidak bonusnya apa tadi?

Jam lima pagi tadi, Tyaga anak pertamaku yang berusia delapan tahun, bangun sendiri tanpa dibangunkan sama sekali. Lalu langsung salat Subuh tanpa disuruh-suruh. Kemudian jam enam langsung pamit mandi tanpa diminta sama sekali. Benar-benar bersyukur karena tadi aku memilih lanjut masak. Jadi jam 6.30 Tyaga bisa langsung sarapan. Sarapan sehat ayam kriuk dan tumis kangkung favorit Tyaga.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Tyaga makan lahap habis dalam sekejap. Alhamdulillah bonus semua keadaan seperti ini yang selalu diluar dugaan tetapi selalu menambah keyakinanku untuk selalu menjadi ibu yang rajin. Karena setiap kali aku rajin, selalu ada-ada saja bonus dari Allah. Alhamdulillah.

Anak juga tetap menjadi semangatku disaat sedang kesal dan pernah dendam dengan suami atau siapapun yang pernah memicu depresi. Aku yang biasanya kalau lagi mengambek jadi malas masak, tetapi saat teringat anak bikin tidak tega kalau sampai membuat Tyaga Jehan menderita karena kelaparan. Aku tidak ingin keduanya mengalami hal yang sama sepertiku sewaktu kecil yaitu memohon-mohon minta makan saking kelaparan. Namun tak ada satu pun yang bisa dimakan karena dulu kami dalam keadaan yang memang di bawah garis kemiskinan. Di sinilah aku selalu menemukan semangatku untuk tetap memasak kapan pun meskipun apa pun terjadi.

Pernah pula, suami dan anak justru pernah membuatku malas beraktivitas di pagi hari akibat aku mengambek semalaman. Di sini aku berjuang keras MENGASIHI DIRI SENDIRI, “Kasian kalau aku nggak MENYAYANGI DIRIKU SENDIRI. AKU MENYAYANGIMU DIRIKU. Karena aku sayang padamu, aku mau berjuang sehat. Karena aku menyayangi suami dan anak, aku mau berjuang semangat mengurus mereka apapun terjadi.”

Jadi, aku menemukan DIRIKU, ANAKKU, lalu SUAMIKU sebagai alasan aku bersemangat lagi saat (dulu) rasa terpuruk hadir tak jelas di pagi buta. Rasa malas dan patah semangat itu kulawan dengan BISMILLAH, ACCEPTANCE dan AFIRMASI.

Yuk, temukan hal yang membuatmu selalu semangat, ibu! Satu hal saja. Hal yang membuatmu selalu semangat memulai hari dan menjalaninya seharian penuh. Jadi saat terpuruk dan menjadi malas untuk melakukan apapun, masih ada sisa kekuatan yang mampu membangkitkan semangatmu!

Salam semangat sehat jiwa raga selalu💪

Lakukan dengan SKST Semangat, Konsisten, Sabar, Telaten). Hasilnya serahkan kepada Tuhan.

Sokaraja, 2 November 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 28 buku Antologi (Selama Januari 2019-Juli 2020 sebanyak 16 antologi sudah terbit dan 11 antologi menulis di Rumedia)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/2019-202p)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan