Hari-Hari Bersama Duo ImaRi Parenting Tips dan Trik Mengasuh Anak

Tantrum Manipulatif

Oleh: Ribka ImaRi

Ini merupakan foto Jehan yang diambil sekitar bulan Oktober 2017. Berarti saat itu Jehan baru berusia 3 tahun 2 bulan. Sambil memegang stoples sosis instan, ia menangis di dalam sebuah toko. Karena meminta dibelikan makanan yang tidak boleh dimakannya dalam jumlah banyak.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Aturannya Bunda, “Boleh makan sosis instan hanya satu buah dan satu kali saja dalam sebulan. Itu pun kalau ingat meminta. Kalau Tyaga atau Jehan tidak memintanya, Bunda tidak akan menawari apalagi membelikannya.”

Nah, kali itu Jehan memintanya setelah membeli susu UHT di toko lain sebelumnya. Jadi Bunda katakan “kita tidak akan membeli jajanan lagi. Kita ke sini karena Bunda mencari kebutuhan lain.” Bunda mengatakan dengan lembut dan tegas, tetapi Jehan malah menangis berderai-derai seperti di foto.

Jehan adalah putri keduaku. Sebenarnya, segala perlakuan, cara didik dan pola asuh yang aku dan suami terapkan padanya adalah sama. Tak ada bedanya dengan Tyaga, anak pertamaku.

Namun, entah mengapa proses mengiring fase tantrum Jehan di tempat umum menjadi lebih lama rentang waktunya. Dibandingkan rentang waktu kakaknya. Berbeda dengan mas Tyaga, terakhir kali tantrum minta beli sesuatu di sebuah pusat perbelanjaan itu ketika berusia 4 tahun 10 bulan. Itu pun dalam bentuk tantrum yang termasuk tenang. Hanya menangis berderai-derai saja dalam pelukanku.

Sementara pada Jehan, aku harus melalui beberapa kali kejadian luar biasa seperti pada foto di bawah ini. Jehan tantrum di depan alfamar* hanya karena meminta dibelikan coklat cok*-cok* yang sedang tidak aku bolehkan karena Jehan sedang batuk kala itu di usianya yang baru 3 tahun 7 bulan.

Sumber foto: dokumentasi pribadi.

Aku berjuang mengendalikan emosiku demi Jehan bisa belajar mengendalikan emosinya. Benar-benar berjuang untuk lebih SKST (Semangat, Konsisten, Sabar, Telaten) dibanding saat menghadapi fase tantrum kakaknya, Tyaga.

1. Semangat untuk lebih sering memberi tahu Jehan tentang aturan membeli jajan dengan cara sounding tentang rencana belanja kami sebelum berangkat ke toko.

Baca juga Inilah 10 Tips dan Trik Sounding Bikin Anak Mudah Mengerti Tanpa Membuat Orangtua Emosi

2. Konsisten, sekali tidak, tetap tidak, agar Jehan memahami aturan kesepakatan bersama.

3. Sabar menemani Jehan tantrum sampai usai, tidak memaksanya berhenti menangis atau mengancam meninggalkannya, hanya demi Jehan berhenti menangis. Akan tetapi memberinya kesempatan menyelesaikan tangisnya agar tidak menjadi emosi negatif terpendam yang tidak baik untuk kenangan masa kecilnya (inner child).

4. Telaten, bersungguh-sungguh mengiring fase tantrum Jehan agar ia bisa belajar mengendalikan emosinya baik di rumah maupun di tempat umum.

Tanpa bermaksud membandingkan, tetapi hanya mencari penyebabnya untuk perbaikan pola asuh. Mungkin karena Jehan adalah anak perempuan. Fitrahnya naluri anak perempuan adalah senang belanja. Jadi aku melihatnya, Jehan lebih senang minta jajan ketimbang mas Tyaga.

Lagi pula memang ritme hidup dan lingkungan Jehan yang berbeda 180° dengan Tyaga dulu. Sekarang Jehan memang sering mengikutiku belanja sayuran. Hal ini yang membuat Jehan lebih sering terpapar jajanan. Untuk itu butuh upaya yang lebih besar lagi untuk menangani fase tantrumnya Jehan, terutama konsistennya. Untuk sekali mengatakan tidak, ya tetap tidak.

Tantrum pada anak umumnya terjadi pada usia 1 tahun hingga anak menjelang usia 5 tahun. Menurut Vera, puncak tantrum berada pada usia 1 – 3 tahun.

“Pasalnya, pada usia tersebut anak belum memiliki kemampuan yang baik untuk menyampaikan apa yang ia rasakan. Ia belum mahir berbahasa karena masih dalam tahap perkembangan,” pungkasnya. Inilah yang kerap membuat para orangtua kebingungan. (Itabiliana K. Hadiwidjojo, Psi, Vera. 2015. Usia Berapa Anak Akan Berhenti Tantrum? nova.grid.id. https://nova.grid.id/amp/05643342/usia-berapa-anak-akan-berhenti-tantrum?page=all. Diakses 15 Oktober 2019).

Maryana selaku Psikolog Rumah Sakit Awal Bros Batam menjelaskan bahwa tantrum ini bukanlah suatu penyakit namun sebuah gangguan yang memerlukan penanganan khusus, misalnya saja dengan menerapkan pola asuh yang sesuai.

“Tantrum adalah ledakan emosi dan kemarahan yang tidak terkendali pada anak-anak. Biasanya tantrum terjadi pada usia 1,5 – 2 tahun dan sebaiknya sudah hilang pada usia 4-5 tahun,”terangnya. (Maryana. (tidak tercantum tahun di artikel sumber). Atasi Tantrum Pada Anak. Awalbros.com. http://awalbros.com/kejiwaan/atasi-tantrum-pada-anak/. Diakses 15 Oktober 2019).

Tantrum pada anak merupakan hal yang biasa terjadi. Hal ini bisa dijadikan sebagai pengukur dari kekuatan pengembangan karakter pada anak. Anak jadi belajar mengendalikan emosi.

Hal di atas amasih yang aku lakukan kepada Jehan yang tantrum di usia 5 tahun, 1 bulan dan 21 hari. Usianya sudah lebih besar dari Tyaga dulu terakhir tantrum di tempat umum. Ketika itu Jehan melempar jilbabnya dan bergelesot di lantai teras kios sayur. Akhirnya, jilbab dan celananya yang berwarna putih jadi kecoklatan di beberapa area celana.

Sebenarnya, ada cara singkat untuk mengatasi tantrum Jehan di hari itu yang sudah berusia, yaitu dengan memberi permen sesuai permintaannya. Namun jika permen itu aku berikan sesuai permintaannya, akan menjadi kebiasaan yang tidak baik. Karena ia akan melakukan hal itu lagi dan lagi. Lalu seterusnya menjadi kebiasaan.

Jadi terbiasa meminta dengan cara memaksa dan menggunakan tangisan. Berharap bundanya akan luluh memberinya permen akibat malu melihat Jehan menangis meminta permen di kios sayur di dekat rumah.

“Maaf Mbah … Jehan tidak makan permen. Mohon maaf … bukannya menolak pemberian. Tapi supaya Jehan tahu kalau makan permen tidak bisa setiap waktu yang ia mau. Hanya boleh makan permen 1 buah saja setiap kali Lebaran.” kataku panjang lebar dengan maksud memberi tahu alasan penolakan kepada Mbah Darkem, pemilik kios sayur tempat aku belanja sayuran hari itu.

“Kasihanlah, Mbak … kasih saja daripada nangis.” jawab Mbah Darkem iba pada Jehan.

“Tidak apa-apa Mbah. Memang seperti ini aturannya. Sebenarnya Jehan sudah tahu. Tapi ini lagi mencoba aturan Bunda. Masih sama atau tidak. Mohon maaf sekali ya, Mbah … ini saya kembalikan permennya. Terima kasih, Mbah.” Demikian jawabku berusaha tetap santun. Meski menolak pemberian permen berbentuk kaki yang menggugah selera Jehan. Demi memberi pelajaran disiplin dan konsisten kepada Jehan.

Bilamana sang anak sudah melewati usia 5 tahun tapi masih tantrum itu terjadi karena orang tua tidak memberikan disiplin. Atasi tantrum pada anak ini bisa dengan melakukan komunikasi yang baik pada anak dengan mencari tahu apa yang membuatnya seperti itu.
(Maryana. (tidak tercantum tahun di artikel sumber). Atasi Tantrum Pada Anak. Awalbros.com. http://awalbros.com/kejiwaan/atasi-tantrum-pada-anak/. Diakses 15 Oktober 2019.

Untuk itu diperlukan trik guna mengatasi tantrumnya Jehan yang berjenis manipulatif ini. Karena Jehan saat minta sesuatu. Dalam hal ini sangat dibutuhkan ketegasan dan konsistensiku sebagai bundanya. Aku harus berjuang mengendalikan permintaan Jehan

Biasanya, tantrum manipulatif akan muncul jika keinginan anak tidak dipenuhi. Dengan kata lain, tantrum manipulatif adalah salah satu tindakan yang dilakukan oleh anak-anak ketika keinginannya tidak terpenuhi dengan baik.

Ini adalah tantrum yang dibuat-buat oleh anak-anak untuk membuat orang lain memenuhi keinginannya. Perlu diingat, tantrum manipulatif tidak terjadi pada semua anak. Kebanyakan tantrum manipulatif muncul akibat adanya penolakan. Jadi anak mencari cara menolak/meminta dengan menangis. Berharap tangisnya bisa menjadi senjata meluluhkan hati orangtuanya.

Banyak hal yang bisa ibu lakukan untuk menghentikan anak dari kondisi tantrum. Tenangkan diri sendiri lebih dulu baru bisa membuat anak menjadi anteng. Tetap teguh pada pendirian. Tidak terpancing oleh tangis anak. Sekali bilang tidak, tetaplah tidak. Jadi belajar untuk tegas dan konsisten.

Kemarin, yang pertama aku lakukan adalah PAUSING, dengan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskanmya. Aku lakukan berkali-kali sampai sedikit lega. Lalu aku ACCEPTANCE (MENERIMA) tantrum Jehan saat itu, dengan menggendong Jehan sesaat. Tak sampai lima menit. Agar tidak berlama-lama menggelesot di lantai. Supaya baju dan celananya tidak semakin kotor. Dengan masih di dalam gendonganku, aku ajak duduk sambil dipeluk di pangkuan sampai tenang.

Kemudian aku elus-elus rambut, punggung dan bisikkan kata, “Bunda sayang banget sama Dede. Dede yang baik ya sayang. Tolong kerjasama ya, Nak? Maafin Bunda ya nggak izinkan Dede makan permen. Karena saking sayangnya sama Dede. Terutama gigi Dede. Supaya giginya bisa tetap bagus sampai besar nanti berganti gigi permanen.”

Secara terus menerus aku elus-elus punggung Jehan sampai ia merasa lega dan mereda tantrumnya. Hingga akhirnya ia bisa tersenyum dan kami pulang dengan plong.

Tak lupa aku mengucap terimakasih lagi kepada Mbah Darkem. Terutama terima kasih karena tidak mengintervensi menangani tantrum Jehan. Alhamdulillah.

-Ribka ImaRi-
Sokaraja, 15 Oktober 2019.

Daftar Pustaka
Itabiliana K. Hadiwidjojo, Psi, Vera. 2015. Usia Berapa Anak Akan Berhenti Tantrum? nova.grid.id. https://nova.grid.id/amp/05643342/usia-berapa-anak-akan-berhenti-tantrum?page=all. Diakses 15 Oktober 2019.

Maryana. (tidak tercantum tahun di artikel sumber). Atasi Tantrum Pada Anak. Awalbros.com. http://awalbros.com/kejiwaan/atasi-tantrum-pada-anak/. Diakses 15 Oktober 2019.

#Nubar
#NulisBareng
#Level4
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week3
#day2
#SelasaTemaBebas
#RNB33
#rumahmediagrup
rumahmediagroup/ribkaimari

Sokaraja, 30 Juni 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 21 buku Antologi
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan