Curahan Hati Kisah Hikmah Latihan Menulis Komunitas Motivasi dan Inspirasi Parenting

Tanggal Tua, Suami Mengajak Berbelanja, Kok di Dalam Hatiku Tidak Bahagia ya?

Tanggal Tua, Suami Mengajak Berbelanja, Kok di Dalam Hatiku Tidak Bahagia ya?

Oleh: Ribka ImaRi

“Bun, kita ke Mataha*i, Yuk! Cari celana pergi buat Mas dan Dede. Bunda jadi cari sepatu?”ajak suamiku di sore hari, di bulan Juli lalu.

“Memang uang kita masih cukup sampai gajian nanti, Yah?” tanyaku khawatir.

“Alhamdulillah cukup kok, dua hari lagi kan, gajian.” Suamiku menjawab dengan yakin.

“Oh … ya udah.” Nada suaraku pasrah dan tetap tidak antusias.

Padahal, istri di belahan dunia mana pun, rasanya akan berbahagia jika diajak berbelanja oleh suaminya. Apalagi berbelanja baju seperti yang terlihat pada fotoku. Foto yang diambil sekitar 9 bulan lalu oleh suamiku saat kami sedang berbelanja di pusat perbelanjaan dengan nama bintang yang menjadi pusat tata surya.

Lagi pula barang-barang di sana memang mempunyai kualitas menengah dengan harga yang cukup lumayan merogoh kocek. Setidaknya begitu kenyataannya bagiku. Ditambah, sedari sebelum menikah tahun 2010, suamiku selalu mempercayakan ATM-nya kepadaku untuk membayar barang belanjaan. Berapa pun nominalnya, ia tidak pernah memprotesnya.

Sudah seharusnya aku berbahagia bahkan bersyukur. Kemudian, sebagai rasa terima kasihku kepada suami, aku tersenyum bahagia ketika suami mengabadikan momen aku berbelanja. Sampai-sampai kasirnya ikut melirik di foto. Hehe.

Eh, tapi … entah mengapa ada terselip rasa sedih dalam hatiku ya? Bertahun-tahun menjadi istri dari suami yang sangat bertanggung jawab memberi nafkah lahir, aku tetap sulit bahagia sepenuhnya. Ini yang membuatku tersadar bahwa memang benar aku ini bipolar. Karena padaku ada dua kutub emosi bahagia dan sedih bisa muncul di saat yang bersamaan.

Jujur, sebenarnya aku sangat berbahagia diajak berbelanja oleh suami. Namun, di saat yang bersamaan pula, aku tiba-tiba bersedih mendalam. Karena tiba-tiba teringat mamaku yang selama seumur hidup pernikahannya sejak tahun 1977, berarti 40 tahun lebih, setahuku, belum pernah satu kali pun pergi berbelanja berdua saja. Bahkan untuk sekadar belanja kebutuhan pokok apalagi sampai diajak berbelanja barang sekunder seperti beli baju atau sepatu.

Aku dulu bingung dengan perasaan dihatiku. Lagi senang-senang, kok tiba-tiba sedih. Sampai akhirnya, aku mengenal Mindfulness Parenting di akhir tahun 2016, setelah aku menikah selama 6 tahun. Dari sinilah aku mengenal definisi baru, yaitu distress empati. Adalah bentuk empati yang justru membuat stres karena ada penyebab kejadian di masa lalu. Ditambah lagi hasil pemeriksaan psikiater, dr. Wiharto di RS. Geriatri, Purwokerto, aku diberi obat untuk bipolar guna menstabilkan mood swing-ku dari yang semula sedang berbahagia tetapi bisa tiba-tiba bersedih.

Gangguan bipolar merupakan kondisi kejiwaan yang membuat penderitanya mengalami perubahan emosi yang drastis, dari mania (sangat senang) menjadi depresif (sangat terpuruk), atau pun sebaliknya. Sebelum terjadi perubahan dari satu emosi ke emosi lain, biasanya terdapat fase dimana suasana hati atau emosi pasien normal. Namun pada kasus tertentu, perubahan emosi juga dapat terjadi tanpa adanya fase normal. Tiap emosi atau gejala, baik mania mau pun depresi, dapat berlangsung selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. (dr. Tjin Willy. 2018. https://www.alodokter.com/gangguan-bipolar/gejala).

Ternyata, sedari awal menikah, hal di atas lah yang menjadi penyebab aku sulit berbahagia menerima keadaan dinafkahi secara finansial oleh suami yang bertanggung jawab. Karena memang sedari kecil aku belum pernah menyaksikan momen membahagiakan berbelanja bersama antara suami dan istri dalam hal ini bapak dan mama. Justru kalau mama membeli baju sendiri dari hasil jerih lelahnya, bapak marah-marah tidak jelas. Seperti memusuhi mama.

Bukan … bukan karena aku ini kurang bersyukur, tetapi karena memang otak bawah sadar masa kecilku, sama sekali belum pernah merekam arti bahagia seorang istri diajak berbelanja oleh suaminya yang tergambar dari orangtuaku. Jadi arti bahagia bagi jiwaku itu masih abstrak.

Setelah belajar mindfulness parenting selama 3,5 tahun dan terus menerus berproses mengasuh jiwa masa kecilku yang tiba-tiba bersedih saat berada di depan meja kasir karena teringat mamaku belum pernah sama sekali merasakan momen berbahagia seperti yang aku rasakan.

Akhirnya, aku sudah bisa mengasuh jiwaku agar mempunyai kesadaran penuh untuk berbahagia “di sini dan sekarang.” bersama suamiku. Bukan melulu memikirkan masa lalu yang bersedih menyaksikan kehidupan rumah tangga orangtuaku yang disfungsional. Karena sosok suami (bapakku) tidak berfungsi tanggungjawabnya yang seharusnya.

Yes! Alhamdulillah sekarang aku benar-benar sudah bisa menampilkan ekspresi senyum di wajah tanpa berpura-pura karena dalam hati bersedih. Hal ini yang pada akhirnya membuat mood-ku bisa stabil. Tidak lagi mood swing seperti dulu. Akhirnya, berkat pertolongan Allah, melalui hal sepele seperti ini, aku belajar mengendalikan depresi dan bipolarku. Demi bisa menjadi ibu yang normal mood-nya.

-Ribka ImaRi-

Sokaraja, 27 Februari 2020

Curahan hati dari ibu pejuang depresi dan bipolar yang semakin hari, minggu bulan dan tahun semakin membaik.

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan