Hari-Hari Bersama Duo ImaRi ImaRi's Blog Inner Child Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Tema Bebas Kategori Tetap Writing Challenge Rumedia (WCR)

Suratku Untuk Bapak dan Mama

Oleh: Ribka ImaRi

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Bapak dan mamaku tersayang,

Akhirnya Nok bisa sebenar-benarnya memaafkan Bapak dan Mama dengan mengatakan, “Nok sayang Bapak dan Mama,” dari lubuk hati Nok yang paling dalam. Tanpa syarat apapun lagi. Tanpa menyalahkan apalagi mengungkit-ungkit lagi semua luka batin yang pernah Bapak dan Mama torehkan sedari Nok kecil. Justru berterima kasih karena luka itu, Nok bisa jadi Mentor seperti sekarang ini.

Karena sekarang Nok sudah sadar dan tahu sekali rasanya terpicu inner child yang melekat pada anak pertama. Sama persis rasanya seperti saat Bapak memukuli almarhum mas Toto 32 tahun silam. Waktu mas Toto usia 11 tahun di tahun 1989. Rekaman itu begitu nyata meski Nok baru kelas 3 SD.

Saat Bapak mengangkat kursi dan mengepruk kepala mas Toto. Gara-gara mas Toto pulang malam karena ngabur demi nonton layar tancap. Itu sama banget rasanya seperti barusan Nok sudah mengangkat tangan karena dorongan kuat dalam pikirannmau membogem ke arah cucu Bapak, Tyaga. Akibat rekaman perilaku Bapak di otak Nok, Pak.

Bapak dan Mama tersayang,

Tadi cucumu tantrum (mengamuk), Pak, Ma. Tanggal 4 Agustus 2020 jadi hari tak terlupakan karena hari ini adalah titik tertinggi perjuangan pengendalian emosi Nok selama ini. Nok benar-benar bersyukur Pak, Ma, tadi bisa menghadapi tantrumnya Tyaga selama 1,5 jam dari jam 11-12.30. Tumben sekali tantrum lagi. Setelah dalam kurun waktu dua tahun sudah stop tantrum, baru tadi tantrum lagi.

Alhamdillah Allah mengirim malaikat penjaga, Pak, Ma. Allah menjaga cucu kesayang kalian. Nok jadi bisa menghentikan kepalan tangan itu dalam jarak 10 cm saja. Tidak jadi mendarat di kepala Tyaga.

Sujud syukur alhamdulillah Pak, Ma. Malaikat-Nya juga yang menggerakkan tubuh Nok untuk menganti gerakan bogem itu menjadi memeluk. Padahal benar-benar lelah jiwa setelah 1,5 jam mendampingi Tyaga yang tantrum hanya karena hal sepele tentang menulis di buku tulis.

Nok Takjub pada diri Nok sendiri yang bisa sabar luar biasa mengendalikan diri sendiri. Bukan seperti dua sampai empat tahun lalu. Nok pasti ikutan mengamuk saat Tyaga atau Jehan mengamuk.

Pasti sekarang Bapak dan Mama bangga deh sama Nok. Mengingat kita sekeluarga sedari Nok kecil sampai dewasa, selalu ribut besar jika ada masalah. Meskipun itu masalah kecil. Di rumah kita cuma Mama yang biasanya super sabar. Namun sayangnya, seringkali Nok tidak bisa sesabar Mama. Sekelebat Nok niru mengamuknya Bapak. Bahkan rasanya Nok lebih banyak niru mengamuknya Bapak.

Akan tetapi, tadi Nok menang Pak, Ma. Nok bisa mendampingi tantrum cucu Bapak dan Mama tanpa luka pengabaian dengan tidak mendiamkan Tyaga menangis sendirian. Seperti masa kecil Nok dulu yang sering capek menangis sendirian karena Bapak dulu cuek sementara Mama tidak ada di rumah karena mencari nafkah. Tadi nok bisa dengan ringan memeluk Tyaga terus sampai tangisnya benar-benar reda, Pak, Ma.

Tanpa kekerasan verbal (kata-kata) dan tanpa kekerasan fisik. Dalam keadaan masih menstruasi H5, Nok berhasil pausing (jeda sesaat-salah satu teknik mindfulness parenting), Pak. Cucu Bapak selamat tadi. Tyaga semakin sadar, kalau bundanya berjuang sungguh-sungguh mengendalikan monster yang masih melekat dalam diri hasil pola asuh mbahkungnya. Yang tadi sempat sedetik terpicu akibat Tyaga bilang, “Mas mau ambil pisau. Mau bunuh diri aja.” Ini alamiah meluncur begitu saja dari mulut mungil cucu laki-laki pertama Bapak. Tanpa meniru Nok, Pak … Ma.

Sebuah kata “pisau” membuat otak Nok seperti tersetrum. Mendadak terngiang suara Mama waktu Nok masih kecil. Seketika Nok benar-benar sadar bahwa depresi ini memang menurun secara genetis.

Sekuat apapun Nok berjuang stabil emosi, Tyaga atau Jehan akan tetap ada keturunan gangguan mental. Yang penting Nok berjuang memberi contoh nyata perliku stabil emosi. Karena psikolog anak bilang perkembangan anak dipengaruhi genenetik hanya 20%. Yang terbesar 80% hasil dari pembentukan lingkungan.

Ternyata itu namanya inner parent, Ma (suara orangtua yang melekat dalam jiwaku). Seinget Nok dulu waktu Nok berantem sama Mas Toto almarhum, Mama beberapa kali pernah dengan ringan bilang, “Ini pisau, nih. Kalau mau berantem terus, ini satu-satu pegang, nih.”

Kejadian itu semua membekas dan sangat sulit dilupakan. Nok benar-benar berjuang mengendalikan dorongan kuat untuk mengambil pisau buat nusuk-nusuk orang yang ngajak Nok berantem. Setengah mati Nok berjuang melawan bisikan-bisikan itu Ma.

Beruntung Nok mengenal teknik pausing dan acceptance ini dari kelas Mindfulness Parenting. Kelas pengasuhan anak, Pak … Ma. Nok belajar terus supaya bisa mengasuh cucu Bapak dan Mama dengan kesadaran penuh untuk penuh sabar.

Nok belajar dari seorang mentor yang bernama bapak Supri Yatno, Pak, Ma…. Dari beliaulah Nok jadi jadi tahu cara menyembuhkan luka batin masa lalu.

Bahkan katanya dari Nok janin dalam kandungan Mama, Nok sudah terpapar luka batin karena sering mendengar Bapak mengamuk. Atas pertolongan Allah, semua itu sudah berhasil Nok maafkan sampai ke akar-akarnya.

Malah bikin Nok paham, dulu Bapak dan Mama belum punya ilmu pengasuhan sama sekali. Jadi wajar Bapak dan Mama belum bisa jadi orangtua yang sepenuhnya mengasuh anak sebaik-baiknya tanpa melukai.

Karena orangtua yang terluka akan melukai anaknya.

Teknik Compassion (welas asih) dalam Mindfulness Parenting membuat Nok sadar bahwa Bapak dan Mama juga mengalami banyak luka batin dalam hidup sedari kecil. Bapak terlahir disaat bapaknya Bapak sudah meninggal. Sementara Mama membesar tanpa pendampingan ibunya.

Karena ibunya Mama meninggal saat Mama masih duduk di bangku SMP. Jadi Bapak dan Mama memang belum paham cara menjadi orangtua yang baik karena tidak ada contoh nyata dari orangtua. Jadi Bapak dan Mama malah melukai mas Toto, Nok dan Dede Mul.

Karena kesadaran pemahaman di atas, Nok jadi sadar untuk belajar menyembuhkan luka batin Nok lebih dulu. Alhamdulillah Pak, Ma … hanya berkat pertolongan Allah, semua luka batin Nok akibat perlakuan Bapak dan Mama sedari janin hingga dewasa, sekarang sudah sembuh semua. Alhamdulillah.

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan