Curahan Hati Kisah Hikmah Latihan Menulis Komunitas Motivasi dan Inspirasi Parenting

Surat Kecil Untuk Tuhan (Sebuah Film Tentang Inner Child)

Surat Kecil Untuk Tuhan
(Sebuah Film Tentang Inner Child)

Oleh: Ribka ImaRi

Dalam sejarah hidupku sebagai ibu dari dua orang anak, inilah salah satu hal terindah yang bisa kurasakan. Setelah sebelumnya aku merasakan kabut Depresi Pengasuhan Anak menyelimuti sejak aku menyadarinya terjadi di tanggal 10 November 2015.

Setelah berhari-hari selama liburan Lebaran 2017 aku berdoa kepada Allah Swt supaya menggerakkan hati suamiku untuk mengijinkanku menonton Surat Kecil Untuk Tuhan yang saat itu sedang diputar di bioskop.

Sore itu, hari Senin Tanggal 10 Juli 2017, secara mengagetkan suamiku bilang, “Ya sudah sana kalau mau nonton. Mumpung anak-anak tidur.” Aku terkejut sekaligus gembira bagai tak percaya! Tiba-tiba suamiku menyuruhku “me time” dalam arti yang sebenarnya.

Karena suamiku yang baik hati dan tidak sombong (hihi) akhirnya rela memberiku izin untuk pergi ke bioskop seorang diri tanpa membawa serta satu pun anakku.

Sssttt … sewaktu aku pergi menuju bioskop, kedua anakku sudah lelap semua. Setelah ku kondisikan tidur semua sesaat sebelum aku memohon izin ke suami. Cerdas aku kan. Hehe. Sudah pasti kedua anakku aku pamiti sebelum tidur dan ku sounding pamit saat sudah terlelap, lanjut giliran gantian suamiku yang menjaga keduanya.

Yeeeaaaayy! Akhirnya…
Kusebut ini sebuah keajaiban dalam hidup. Setelah hidupku benar-benar tak berjeda sejak lahir anak pertama di Maret 2012. Aku yang mengurus, mengasuh, mendidik kedua anakku sepenuhnya hanya dibantu suami dan pertolongan Allah Swt tentunya.

Lima tahun yang luar biasa membuat penat jiwaku. Hingga aku benar-benar merasa depresi. Meski waktu itu aku belum mendapat diagnosa ahlinya, tapi perasaan depresi inilah yang membawaku bertekad kuat untuk mengikuti Pelatihan Mental Mindfulness Parenting pada Agustus 2016.

Dalam salah satu pelajaran di dalamnya membahas tentang inner child yaitu jiwa masa kecil. Dimana jiwa masa kecilku sendiri memang banyak memendam luka batin.

Akhirnya dimoment langka inilah ku jadikan momentum untuk aku pelan-pelan belajar rela meninggalkan Duo ImaRiku dalam durasi waktu yang lumayan lama. Karena sebelumnya sangat sulit bagiku meninggalkan Tyaga dan Jehan meski dititip ayahnya.

Karena ternyata ini berkaitan dengan inner child-ku yang pernah ditinggal kabur mamaku, membuatku trauma. Sehingga aku menjadi sangat sulit meninggalkan anak walau hanya sebentar saja. Meski jiwaku penat akibat pengasuhan tak berjeda. Bagai makan buah simalakama. Aku pernah merasa sangat serba salah.

Hal tersebut diatas yang membuatku sangat ingin menonton Film Surat Kecil Untuk Tuhan. Karena menurut sinopsis yang aku baca, film ini memang menceritakan tentang jiwa masa kecil seorang gadis belia yang mempunyai rencana akan segera menikah.

Dengan menonton film ini, harapanku sepertinya sangat tepat untuk belajar menggali atau mengupas inner child-ku juga. Untuk itulah aku memang benar-benar berniat menonton sendirian, agar bisa lebih fokus menjalani proses detox buat jiwaku alias menangis sepuasnya. Karena di Lebaran Juli 2017 jiwaku memang belum stabil seperti sekarang.

Baperku alias HSP (Highly Sensitif Person) masih menguasai sebagian besar jiwaku kala itu. Ini terlihat dari saat begitu film dimulai, jantungku langsung berdetak kencang menghadirkan sensasi nyeri karena melihat adegan kekerasan.

Dimana adegan awal menggambarkan kisah pilu dua kakak beradik yatim piatu bernama Angel dan Anton. Angel berumur 5 tahun, dan Anton berumur 9 tahun. Setelah kedua orangtuanya meninggal, Angel dan Anton mendapat tindakan kekerasan dari pamannya yang pemabuk. Lama-lama kedua anak kecil itu tak tahan dengan perilaku sang pamannya, lalu berusaha melarikan diri.

Melihat adegan demi adegan di layar bisokop seketika ingatanku berklebat pada kenangan masa kecilku yang juga mengalami kekerasan meski kekerasan yang ku terima tak sekeras perlakuaan yang diterima Anton dan Angel. Tetap saja hatiku nyeri karena secara langsung aku jadi mengingat tindak kekerasanku ke kedua anakku. Apa bedanya aku dengan orang tuaku?

Pikiranku loncat-loncat antara melihat adegan dilayar bioskop dengan klebatan masa kecilku yang berhubungan dengan masa kiniku.

Kembali ke review film ini, Anton dan Angel lalu terperangkap dalam kehidupan anak jalanan yang keras dibawah asuhan om Rudy. Hatiku semakin baper ikutan nyeri saat melihat Om Rudy memanfaatkan anak-anak yang terlantar ini dengan menjadikan mereka pengemis jalanan.

Aku menangis sesegukan teringat masa kecilku yang suram. Walaupun aku tak pernah mengemis tapi tetap saja menyedihkan saat lapar dan sangat ingin makan, tapi tak ada satupun makanan yang bisa kumakan dirumah orang tuaku. Karena masa kecilku hidup dibawah garis kemiskinan. Persis adegan Anton dan Angel yang tak bisa makan karena tak ada uang untuk membeli makanan.

Hingga suatu hari Angel tertabrak mobil dan harus di rawat di rumah sakit. Meski merasa sangat sedih, sebagai seorang kakak laki-laki, Anton merasa bertanggungjawab, ia bersedia melakukan apa saja agar adiknya selamat. Karena peristiwa kecelakaan ini, secara ajaib Anton justru mendapatkan orang tua asuh, tapi ia sangat tidak ingin dipisahkan dari Angel, adik perempuannya satu-satunya. Om Rudy saat itu datang dan berjanji akan mengantarkan Angel pada Anton jika nanti Angel sudah pulih dan akan menanggung biaya rumah sakit. Di adegan ini, aku semakin hanyut menangisi masa kecilku yang memang suram menurut pemahaman jiwa masa kecilku. Aku berusaha menghentikan tangisku, tapi sangat sulit rasanya.

Entah bagaimana cerita rincinya, yang pasti peristiwa kecelakaan itulah yang memisahkan Anton dari Angel.

Sekitar lima belas tahun berlalu, Angel berada di Sydney, Australia. Karena Angel dibesarkan oleh orangtua angkatnya yang baik, Angel pun tumbuh besar menjadi perempuan yang baik, cantik dan cerdas. Sangat berbeda jauh dengan kehidupannya masa kecilnya, Angel mendapatkan kehidupan yang layak sampai ia berhasil meraih cita-citanya menjadi seorang pengacara.

Cerita ini lagi-lagi membuatku seperti bercermin. Bapakku sangat ingin aku bisa menjadi seorang pengacara. Dan aku semakin membenci keadaan itu. Karena bapakku sangat sering menuntutku menjadi seorang pengacara. Terlebih saat menonton film ini di 10 Juli 2017 aku belum bisa islah dengan kedua oran tuaku. Yang baru kulakukan kemudian di Bulan Oktober 2017.

Lalu Angel bertemu dengan Martin. Seorang dokter jantung yang gagah dan keren. Mereka jatuh cinta. Lalu merasa memiliki kesamaan nilai dan prinsip hidup, mereka berencana untuk menikah.

Meskipun kini hidup Angel hampir sempurna, tapi ia terus menerus merasa dibayangi dengan masa lalunya yang kelam bersama sang kakak. Lagi-lagi adegan ini sukses menguras air mataku. Angel tidak akan merasa tenang melanjutkan rencana pernikahannya sebelum ia behasil menemukan kakaknya. Seperti aku yang pernah merasa tak tenang teringat masa kecilku bersama mas kandungku yang klebatannya terpampang nyata di sepasang anakku laki dan perempuan.

Lalu Angel pamit kepada Martin dan kedua orang tuanya untuk pergi ke Indonesia dengan alasan bekerja. Tanpa pernah mereka tau adalah bahwa Angel ingin mencari kakak kandungnya yang kini entah dimana berada. Rindu yang sangat menggebu kepada saudara kandung, yang tidak pernah bertemu selama 15 tahun.

Film ini sangat bagus menurutku yang mempunyai luka batin masa kecil (Inner Child) memberi pelajaran tentang kesehatan jiwa. Bahwa sangat penting untuk menyelesaikan dan berdamai dengan jiwa masa kecil agar tidak lagi terpicu saat sudah menikah dan punya anak.

#NubarSumatera
#ChallengeMenulis
#day22
#ReviewFilm
#12Febuari2019

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

1 Komentar

  1. […] Surat Kecil Untuk Tuhan (Sebuah Film Tentang Inner Child) […]

Tinggalkan Balasan