Hari-Hari Bersama Duo ImaRi Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Bebas Kategori Tetap Writing Challenge Rumedia (WCR)

Stop Sampai di Aku Saja, Jangan Aku Teruskan ke Duo ImaRi-ku

Semangat pagi Sahabat ImaRi’s😍
Aku ingin bercerita tentang masa kecilku yang pernah penuh kekerasan. Ketika aku menulis ini semua, alhamdulillah kondisi psikisku sudah sangat stabil. Sudah bisa bahagia hakiki tanpa tangis, sudah bisa tidak mengamuk apalagi main fisik ke anak. Aku menulis hanya ingin berbagi cerita dan pencerahan untuk semua orangtua jaman sekarang, agar tidak sempat melakukan kesalahan sama sepertiku dulu waktu aku masih depresi pengasuhan. Agar anak-anak tidak perlu mengalami kekerasan yang sama seperti jaman kita kecil dulu.

***
Kalau ada sosok yang bikin aku tiada lelah memperjuangkannya sampai titik darah penghabisan, inilah sosok itu. Sosok Inner Child-ku (IC). Karena seindah apapun hidupku sekarang, jika bayang-bayang IC yang suram ini tetap kelebat-kelabat, selamanya aku akan tetap bersedih tiba-tiba di tengah kebahagiaanku. Aku tetap merasa kesepian ditengah keramaian. Inilah sebabnya aku mengidap bipolar genetis (keturunan dari bapak). Karena mengalami dua kutub emosi yang berbeda secara bersamaan.

Bapakku dulu saat tertawa-tawa bahagia di luar rumah, ketika masuk rumah tiba-tiba marah bagai orang kesetanan. Sementara aku yang sedang berbahagia datang ke acara pernikahan teman, tiba-tiba nangis berderai teringat kenyataan sumpah serapah bapak, “Lu bukan anak gua.”

Lalu aku anak siapa?jika buku nikah dan foto-foto pernikahan orangtuaku tidak pernah ada kulihat dan kupegang seumur hidup sedari aku kecil.

Itulah sebabnya, aku benar-benar berjuang bahagia demi IC-ku bahagia. Aku lelah bermuram durja, sedih tiada akhir teringat masa kecilku yang suram.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Aku lelah terus menerus menangisi nasibku IC-ku yang melihat, merasa, mengalami kekerasan verbal dan kekerasan fisik (merusak barang) setiap detik bersama bapakku.

Dengan ACCEPTANCE (ACC) aku terima semua garis takdirku pernah mengalami kekerasan. Aku berjuang memaafkan beliau hanya demi jiwa IC-ku bebas bahagia. Bukan demi apapun. Tapi demi diriku sendiri bisa bahagia tanpa tapi dan alasan apapun. Alhamdulillah sudah lebih dari 1 tahun ini aku sudah bisa tidak pernah lagi menangis tengah malam bahkan sehari-hari.

Tadinya, saat cuci piring, aku menangis. Cuci baju, menangis. Masak, menangis. Menyuapi anak, menangis. Menidurkan anak, menangis. Melihat anak pulas, menangis. Bahkan berkendara sepeda motor ataupun mobil, apalagi saat di lampu merah, aku pasti menangis. Pokoknya setiap teringat teganya bapak bilang, “LU BUKAN ANAK GUA, LU ANAK SETAN.” Membuatku pernah sedih sekali sejak masa kecilku sampai aku dewasa menjelang menikah menjelang usia 30 tahun di bulan Agustus tahun 2010.

Bersyukur mengenal MINDFULNESS PARENTING (ILMU PENGASUHAN DENGAN KESADARAN). Membuatku benar-benar sadar untuk mengasuh jiwa masa kecilku, agar bisa stop semua hal buruk di masa kecilku. Cukup sampai di aku saja. Jangan aku teruskan ke anak-anakku.

RADICAL ACCEPTANCE YANG AKU BIKIN UNTUK JIWAKU :

-STOP SAMPAI DI AKU SAJA RANTAI INNER CHILD BURUK INI. INNER CHILD ANAK-ANAKKU HARUS BAHAGIA. JANGAN SAMPAI AKU MENDAUR ULANG POLA ASUH YANG SAMA.

-STOP SAMPAI DI AKU SAJA REKAMAN SUARA SUMPAH SERAPAH BAPAKKU, AKU HARUS BERJUANG SEMBUH. JANGAN AKU TERUSKAN SAKITNYA LUKA BATINKU KEPADA KEDUA ANAKKU.

-ANAK-ANAKKU TIDAK BOLEH KEKERASAN VERBAL YANG SAMA. JANGAN SAMPAI ANAKKU TERTATIH MENDEWASA DENGAN MENANGIS TENGAH MALAM DAN TIBA-TIBA HANYA KARENA TIBA-TIBA TERINGAT PERLAKUAN KEJAM ORANGTUANYA DIMASA KECILNYA.

Oleh karena masa laluku benar-benar berjuang stabil dari DEPRESI & BIPOLAR.

Aku hanya tidak ingin Tyaga dan Jehan mengalami kekerasan yang sama sepertiku dimasa kecil. Akibat aku melakukan kekerasan ke Tyaga, Tyaga jadi membully Jehan dan ketika Jehan jadi ibu tanpa sadar melakukan kekerasan yang sama ke anaknya kelak. Mau jadi apa seketurunanku seperti gambar di bawah ini?

RANTAI KEKERASAN INI HARUS STOP DIAKU SEKARANG JUGA

Seperti gambar di atas.

Ketika aku SD, sering lihat Bapakku kesetanan, salah satunya yang masih teringat sampai sekarang, Bapak pernah ngepruk kursi ke kakak kandung laki-laku sampai kursinya patah hancur, bapak sering mukulin kakak kandung laki-laki

Kakak jadi melampiaskan dengan membully-ku sampai nangis tidak berdaya, menyisakan trauma psikis dan fisik karena 3 jahitan di jempol tangan kanan akibat

Namun, aku tidak bisa melampiaskan tekanan batin ke adikku laki-laki. Jadi aku menyakiti diri sendiri dengan memukuli kepala sendiri, menjedotkan kepala ke tembok (ini terbawa sampai menikah) bahkan sampai punya Tyaga usia balita 5 tahun), merobek-robek sprei sampai hancur lebur dan terparah, aku pernah menjepit leher anak ayam di pintu kandangnya sampai mati.

Ya, ribka kecil menjelang usia remaja pernah membunuh anak ayam. Semua itu aku lakukan ketika bapak mengomel dan marah-marah tiap detik. Aku sering terus menerus berpikir bunuh diri dengan menceburkan diri ke sungai. Aku juga sering berpikir membunuh bapak. Serem pokoknya karena aku melakukan ini semua saat masih usia belasan, SMP dan SMA.

Tyaga, anak pertamaku, ia anak yang sangat baik. Begitulah menurut penilaian orang yang mengenal kedua anakku baik secara dekat maupun hanya sepintas saja. Seperti isi pesan whatsapp di bawah ini.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Namun di usianya yang baru 5 tahun kala itu, pernah berucap, “Kalau Mas besar, Mas bunuh Bunda nanti. Mas cengkeram, biar Bunda tahu rasanya sakit banget dicengkeram!”

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Padahal ia terlihat anak yang normal saja. Pun, menurut pemeriksaan Psikolog Anak di TK-nya (Maret 2017), Tyaga (5 tahun) dan Jehan (2,5 tahun) adalah anak yang sehat jiwanya. Namun sungguh mengerikan saat aku sendiri, bundanya, mendengar pernyataannya sepert itu untuk pertama kalinya. Seketika aku tersadar untuk mengubah diriku. Stop kekerasan ini. Aku tidak mau lebih lama lagi melakukan kekerasan yang bisa memupuk kebencian dan kebengisan dalam jiwa masa kecil Tyaga atau Jehan. Cukup satu kali saja aku mendengar kengerian dari Tyaga.

Alhamdulillah, setelah aku memeriksakan ulang Tyaga yang telah berusia 8,3 tahun dan Jehan 5,10 tahun, nyata sehat jiwa raganya menurut Psikolog Anak, Ibu Kurniasih Dwi, P di RS. Ananda, Purwokerto. Aku sangat lega dan bersyukur telah mengetahui kesehatan mental Duo ImaRi-ku meskipun keduanya terlahir dari rahim ibu seorang penyintas depresi dan bipolar.

Salam sehat jiwa raga💪

Kisah nyata dari Ribka ImaRi
Ibu pejuang depresi dan bipolar sejak kecil yang ingin memutus rantai gangguan jiwa genetik ini.

Sokaraja, 16 Juni 2020
-Ribka ImaRi-
Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
Founder support grup ImaRi’s Corner Parenting (2020)
Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
imariscornerparenting/ribkaimari

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan