Curahan Hati ImaRi's Blog Inner Child Kelas Mengasuh Suami Idaman (MSI)

Stop Menuntut, Ganti Menuntun

Oleh: Ribka ImaRi

“Terima kasih, Bun … sudah dibikinin kopi. Sayaaaang sama Bunda,” ucap suamiku sambil cengar-cengir tadi pagi.

“Sama-sama, Suamiku sayang ….”

Segelas kopi bikinanku, auto difoto dan diposting di whatsapp story-nya.

Senangnya … punya suami fasih mengucap kata “terima kasih dan sayang.” Setiap istri pasti mendambanya.

Aku pun begitu. Bertahun lalu, aku pernah menjadi istri yang MENUNTUT dua kata sepele di atas. Apalagi inner child-ku pernah haus kata-kata ini akibat jarang atau mungkin tidak pernah diberikan ucapan ini oleh bapakku sebagai cinta pertama.

Aku pernah lelah manakala suamiku tak kunjung memenuhi pintaku. Aku maradang. Aku merana. Suamiku tiada berubah. Kami bertengkar hanya karena hal receh yang baginya sungguh tak penting meributkan ucapan maaf dan terima kasih.

Mindfulness Parenting, sebuah ilmu pengasuhan dengan kesadaran yang kupelajari di Agustus 2016, membuatku SADAR PENUH bahwa mungkin suami belum mendapat pendidikan mengucap kata “terima kasih atau maaf atau sayang dan kata lainnya,” dalam keluarganya sewaktu ia kecil. Hal ini membuatku SADAR PENUH untuk MELEPAS MENTAL KORBAN agar tidak merasa terus menerus paling menderita sendirian.

Namun mengubahnya menjadi MENTAL PEJUANG, agar tidak lagi terus menerus MENUNTUT suami, tetapi berganti PENUH SABAR untuk tanpa lelah MENUNTUN suami dengan memberinya contoh teladan mengucap kata apa saja yang kuinginkan terucap darinya.

“Terima kasih, Suamiku sayang … sudah jadi suami yang baik.” Meskipun saat itu ada-ada saja kelakuannya yang bikin aku kesal. Aku tetap berjuang MENERIMA-nya (ACCEPTANCE).

“Maafkan Bunda ya Yah.” Aku yang meminta maaf lebih dulu walaupun suami yang duluan salah.

Perjuangan yang sungguh tak semudah membalik telapak tangan. Terutama melepas egoku lebih dulu. Dibutuhkan upaya yang selalu Semangat, Konsisten, Sabar dan Telaten (SKST) sepanjang masa kami bersama.

Kini, usia pernikahan kami sudah 10 tahun, alhamdulillah bukan saja dua kata ajaib itu yang terucap, ada banyak kata ajaib lain, seperti kata “maaf” bahkan kata mesra lainnya.

Termasuk mesra kepada anak, “Mas … sayangnya Ayah, cintanya Ayah.” Perubahan yang nyata terjadi setelah kami seatap lagi. Terutama selama pandemi sejak 6 bulan terakhir yang mengharuskan kami stay at home. Benar-benar penuh perjuangan pengendalian emosi agar rumah selalu dalam kondisi nyaman dan harmonis.

Prosesnya beberapa tahun lalu. Saat kami masih LDM-an (Long Distance Marriage) antara Purwokerto-Cirebon. Perlahan namun pasti, Allah mengubah hati kami berdua.

Alhamdulillah … benar ungkapan itu bahwa, “tak ada usaha yang sia-sia,” kini Allah berikan hasilnya. Indah. Seindah pemandangan di depan rumah yang jika cuaca cerah, akan tampak Gunung Slamet menjulang tinggi dengan gagahnya.

Sokaraja, 5 Oktober 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 27 buku Antologi (Selama Januari 2019-Juli 2020. Sebanyak 16 antologi sudah terbit dan 11 antologi hasil menulis di Rumedia)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/2019-202p)
❤️Founder WAG support ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020), website binaan Rumedia
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan