ImaRi's Blog Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mental Illness Mindfulness Parenting Parenting Tema Ditentukan Writing Challenge Rumedia (WCR)

Orangtua Durhaka Bikin Anak Durhaka

Oleh: Ribka ImaRi

Cuh! Aku pernah meludahi kopi dan mi instan yang kubuat untuk bapakku sekitar tahun 1998. Bahkan aku pernah menggenggam pisau dengan dorongan kuat untuk menikamnya ke bapak saat beliau sedang tertidur lelap. Betapa durhakanya aku! Saking nyerinya hati ini kala teringat bapak mencaci maki dan tiada hari tanpa bersumpah serapah, “Lu bukan anak gua. Lu emang anak setan!”

Selama bertahun-tahun sejak aku kecil hingga dewasa hanya karena aku selalu membela mama. Kalimat itu begitu menancap di otak bawah sadarku. Berbanding lurus dengan kebencian yang juga menghujam jantungku. Tahun berganti. Usiaku semakin dewasa. Dendamku pada bapak semakin kesumat.

“Sudahlah … maafkan Bapak dan Mama. Jangan sampai nyesel kalau mereka sudah nggak ada di dunia. Jangan sampai jadi anak durhaka.” Dulu, sebelum proses islah dengan kedua orangtuaku, kalimat ini selalu saja terngiang.

Baca Proses Islah dengan Bapakku yang Paling Kubenci Selama 37 Tahun Usiaku

Banyak nasihat untukku dari lingkaran keluarga besar dan lingkungan. Namun aku merasa bak penghakiman. Tak ada seorangpun mengerti perasaanku.

Semua memaksaku untuk memaafkan bapak. Tanpa pernah tahu rinci rasa sakit hatiku. Predikat anak durhaka itu melekat selama 37 tahun. Sebelum aku menyelesaikan sendiri perseteruan dengan Bapak dan Mama. Persetan dengan label itu. Sungguh, aku tak peduli lagi.

Yang aku pedulikan hanyalah berjuang menjadi ibu yang baik untuk dua anakku. Agar jangan sampai aku menancapkan luka batin yang sama persis seperti yang kualami. Sebab sumpah serapahku ketika marah di tahun 2016 ketika usiaku 36 tahun, sudah hampir mirip dengan amukan bapak.

Hingga, aku bertemu dengan sebuah ilmu pengasuhan mindfulness parenting yang membuatku tersadar untuk berubah agar tidak menjadi orangtua yang durhaka pada anaknya. Sampai akhirnya kini kudapati kedua anakku, Tyaga dan Jehan, yang perlakuannya so sweet pada ayah dan bundanya.

“Apa rasanya punya bunda kayak Bunda?”

“Enak”

“Enaknya kenapa?”

“Nggak galak.”

“Kalau Bunda galak apa rasanya?”

“Kepingin Mas gaplok.”

“Hahaha emang Mas berani gaplok Bunda?”

“Berani laaaah orang Bunda yang salah,” ujar Tyaga menutup canda tawa kami sambil pelukan. Ini momen yang selalu aku suka. Jadi bisa memahami perasaan anak.

See, bibit-bibit kekerasan itu sudah ada sejak anak masih usia dini. Dari mana Tyaga mendapat kosakata lancang seperti? Sudah pasti dari ayah dan bundanya.

Sebab Tyaga dan Jehan itu murni diasuh hanya oleh ayah dan bundanya. Jadi lebih mudah merunutnya jika ada yang menyimpang. Kalau bukan dari ayah dan bunda, kemungkinan dari tontonan dan lingkungan pertemanan.

Bahkan saat Tyaga di usia lima tahun pernah bilang, “Nanti Mas besar gantian Mas cengkeram Bunda biar Bunda ngerasain sakitnya Mas dicengkeram. Mas bunuh Bunda sekalian.” Serem kan … akibat dulu aku masih sering main tangan dan sumpah serapah ke Tyaga dan Jehan.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

“Setan kamu ya! Pergi aja sana dari rumah kalau nggak mau nurut sama Bunda!” Sumpah serapahku kepada Tyaga yang benar-benar mirip dengan inner parent (jiwa orangtua) dari bapak dan mamaku. Semenjak saat itu, aku tersadar untuk menyembuhkan luka batinku sembari melakukan self healing (menyembuhkan) luka batin kedua anakku, Tyaga dan Jehan (TJ) setiap kali ada kesempatan. Atas luka batin yang dulu pernah aku dan suami goreskan di hati TJ. Dengan sering meminta maaf lebih dulu dengan tulus atas kejadian yang dulu-dulu. Lalu memeluk TJ dengan erat.

Sekarang kami sekeluarga sudah bisa sangat kompak dan so sweet tanpa saling membentak. Aku bahkan lupa kapan terakhir aku mendaratkan tanganku. Seingatku setelah aku bisa menyelesaikan luka batinku pada bapak dan mama secara tuntas.

Aku dan suami jadi bisa selalu menanyakan kepada TJ tentang bagaimana perasaan mereka berdua mempunyai orangtua seperti kami, ayah dan bundanya. Mereka bisa bebas mengeluarkan unek-unek bahkan jika mungkin berniat menggaplok bunda kalau sampai bundanya galak.

Pilihan ada di tangan kita para orangtua muda. Ingin lanjut memupuk luka batin dari orangtua terdahulu lalu tanpa sadar melanjutkan melampiaskannya ke anak dan cucu kita? Lalu menciptakan rantai rasa benci yang baru dalam diri anak dengan melanjutkan KEKERASAN demi kekerasan?

Atau STOP KEKERASAN lalu menyirami anak dengan cinta kasih dan sayang sampai akhirnya TJ bisa bilang BUNDA NGGAK GALAK. Pun keduanya sudah dinyatakan sehat jiwa oleh psikolog anak.

Keduanya benar-benar sudah bisa menemukan kedamaian saat berada di dekat orangtua. Lalu merasuk dalam jiwa masa kecil menjadi inner child positif yang merasa berharga di mata orangtua. Tidak seperti masa kecilku yang mengalami luka penolakan, “Lu bukan anak gua!” Pernah membuatku hampir nyemplung ke sungai.

Sungguh, karena kemurahan Allah saja, sekarang aku pun sudah bisa tidak lagi menyalahkan kedua orangtuaku atas rekaman pola asuh lama yang telanjur melekat di otakku. Membuatku pernah menjadi ANAK DURHAKA yang membangkang perintah kedua orangtuaku.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, durhaka artinya ingkar terhadap perintah (Tuhan, orang tua, dan sebagainya). Namun masyarakat umum lebih sering menyematkan anak durhaka ketimbang orangtua durhaka. Sebab, penilaian kuat dari masyarakat yang menganggap bahwa orangtua selalu benar dan tak pernah salah.

Padahal anak belajar durhaka adalah buah karena menirulakukan dari orangtuanya. Jika anak dilabeli durhaka karena tidak patuh pada orangtua. Maka orangtua pun bisa dikatakan durhaka karena ingkar terhadap perintah Allah akibat tidak bisa memberikan contoh perilaku yang baik untuk anaknya.

“Tidak ada anak yang durhaka jika orangtua tidak memberi mencontoh durhaka terlebih dulu.”

-Ribka ImaRi-

Kini aku sadar sepenuhnya, itu semua mereka lakukan karena mama dan bapak belum paham bagaimana cara mengasuh anak dengan baik. Ditambah keduanya pernah mengalami kekerasan dan didurhakai oleh orangtuanya sewaktu kecil. Membuat mereka lanjut melakukan pendurhakaan dan kekerasan serta sumpah serapah kepadaku. Semacam rantai durhaka yang belum putus.

Sekarang, aku yang sudah sadar, tahu dan paham, jadi aku memilih berjuang memaafkan kedua orangtuaku sepenuh jiwa. Lalu mengambil tanggung jawabku untuk MEMUTUS RANTAI DURHAKA ini. Aku berjuang membaik, agar Tyaga dan Jehan tetap menjadi anak yang baik. Jangan sampai keduanya menjadi ANAK DURHAKA kelak akibat rekaman kekerasan yang pernah ayah dan bundanya lakukan sewaktu TJ kecil.

Sokaraja, 1 Agustus 2020
True story of Ribka ImaRi
❤️Penulis 22 buku Antologi (Selama Januari 2019-Juli 2020. Sebanyak 16 antologi sudah terbit dan 6 antologi lagi sedang proses cetak)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/2019-202p)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan