Hari-Hari Bersama Duo ImaRi Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Tantrum Anak (KTA) Mindfulness Parenting Parenting Tips dan Trik Mengasuh Anak

Si Kecil Rewel? Biasanya Karena Emosi Orangtua Sedang Tidak Stabil

Oleh : Ribka ImaRi

Semangat pagi Sahabat ImaRi’s😍

Walaupun posting ini sudah sore, tetap semangat pagi. Supaya tetap semangat jalani hari di tengah pandemi💪💪

Apa kabar emosi dalam mengasuh anak seharian ini? Semoga tetap stabil bahagia dan ceria sampai menjelang tidur malam nanti ya😍

Aku mau cerita tentang emosi seorang ibu itu otomatis sangat mempengaruhi emosi anak-anaknya.

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) arti emo·si /émosi/ n 1 luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat; 2 keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan); keberanian yang bersifat subjektif); 3 cak marah;

Jadi emosi itu bukan hanya marah ya. Akan tetapi bisa saja kesal, sedih, kecewa, gemas, dan lain-lain.

Sebenarnya aku sudah paham tentang ini. Karena dalam perjalanan metamorfosaku dari monstermom (ibu yang sering ikut meledak dan mengamuk saat anak rewelan) menjadi mindfulmom (ibu yang sadar untuk sabar) sering menghadapi kejadian yang serupa. Namun ada saja peristiwa yang membuatku hampir terpancing emosi seperti kemarin pagi.

Tak biasanya, Tyaga dan Jehan rewel berbarengan. Ada-ada saja yang diminta dan dikerjakan. Akhirnya, nada suaraku menjadi naik. Bersyukur bisa buru-buru kerahkan pausing dengan memejamkan mata lalu menarik napas panjang dan dalam. Aku melakukannya beberapa kali sampai benar-benar lega. Agar jangan sampai menyemprot keduanya dengan nada suara lebih tinggi lagi. Alhamdulillah bisa tetap terkendali.

Walaupun ada dorongan kuat untuk merepet dan sangat ingin membanting beberapa stoples berisi kue Lebaran yang ada dihadapanku. Namun karena sudah paham penyebab pemicu naik nada suaraku akibat sedang memikirkan suami yang belum juga pulang dari bersepeda. Rasa khawatirku pada suami di tengah pandemi seperti ini memang rawan memicu emosiku.

Segera aku stop dorongan itu dengan kekuatan pikiran yang ku afirmasi. “Jangan lampiaskan kekesalanku kepada anak. Tyaga dan Jehan tidak tahu apa-apa tentang masalah yang sedang terjadi antara ayah dan bundanya.”

Segera aku pausing dengan duduk bersandar ditembok. Setelah napasku lega dan selesai istighfar sampai mereda, aku meminta Tyaga dan Jehan mendekat. Lalu kupeluk keduanya. Aku meminta maaf karena tadi nada suaraku sempat naik sesaat. Alhamdulillah tak sampai melukai batin keduanya.

Alhamdulillah akhirnya Tyaga dan Jehan kembali membaik tingkah lakunya. Setelah aku lebih dulu membaik dan tidak kesal-kesal lagi menunggu suami pulang.

***

Berulang kali aku menghadapi kejadian pengasuhan anak yang dipengaruhi emosiku. Membuatku terus belajar untuk kuat mental demi Tyaga dan Jehan bisa mencontoh pengendalian emosi dari bundanya.

Jadi teringat kejadian di bulan Juli 2019 lalu ketika mempersiapkan keberangkatan sekolah Tyaga dan Jehan.

Hari itu adalah hari ketiga Jehan masuk TK. Jehan baik sekali menurut penilaian bunda. Alhamdulillah bisa “no drama”. Dimulai dari bangun pagi yang mudah dibangunkan. Mandi sendiri karena keinginan sendiri tanpa paksaan, membuat Jehan ceria di pagi hari. Ah, indahnya. Keindahan di pagi hari yang selalu diharapkan semua ibu.

Kemudian Jehan memakai bajunya sendiri, masih tetap ceria sambil menyanyi lagu baru dari TK-nya. Lanjut sarapan disuapi oleh ayah. Sukses tandas habis semua padahal porsi lengkap lauk dan sayur itu termasuk banyak.

Setelah semua siap, Jehan berangkat diantar ayah pada pukul 6.30 karena sekalian bareng mas Tyaga yang sudah kelas 2 SD. Pagi itu, Jehan tetap hanya diantar, tidak ditunggu sama sekali sampai jam pulang sekolah. Nanti akan bunda jemput jam 9 pagi di depan sekolah. Dengan menunggunya diserahkan oleh ibu guru wali kelas.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Biasanya, bunda sapa dengan mata berbinar dan senyum merekah, “Sayaang … Bunda tunggu di sini.”

Bahagianya melihat anak gadisku yang sudah bisa percaya diri. Sejak hari pertama masuk TK langsung ditinggal tanpa ditunggu sama sekali. Itu pun hanya diantar ayah tanpa bunda.

Begitu bertemu bunda, Jehan langsung salim dan peluk, “Bunda, De bahagia banget hari ini,” serunya antusias ditengah ramainya kerumunan wali murid yang sedang menunggu anaknya keluar pintu sekolah.

“Oh ya? Wah alhamdulillah kalau Dede bahagia. Memangnya apa yang bikin Dede bahagia?” tanya bunda tak kalah antusiasnya.

Lalu bunda mengajak dede menepi supaya tidak mengganggu lalu lalang wali murid lainnya.

Jehan melanjutkan cerita, “Sekolah Dede ulang tahun hari ini, Bun. Tadi ada nasi tumpengnya. Nih, semua anak dikasih nasi kuning. Tolong masukkan ke tas Dede, Bun.” Jehan langsung ceriwis bercerita tak henti.

Karena waktu hari pertama bunda tidak sempat melihat Jehan tampil di panggung bersama teman-teman barunya, jadi di hari kedua bunda sempatkan melihat dari kejauhan.

Bunda terharu waktu melihat proses Jehan makan bekal. Buka tasnya sendiri. Ambil plastik yang di dalamnya ada wadah isi semangka. Kemudian ditaruh di kursi tempat Jehan duduk. Lalu Jehan ambil plastiknya dari atas kursi dan berganti Jehan yang duduk di atas kursi.

Jehan menaruh plastiknya di pangkuan lalu membuka plastiknya. Kemudian menaruh plastiknya di bawah wadah dan membuka wadahnya. Lalu Jehan menaruh tutupnya di bawah wadah. Baru kemudian Jehan mulai menyuap buah semangka yang ditusuknya pakai garpu yang bunda taruh di dalam wadah.

Jehan begitu sangat menikmati setiap prosesnya tanpa tergesa-gesa. Membuat bunda takjub melihat setiap proses yang Jehan jalani. Rasa syukurku tiada terkira melihat Jehan di usianya yang baru akan 5 tahun, tetapi ia sudah bisa mandiri menyiapkan kebutuhannya semua sendiri. Dari awal sampai akhir tanpa dibantu ibu guru. Alhamdulillah ya Allah…

Nah pagi berikutnya, di hari keempat, akhirnya drama dimulai. Karena bunda bangun kesiangan oleh sebab semalam mengobrol dengan ayah sampai larut malam. Bunda jadi mepet membangunkan mas.

Meski dede tadi pinter bangun sendiri, tetapi bukannya keluar kamar dan antri mandi, malah mewarnai buku yang baru dibeli sore kemarin.

Karena ayah kurang sabar membujuk dan malah jadi salah bicara, “Oh enggak mau sekolah ya!”

Dan Jehan jadi menjawab tak kalah keras, “Enggak mau sekolah!”

Kemudian bunda ajak mandi, tapi dede maunya sambil digendong. Bunda bilang jalan sendiri ya. Jehan malah merangkak. Sesampainya di kamar mandi, bunda bantu membuka baju semua, lalu bunda tawarkan untuk memandikan Jehan, malah bilang lagi tidak mau sekolah.

Padahal jam sudah menunjukkan jam enam pagi. Itu tandanya kami hanya punya waktu 30 menit saja untuk mandi, pakai baju, sarapan dan menyiapkan semua keperluan sampai mas dan dede siap di atas motor.

Kemudian bunda berpesan, “Dede sikat gigi dulu. Nanti Bunda datang, Bunda mandikan. Bunda mau siapkan gamis Dede dulu.”

Setelah selesai menyiapkan baju, bunda masuk ke kamar mandi dan melihat ada dua bulir air mata di sudut netra Jehan. Ternyata Jehan menangis di kamar mandi dan belum sikat gigi. Dua keadaan yang sangat bunda benci : menangis di kamar mandi dan tidak mendengar pesan (untuk sikat gigi).

Sejujurnya, bunda sangat ingin marah saja rasanya. Sebab sudah jam 6 pagi, tetapi Jehan sama sekali belum siap. Padahal harus berangkat paling lambat jam 6.40 sebab mas masuk jam 6.50. Dede sih santai jam 7.20. Namun, ayah dan bunda memang sedang mengusahakan mas dan dede bisa berangkat bareng terus. Supaya tidak usah bolak balik mengantar keduanya.

Gemas rasanya. Disuruh segera sikat gigi, malah bilang dengan naik nada, “Enggak mau sekolah!”

Ibu mana yang tidak kesal, bukan?
Anak diajak buru-buru malah berulah.
Suami diajak kerjasama, malah salah omong. Sebab Jehan termasuk balita pemberani. Jika diancam, ia bisa menantang balik ayah dan bundanya.

“Oh nggak mau sekolah?” tanya ayah.

“Ya, sudah nggak sekolah saja” jawab Jehan menantang.

Pening kepala bunda. Terasa kepancing emosi. Terbukti Jehan makin rewel.

Alhamdulillah bunda segera bisa sadar. Bahwa dede rewel itu ada sebabnya. Karena waktu yang mepet, bunda maunya buru-buru. Bunda maunya mas dan dede nurut semua seperti biasanya. Kalau mas sudah sangat paham instruksi, sudah sangat mengerti keadaan buru-buru dalam waktu yang mepet dan takut terlambat.

Bunda sadari, bahwa Jehan belum terlalu paham itu dan masih baru belajar berproses tanggungjawab untuk dirinya sendiri. Sebab Jehan baru masuk TK A.

Persis mas Tyaga 3 tahun lalu. Disuruh mandi malah menangis. Bunda makin kalap karena kesal akibat sedang tergesa-gesa. Terlebih semua dikerjakan sendirian tanpa bantuan orang dewasa. Karena saat itu ayah dan bunda masih LDM (Long Distance Marriage). Kalau ingat dulu, sebenarnya sering kasihan dengan mas Tyaga. Batinnya pernah terluka akibat terpaksa dikondisikan harus mengerti keadaan orangtua.

Beruntung, jika akhirnya bunda bisa berlatih Mindfulness Parenting. Selama hampir empat tahun berproses dan berlatih terus. Akhirnya bunda sudah sadar saat menghadapi fase Jehan sekarang.

Bahwa sumber emosi bunda terletak pada keadaan TAKUT TERLAMBAT, ANAK MENANGIS DI KAMAR MANDI & ANAK TIDAK MAU MENDENGAR (SIKAT GIGI), yang semuanya itu adalah pengalaman jiwa masa kecil bunda (Inner Child) yang terlanjur terekam di otak dan otomatis tanpa sadar memperlakukan anak serupa dengan pengalaman bunda semasa kecil.

Alhamdulilah setelah beberapa kali atur napas dan istighfar. Bunda jadi sadar untuk kembali ke niat semula. Untuk tidak memakai cara kekerasan dalam mendisiplinkan anak. Sadar bahwa Jehan sedang belajar mengendalikan emosi dari bundanya.

Setelah napas agak bisa lebih teratur, Bunda segera sadar untuk melembutkan suara dan gerakan. Sebab gerakan tergesa-gesa membuat kasar ke anak, bisa jadi akan menoreh luka batin anak.

Karena anak merasa dikasari orangtuanya. Meskipun orangtua tidak menyadarinya. Sebab perlakuan kasar sekadar gerakan tergesa-gesa yang tidak kasat mata, itu bisa tidak menyenangkan bagi anak dan membekas di jiwa anak.

Kesadaran itu membuat bunda menurunkan ego untuk membantu Jehan menyikat gigi. Memeluknya sebentar. Menatap matanya dan menggenggam lembut tangannya. Lalu mengajaknya mandi setelah Jehan menyetujuinya.

Bunda memandikan Jehan dengan mengajaknya mengobrol yang menyenangkan. Meski awalnya Jehan menjawab ketus. Namun alhamdulillah akhirnya mood Jehan bisa kembali membaik.

Jehan jadi mau diajak bergegas dengan dibantu memakai baju. Sarapan bareng mas dan mau disuapi bunda. Biasanya kalau bunda kasar, Jehan makannya diemut. Makan diemut adalah bentuk protes anak karena menolak sesuatu yang orangtuanya berikan. Coba rasakan saat kita orang dewasa merasa menolak sesuatu perasaan atau keadaan, kita pun akan malas mengunyah.

Alhamdulilah, akhirnya mas dan dede bisa cepat selesai sarapan disuapi sarapan dua porsi untuk dua anak, hanya dalam waktu 10 menit saja.

Selanjutnya, kami bersama-sama menyiapkan semua keperluan sekolah sampai semua naik ke motor. Kemudian keduanya berangkat dengan ceria. Sebab bunda sadar, tak baik melepas anak berangkat sekolah dalam tangisan. Sebaiknya anak ceria. Karena kejadian memulai hari dan menutup hari akan menancap seumur hidup. Jadi sebaiknya diukir indah. Semanis tawa indah Jehan sepulang sekolah seperti di foto ini. Berkali-kali berucap, “De bahagia sekolah hari ini bun.”

Kesimpulan dari beberapa kejadian di atas, saat orangtua tenang, anakpun anteng. Namun, saat orangtua kesal atau tergesa-gesa, anak malah jadi berulah dan rewel. Sebab orangtua menerima segala tingkah anak dengan kesal membuat perasaan anak menjadi tidak nyaman. Begitu pula saat anak dipaksa melakukan hal yang seharusnya orangtua bisa lebih bersabar menunggu beberapa menit sampai anak rela diajak bekerjasama.

Padahal anak butuh waktu berproses, bukan langsung berhasil. Orangtua butuh sabar mengiring prosesnya hingga bisa berhasil sesuai waktunya nanti.

PS : berusaha mendisiplinkan dengan kelembutan bukan kekerasan. Menumbuhkan kesadaran bukan paksaan. Semangat terus semua ibu hebat

Kejadian tanggal 18 Juli 2019, menuliskannya, supaya mengingat terus perjuangan sabarku menemani masa pertumbuhan dan perkembangan anak.

Sokaraja, 26 Mei 2019
-Ribka ImaRi-
Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
Founder support grup ImaRi’s Corner Parenting (2020)
Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
imariscornerparenting/ribkaimari
rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

2 Komentar

  1. firafaradillah says:

    Bener banget mbk.

  2. Ribka ImaRi says:

    Ada pengalaman serupa kah mba?

Tinggalkan Balasan