Curahan Hati Kisah Hikmah Latihan Menulis Komunitas Motivasi dan Inspirasi Parenting

Seruan Lockdown, Jangan Bikin Keluarga Makin Down, Yuk Berjuang Tetap Bahagia Meski di Rumah Saja

Seruan Lockdown, Jangan Bikin Keluarga Makin Down

Oleh : Ribka ImaRi

Keranjang pakaian kotor masih terisi penuh karena belum sempat dicuci. Tempat (bak) mencuci piring masih menumpuk bekas sarapan sekeluarga tadi pagi. Lantai rumah masih berdebu karena terakhir disapu kemarin sore. Ditambah dua keranjang pakaian bersih yang belum ada waktu senggang untuk menyetrikanya.

Seluruh perhatian, waktu dan tenagaku sedang berpusat pada suami dan kedua anakku agar semua tetap ceria dan bahagia. Karena pagi ini adalah H-24 kami sekeluarga di rumah saja.

Sejak sepulang dari liburan akhir pekan tanggal 14 Maret lalu, kami belum pernah lagi pergi ke luar rumah bersama-sama. Bahkan kedua anakku, Tyaga (8 tahun) dan Jehan (5,5 tahun) benar-benar tidak keluar pagar rumah sama sekali.

Semenjak himbauan Gubernur Jawa Tengah untuk stay at home, learn from home dan work from home pada tanggal 15 Maret 2020. Akibat Indonesia sedang berstatus KLB virus corona yang menular dan mematikan.

Kejadian ini yang membuat suami dan kedua anakku berada di dalam rumah selama 24 jam penuh. Kami berusaha menerima kenyataan me-lockdown-kan diri dan mengisolasi diri secara mandiri demi tetap sehat sekeluarga.

Tak disangka! Hampir sebulan kami menikmati momen bersama tanpa jeda dan hanya di dalam rumah saja. Hanya aku saja yang sesekali keluar rumah untuk membeli kebutuhan dan bahan makanan untuk sekeluarga selama satu minggu ke depan.

Jujur … sejujur-jujurnya, awalnya terasa sangat berat saat harus belanja dalam jumlah banyak. Selain berat membawanya. Napasku kadang terasa berat ketika kelebat sedikit rasa takut akan terpapar virus corona saat berkerumun di tukang sayur bersama banyak orang yang berasal dari mana-mana.

Sesampai di rumah aku harus mandi dulu lalu lanjut membersihkan dan membereskan semua barang belanjaan. Padahal cucian baju sebanyak tiga ember sedang melambai-lambai minta di sentuh.

Tahu tidak isi pikiranku sepanjang jalan pulang tadi? Sebenarnya ada rasa ingin meninggalkan saja semua pekerjaan rumah meski hanya sejenak. Aku ingin berkeliling kota sendirian. Namun apa daya, hal itu tidak bisa kulakukan.

Ada suami dan dua anakku di rumah. Menantiku pulang dalam keadaan sehat tanpa membawa virus corona. Aku harus tetap sehat demi lanjut mengurus ketiganya. Entah sampai kapan tiada hari tanpa jeda ini.

Karena memang tidak seperti hari biasanya tatkala mereka berangkat bekerja dan bersekolah. Kali ini kami bukan sedang libur lebaran atau libur sekolah. Akan tetapi kantor dan sekolah yang dipindahkan ke rumah untuk sementara waktu. Maka kami harus patuh pada himbauan pemerintah.

Ada rasa lelah dan ingin menyerah saat mengurus seisi rumah tanpa henti sedari bangun pagi sampai tiba waktunya memejamkan mata di malam hari. Ada rasa ingin marah tetapi bingung marah pada siapa. Mengeluh pun tak ada guna.

Semakin aku mengeluh, rasanya sia-sia berpeluh justru bikin badan makin pegal-pegal. Jadi berasa stres. Tahu-tahu menular pada suami dan anak-anak yang mulai rewel karena bosan. Dan kami rawan tantrum sekeluarga.

Aduuuuh jangan sampai deh! Sebab kalau aku sampai meledak, mukaku lebih seram dari gambar virus corona.

Akhirnya, yang bisa kulakukan hanyalah menerima keadaan kali ini. Sambil terus berjuang menciptakan bahagia demi menghadapi kenyataan yang ada di dalam rumah.

Beruntung aku pernah belajar ilmu mindfulness parenting, meski secara online, aku mendapat banyak pembelajaran yang terus menerus sejak bulan Agustus 2016. Sebuah ilmu pengasuhan dengan kesadaran penuh untuk sabar mengurus suami dan anak.

Maka, aku segera melakukan hal dibawah ini :

1. PAUSING (JEDA SESAAT), aku tidak mau ngoyo langsung mencuci pakaian kotor. Biar saja aku kerjakan semampuku. Yang utama fokus pada pengadaan makanan untuk serumah. Baju bisa itu-itu saja, cuci-kering-pakai. Tetapi makanan harus setiap saat ada karena kami sepakat untuk tidak jajan lagi.

2. ACCEPTANCE (TERIMA), aku berjuang melepaskan perfeksionis harus bersih dan rapih. Terima saja apa adanya keadaan sekarang ini. Kotor dan berantakan biarlah apa adanya. Yang penting sekeluarga bisa bercengkrama dalam bahagia. Dengan berjuang tetap semangat dan bahagia, membuat tubuhku tetap kuat dan sehat.

3. AFIRMASI POSITIF, hiburkan diri sendiri bahwa jika aku mengerjakan ini semua dengan rasa syukur mendalam, semua keadaan yang berat akan terasa lebih ringan.

Dengan begitu, aku sebagai ibu bisa berjuang menjaga atmosfir bahagia dalam keluarga. Meski kami berada dalam rumah saja dan tidak ke mana-mana. Tetap bisa bahagia karena bisa makan bersama setiap hari seperti ini. Masih banyak yang bisa kami syukuri bersama secara terus menerus. Agar bisa ikhlas menjalani kehidupan yang unik ini.

Dan terus berjuang mengambil hikmah dari kejadian lockdown jangan sampai bikin keluarga down karena ibu yang stres dan uring-uringan apalagi sampai mengamuk.

Karena ibu adalah pusat energi dalam keluarga. Ibu berjuang bahagia lebih dulu, agar energi bahagia mengalir ke seluruh anggota keluarga.

Foto: dokumentasi pribadi

Tak mengapa, meski dalam sehari berapa puluh atau bahkan ratusan kali kata ini terucap dari mulutku, “I love u cintaku/terimakasih banyak ya sayang, sudah baik banget hari ini/bunda ada salah hari ini?/maafkan bunda masih kurang sabar/kita berjuang membaik ya sayang/jangan kita ulangi lagi ya Nak/Yang sabar hadapi keadan lockdown ya, Nak.” Dan berbagai macam kata-kata motivasi lainnya.

Yang penting seisi rumah merasa nyaman dengan sounding tulus sepenuh hati, tatap mata mesra serta sentuhan hangat dan pijatan kasih istri dan ibu. Bikin tetap betah di rumah. Meski terucap kata bosan, tapi masih sangat terkendali. Alhamdulillah. Bismilllah bisa melewati masa-masa sulit rawan stres karena “terkurung di dalam rumah. Aamiin

-Ribka ImaRi-

Pejuang Depresi yang empat tahun lalu pernah tidak kuat mengurus suami dan anak jika seminggu saja tidak keluar rumah atau piknik sama sekali. Sampai akhirnya bisa berproses membaik dan stabil emosinya.

Atas seizin Allah, kini menjadi Mentor dan ingin berbagi cara terkendali.

Yuk, ikut kulwap GRATIS (bagi yang belum pernah ikut kelas gratis)

Kelola Emosi Keluarga

Hubungi wa.me/6285217300183

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan