Inner Child Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Bebas Kategori Tetap Writing Challenge Rumedia (WCR)

Separuh Jiwaku, Mengapa Inner Child Kita Saling Memicu? Inilah 13 Cara Berdamai dengan Inner Child Pasangan

Oleh: Ribka ImaRi

Semangat pagi Sahabat ImaRi’s!

Apa kabar yang masih stay at home selama pandemi? Semoga tetap sabar semua ya. Meskipun dua hari jelang Hari Raya Idul Fitri, tetap di rumah saja. Menikmati kebersamaan dengan suami dan anak-anak.

Oia, bagaimana hubungan sahabat dengan pasangan? Yang mungkin masih work from home sejak pertengahan Maret lalu. Aku berdoa semoga rumah tangga Sahabat ImaRi’s dalam keadaan baik-baik saja.

Memang tak bisa dipungkiri, belakangan ini ada beberapa ibu muda yang aku mentoring, curhat sedang agak tidak baik dengan pasangannya. Hal itu wajar saja. Mengingat, suami atau istri yang bekerja dari rumah, ditambah anak-anak yang juga belajar daring di rumah, itu semua rawan memicu stres. Atau juga karena keadaan pandemi, sedang mengalami krisis ekonomi yang merupakan salah satu penyebab pertengkaran dalam rumah tangga.

Walaupun penyebabnya sangat sepele, tetapi kalau sudah terpicu inner child-nya, ada pasangan yang saling diam dan mengambek selama berhari-hari. Lebih dari seminggu, seperti aku dan suami dulu. Sayang kan, dalam suasana bulan puasa seperti ini sebaiknya bisa mengendalikan emosi. Terlebih menjelang hari nan fitri sebagai momen untuk saling memaafkan.

Yuk baca kisahku berikut ini. Aku tak lagi peduli jika ada yang berkomentar, “ini aib!”

Biarlah … asalkan ada satu ibu yang tercerahkan, seperti di bawah ini.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Karena ini caraku berbagi sedikit pencerahan yang bisa bermanfaat untuk para Sahabat ImaRi’s. Terlebih berkaitan dengan isu inner child negatif yang nyata telah menjadi salah satu penyebab rumah tangga tidak harmonis tetapi belum banyak pasangan yang tahu apalagi sadar. Karena dulu, inner child sering menjadi pemicu pertengkaran dalam rumah tanggaku. Kami butuh waktu hampir 10 tahun menikah dengan enam tahun berputar-putar pada masalah yang itu-itu saja akibat belum paham ilmunya untuk menggali dan mengenali inner child pasangan. Lalu butuh waktu empat tahun untuk mengurai dan menyelesaikan akar inner child dalam pernikahan.

Setelah menulis ini panjang lebar, doaku Allah mengubah banyak rumah tangga agar tak perlu terseok-seok lebih lama lagi. Karena langkah berdamai telah kutulis rinci di bawah ini.

Selamat membaca secara rinci, meresapinya lalu mempraktikkannya.

***

Kupikir, setelah menikah aku dapat mengubahmu seperti yang kumau. Namun ternyata aku salah. Pernikahan bukan tentang menyatukan dua hati yang berbeda. Melainkan MENERIMA APA ADANYA pasangan untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Karena sampai kapan pun mungkin kau tidak akan pernah berubah. Tetapi PENERIMAANKU (ACCEPTANCE) terhadapmu mampu mengubah keadaan pernikahan kita. Kini semakin membaik dan terasa lebih ringan setelah diriku lebih dulu MELEPAS EGO (Emosi, Galau, Obsesi) menjelang 10 tahun usia pernikahan.
-Ribka ImaRi-
Sokaraja, Mei 2020

***

“Diam kamu!” Suara bentakan suamiku diawal pernikahan kami pada bulan Agustus 2010. Kupikir ia akan berhenti membentaku ketika sudah menikah. Sebuah bentakan yang lebih mirip naik nada saja dan tak seberapa itu, sebenarnya, mungkin biasa didengar oleh sebagian besar istri. Termasuk ibuku yang sudah berumah tangga selama 30 tahun lebih. Namun tidak bagiku.

Bentakan halus sekali pun, mampu membuat air mataku menetes bahkan berderai. Entah mengapa hatiku rapuh hancur berkeping bagai kaca. Sesaat setelah mendengar kalimat yang diucapkan suamiku, seraya membentak, “Diam kamu!”

Mataku bersirobok dengan matanya. Demi Tuhan, ia adalah suami yang 90% perilakunya sangat baik pada istri dan kedua anaknya. Juga pada orangtua dan orang lain. Namun, kala melihat wajah suamiku disaat marah seketika mirip dengan wajah marah bapakku yang marah sewaktu aku masih tinggal serumah bersama orangtua.

Tidak, tidak, tidak. Sebenarnya tidaklah separah itu. Bukan ingin mengumbar aib rumah tangga. Namun sungguh, setiap kali suamiku marah, aku sangat membencinya hanya karena rekaman marah bapakku memang begitu melekat di otak, pikiran dan perasaan.

Bahkan melekat di mataku saat terpejam. Membuatku sangat membenci marahnya orang lain. Meskipun itu suamiku sendiri yang marah. Aku tidak mau lagi melihat ada orang lain marah disekitarku. Sebab aku sudah lelah melihat orang marah karena bapakku marah disetiap detik dan disepanjang waktu selama 30 tahun usiaku sebelum menikah. Aku tidak mau lagi diperlakukan suamiku seperti aku diperlakukan oleh bapakku, yaitu dibentak-bentak. Aku muak.

Ya, kekerasan psikis dan verbal yang hampir meluncur setiap waktu itu pernah menghadirkan trauma. Aku menjadi takut. Takut sekaligus sangat membenci ekspresi wajah suamiku ketika marah. Padahal belum tentu juga ia semarah bapakku. Namun, keadaan suami yang marah menjadi pemicu ketakutanku.

Perasaan benci dan cintaku pada suami menjadi sangat tipis batasnya. Bahkan pada suamiku sendiri, menjadi begitu sulit menjelaskan tentang perasaanku ini. Perasaan yang aneh. Hal yang tidak masuk akal jika dilukiskan sebab akibatnya.

Hanya karena hal sepele. Seperti ini alurnya: kami bicara membahas rumah tangga, lalu aku ngeyelaan atau nge-gas, membuat suami terpicu, ia jadi membentakku. Kemudian, aku yang terpicu bentakan, jadi menangis. Selanjutnya suami jadi terpicu karena melihat aku menangis. Ia menjadi makin marah. Akhirnya, kami semakin ribut. Bahkan tak jarang kami sampai adu fisik. Hal ini pernah membuat pernikahan kami berada di ujung tanduk dan hampir bercerai. Rasanya aku sudah tidak kuat saat itu. Jika aku marah, ia akan lebih marah lagi.

Bertahun lamanya aku terbelenggu perasaan menjadi istri paling merana hanya gara-gara dibentak suami menjadi KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) yang kalau kupikir dan ku sebenarnya disebabkan olehku.

Ada apa dengan rumah tangga kami?

Padahal kami menikah dengan dilandasi saling mencintai tetapi entah apa yang terjadi beberapa tahun silam. Karena sekarang, saat menulis dan memposting tulisan ini, aku dan suami sudah dalam keadaan sangat akur berkat Allah Yang Maha Kuasa mengubah hati kami berdua dan keadaan serumah.

Dulu, ketika sedang marah, kami bisa saling menyakiti satu sama lain. Saling memaki. Saling menghina. Saling egois. Semua terjadi di depan Tyaga dan Jehan yang masih berusia balita dan batita. Begitu terus menerus hingga pernikahan kami telah memasuki usia tahun ke-enam.

Aku frustasi menjalani hari penuh kekerasan nada suara. Sementara, aku melihat suami juga frustasi mengadapi kecengenganku. Suami baru naik nada sedikit, air mataku otomatis berderai. Kami bingung harus bagaimana lagi menghadapi situasi agar tidak saling memicu dan menyakiti terus menerus. Jujur, ini semua pernah membuatku sangat lelah. Akhirnya, aku berusaha pasrah kepada Tuhan.

Ada rasa ingin bercerita kepada orangtua atau saudara kandung atau saudara ipar atau mungkin kepada para senior yang sudah lebih pengalaman berumah tangga. Namun … ah, rasanya aku malu. Pun, aku takut justru dipersalahkan akibat kelakuanku yang cengeng jadi memancing kemarahan suami sendiri.

Sampai akhirnya, pada bulan Agustus 2016, tepat enam tahun usia pernikahan kami, Tuhan Maha Baik mempertemukanku dengan Mentor Mindfulness Parenting, Bapak Supri Yatno. Dari beliau lah aku mengetahui bahwa masalah rumah tanggaku berakar dari inner child suami dan diriku sendiri.

Selama 3,5 tahun aku dan suami berproses bersama mengasuh inner child kami masing-masing. Hingga akhirnya, kami bisa berdamai dalam banyak hal. Terutama aku yang sudah bisa menerima keadaan sepele seperti bentakan, “Diam Kamu!” Benar-benar sepele. Meskipun suami mengucapkan dalam nada yang sangat datar, bisa sangat memicuku. Akan tetapi, akarnya sangat dalam dan berasal dari jiwa masa kecilku yang terluka akibat bentakan bapakku.

Melalui kelas Mindfulness Parenting online tersebut, aku belajar seperti berikut:

1. Teknik kupas bawang, untuk mengupas satu per satu kejadian yang memicu demi menemukan akar inner child yang memang berasal dari perlakuan bapak dimasa kecilku. Aku menuliskannya untuk menjadi pengingatku jika suatu saat terpicu lagi.

2. Teknik pernapasan, agar bisa meredam sementara emosiku ketika mendapat perlakuan dari suami yang memicu luka inner childku.

3. Teknik pausing dengan memejamkan mata dan menggigit bibir agar aku bisa menahan diri dan tidak otomatis membalas perbuatan suami dengan bergantian membentak. Hal ini aku lakukan demi memutus rantai perlukaan batin sementara. Teknik ini membantuku untuk bisa diam sementara.

4. Teknik Buang Sampah Emosi dengan menarik napas panjang dan dalam agar tidak nyesek terlalu lama. Lalu menghembuskannya panjang dan dalam juga. Agar perkataan suami yang baru saja membuatku bisa segera aku buang lewat aliran air saat aku mencuci piring. Hal ini aku lakukan supaya sampah emosi yang kuterima dari suami, tak sampai menumpuk dan melukai hatiku.

5. Teknik Acceptance (Menerima), “AKU TERIMA SUAMIKU TADI MARAH KARENA AKU YANG DULUAN NGEYELAN.” Pokoknya aku terima terima terima saja dulu. Baru pelan-pelan nanti bicara dan diskusi dengan suami saat keadaan sudah membaik.

6. Teknik Melepas Mental Korban. Aku berjuang melepas perasaan paling menderita sedunia hanya karena dibentak suami atau diabaikan suami atau disepelekan suami atau dicemooh suami. Bukan aku saja korbannya. Bisa jadi suamiku pun menjadi korban aku yang ketus dan mengambek. Jadi aku pun turut andil memperkeruh keadaan. Kesadaran ini membuatku berjuang memupuk perasaan berarti dalam diriku. Jadi meski suami sedang tidak baik dan membuatku terluka, aku tetap bisa tegar berdiri memeluk diriku sendiri untuk bangkit tetap bahagia.

7. Afirmasi diri terus. Bahwa ini hanya sementara hanya karena EGO (Emosi, Galau, Obsesi) kami berdua. Keadaan akan segera membaik.

8. Melepaskan Ego. Jika suami tidak berniat mengajak baikan atau berdamai, aku yang akan mendahului berdamai dengan meminta maaf dan memeluk suami.

9. Meminta maaf. Meski mungkin bukan aku yang bersalah sepenuhnya. Karena memang suami yang duluan membentak, tetapi itu karena disebabkan oleh suaraku yang ngeyelan (nyolotan) memancing emosi suami. Seperti contoh salah satu ibu yang aku mentoring di bawah ini.

Sumber foto: dokumentasi pribadi.

Aku meminta maaf duluan demi kebaikan dan kedamaian jiwaku. Walaupun dulu suami belum pernah meminta maaf duluan, aku memahaminya karena mungkin dulu semasa kecil suami tidak diajarkan meminta maaf duluan. Aku belajar mengambil tanggung jawab untuk mengasuhnya dengan memberi contoh meminta maaf duluan.

10. Memeluk suami. Pelukan meluruhkan semua emosi jiwa sampai ke dasarnya. Aku memahami ini ketika aku mulai rajin memeluk suami dan anak-anak ketika aku marah. Meskipun rasa hati sangat sakit, aku yakin pelukan adalah penawarnya. Jadi meski suami menolak dipeluk karena masih marah. Aku tetap berjuang memeluknya.

11. Lepaskan harapan. Entah suami langsung memaafkan atau tidak saat itu, aku tidak lagi berharap. Yang utama aku sudah menunaikan tanggung jawabku dengan meminta maaf lebih dulu untuk memperbaiki keadaan.

12. Fokus pada daftar kebaikan suami. Melalui teknik ini akhirnya aku bisa menerima satu perlakuan buruk suami. Karena masih banyak kelebihan suami seperti contoh dibawah ini. Ketika ada ibu yang aku mentoring sedang ada masalah dalam rumah tangganya, aku memintanya untuk membuat daftar kebaikan suami.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

13. Sabar menunggu sampai suami selesai dengan emosinya. Dulu aku yang biasanya uring-uringan jika suami dimintai maaf dan dipeluk tetapi masih belum mau memaafkan dan memelukku balik. Kini, setelah bisa melepaskan harapan, aku jadi bisa memberi waktu pada suami sampai emosinya nyaman kembali.

Kini, alhamdulillah menjelang 10 tahun usia pernikahan pada tanggal 17 Agustus nanti, kami masih terus belajar mengenali berbagai macam inner child yang saling memicu. Aku dan suami berjuang mengasuhnya dengan baik. Pelan-pelan, hubungan kami semakin membaik. Sampai pada akhirnya, kami bisa menjadi pasangan suami istri yang dapat saling memahami satu sama lain. Tidak lagi saling menyakiti karena pertengkaran sepele.

Aku yang akhirnya memilih MELEPASKAN MENTAL KORBAN yang pernah membuatku merasa paling marana sedunia. Dengan melepaskan mental korban, membuatku tidak lagi menangis saat suami membentak. Malah sudah bisa santuy! Karena sudah paham, saat suami membentak, bukan karena ia tak sayang padaku. Namun karena ia juga sedang terpicu inner child-nya. Aku yang sudah mempunyai kesadaran untuk kuat mental, tidak lagi menangis berderai yang biasanya semakin memicu suamiku. Aku berjuang memutus rantai perlukaan inner child. Hal ini dapat untuk menghentikan pertengkaran kami. Mengalah bukan berarti kalah.

Namun menang mengendalikan emosi akibat inner child yang terpicu. Ini masalah yang sangat sepele. Namun jika belum memahaminya, lingkaran perlukaan ini akan terus berputar disitu-situ saja dan pada masalah yang sama tanpa solusi.

Aku hanya ingin menua dalam emosi tetapi persabahatan bersama suami. Aku tidak mau bernasib sama seperti rumah tangga kedua orangtuaku yang selama 40 tahun diwarnai dengan amarah bapakku.

Cukup sampai di aku saja nasib ini. Aku ingin berjuang bersama suami untuk memperbaiki nasib rumah tanggaku menjadi harmonis. Suatu saat nanti aku bisa mewariskan kepada kedua anakku, Tyaga dan Jehan.

Kini, ia menjadi suami yang rajin menyapa istrinya penuh cinta karena setiap saat aku belajar menyapanya, “Sayang … I love you.” Suamiku belum mendapat pendidikan dalam keluarganya tentang cara memperlakukan istri dengan manis. Bagaimana mungkin bila kehidupan masa kecilnya penuh kekerasan.

Pun, aku yang haus kasih sayang dari sosok laki-laki bernama bapak. Tak kutemui sedari masa kecilku. Membuatku menuntut suami terus menerus bahkan untuk hal sepele seperti memeluk dan meminta maaf. Padahal dalam banyak hal, suami sudah berusaha memberi yang terbaik. Namun aku tetap saja merasa kurang karena memang inner child-ku (kenangan masa kecil bersama bapakku) yang bermasalah dan tidak terpenuhi secara normal.

Pada akhirnya aku mengambil tanggung jawab untuk memberinya contoh nyata cara memperlakukan istri seperti harapanku selama ini. Layaknya seorang ibu mengasuh anak lelaki romantis. Menjelang 10 tahun pernikahan kami, kini suami sudah fasih memeluk dan meminta maaf lebih dulu.

Sebuah progres yang luar biasa. Meski pernah terseok-seok di sepanjang pernikahan kami. Dan memang, di luar sana ada banyak istri yang hampir menyerah menghadapi sifat suami. Namun, aku benar-benar bersyukur bisa melalui masa-masa kritis dengan diberi keberkahan bisa memperoleh jalan keluar dari keterpurukan rumah tangga melalui konseling secara online ke ahlinya.

Atas seizin Allah, akhirnya aku juga bisa menjadi mentor kelas online Mengasuh Inner Child (MIC). Telah hampir 100 wanita dan satu pria mengikuti kelas MIC. Dan hampir 500 peserta yang sudah bergabung di kelas online lainnya termasuk kelas gratis. Semua karena Allah saja.

Sedari awal mengikuti kelas-kelas mentorku, bapak Supri Yatno, aku berjuang untuk mengingatnya selalu bahwa,

Seorang istri dan ibu bisa menjadi tokoh sentral perubahan dan pengendalian emosi dalam keluarganya. (Supri Yatno)

Maka aku bertekad bulat untuk berjuang tanpa kenal lelah lahir dan batin meski pernah juga hampir menyerah. Bahwa sejatinya Perjuangan itu mungkin berdarah-darah, tetapi hasilnya sebanding dengan kemerdekaan hidup berumah tangga seperti sekarang. Aku memaknainya sebagai buah kesabaran.

Karena aku yakin bahwa sabar adalah satu-satunya pertolongan dari Allah SWT saja. Maka aku memilih bersabar dan berjuang. Nyata benar janji Allah, tak ada perjuangan yang sia-sia menetesi batu (hati suami) yang keras pada akhirnya berlubang (membaik) juga. Sekarang Allah SWT menjadikan suami bukan saja menjadi romantis dan manis tetapi ia yang terbaik seperti yang aku impikan dalam sebuah pernikahan yang Allah SWT berkahi. InsyaAllah sampai ke JannahNYA. Aamiiin

Kudoakan bagi yang sudah membaca artikel ini dan sedang dalam keadaan kurang baik, mau berjuang berbaikan dengan suami, sampai akhirnya menjadi membaik sekeluarga.

Terimakasih sudah setia membaca sampai akhir. Semoga bermanfaat.

Sokaraja, 22 Mei 2019

-Ribka ImaRi-
Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (2018)
Mentor Kelas Tantrum Anak (2018)
Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (2019)
Founder ImaRi’s Corner Parenting (2020)
imariscornerparenting/ribkaimari
rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan