Cerita Anak Curahan Hati Kisah Hikmah Latihan Menulis Komunitas Motivasi dan Inspirasi Parenting

Sembuh dari Trauma Hujan, Semakin Yakin Akan Kebesaran Tuhan

Sembuh dari Trauma Hujan, Semakin Yakin Akan Kebesaran Tuhan

Oleh: Ribka ImaRi

“Bismillah sehat terus ya, Sayang … meski kehujanan dua hari berturut-turut deras sekali seperti ini. Kita yakin sehat-sehat saja ya, anak-anak Bunda yang hebat dan saleh saleha.” Kalimat ini lah yang terus menerus aku tancapkan dipikiranku dan kedua anakku.

Sedari awal menaikkan Tyaga dan Jehan ke atas motor dan selama perjalanan di atas motor serta setiap saat aku memandang mesra keduanya, anak-anakku yang luar biasa daya juangnya. Tak pernah mengeluh. Justru merasa bahagia saat bisa hujan-hujanan. MasyaAllah … terus kusematkan doa dan kalimat sounding berupa afimasi positif agar keduanya tetap sehat.

Ibu mana yang tidak kuatir menghadapi keadaan terpaksa harus berhujan-hujanan saat menjemput anak pertamanya pulang sekolah. Ditambah keadaan tidak bisa meninggalkan anak kedua sendirian di dalam rumah dalam keadaan hujan lebat dan tiba-tiba petir besar bersahutan disertai pemadaman listrik mendadak.

Ada rasa cemas membuncah luar biasa. Bingung antara memilih meninggalkan Jehan di rumah sendirian atau membawanya serta menjemput mas Tyaga. Itu artinya Jehan akan ikut hujan-hujanan selama pulang dan pergi sejauh 8 Km.

Bukan perkara mudah bagi aku penyintas trauma hujan dan sakit. Sekelebat ada ingatan aku pernah terjebak hujan lebat rasa takut menyusup di relung hati. Aku takut kedua anakku sakit akibat kehujanan. Meski sudah pakai jas hujan lengkap, tetap saja angin dingin dari terpaan air hujan di wajah masih bisa menelusup masuk ke dalam jas hujan membuat kami tetap basah kuyup pada akhirnya.

Tak mengapa basah kuyup. Segera LEPASKAN MENTAL KORBAN agar tidak merasa paling menderita saat menerobos derasnya hujan yang luar biasa. Yakin dan percaya bahwa bukan hanya aku dan anak-anakku yang mengalami kehujanan seperti ini. Sepanjang jalan di atas sepeda motor, aku terus mengafirmasi diri bahwa ini hal biasa dalam hidup. Tetap semangat dan tangguh jalani hari ini.

Selama perjalanan menyusuri genangan air dan terpaan titik-titik hujan yang ternyata membuat sakit wajah, Tyaga dan Jehan aku ajak bernyanyi bersama, “Tik … tik … bunyi hujan di atas motor, airnya turun tidak terkira ….” Begitu terus sampai tiba di rumah dengan selamat dan tidak kurang suatu apa pun, alhamdulillah.

Sesampainya di rumah hampir pukul setengah empat sore. Masih ada satu kewajiban lagi menanti ditunaikan. Yaitu, kegiatan rutin mengedarkan sedekah nasi jumat yang merupakan donasi dari para sahabat dari walimurid dan juga dari facebook.

“Sayang … Mas, Dede … di rumah saja ya. Bunda pergi sendiri mengedarkan sedekah nasi jumat. Mas dan Dede sudah kehujanan, kalau ikut lagi nanti makin kedinginan. Di rumah saja ya. Mandi masing-masing terus makan lagi.” Aku berusaha membujuk kedua anakku yang sedang senang-senangnya mengikutiku mengedarkan sedekah nasi jumat kepada bapak becak, gelandangan dan pengemis di sekitar terminal Bulupitu, Purwokerto, Jawa Tengah.

Namun keduanya berkeras ikut, “Mau ikut Bunda. De senang banget ngasih langsung ke Bapak becak. Boleh ikut ya, Bun?”

“Iya … Mas juga, Bun. Mau ikut Bunda saja. Mandinya nanti sepulang antar nasi jumat.”

Binar mata Tyaga dan Jehan saat memohon ikut membuatku luluh. Lalu aku menata semua nasi box seperti yang tertata dalam foto di bawah ini.

Aku memang tak berani memesan banyak, padahal ada antrian 35 box lagi yang sudah masuk di hari Rabu. Namun karena aku mempunyai tekad bulat ingin melaksanakan kegiatan rutin ini dengan cara mengedarkannya sendiri. Kegiatan ini aku gunakan sebagai terapi healing inner child-ku (kenangan masa kecilku) yang pernah trauma terjebak hujan dan banjir serta pernah trauma kelaparan saat hujan juga.

Tekadku sudah bulat untuk melawan trauma-trauma itu. Aku harus sembuh dengan berani menghadapi hujan selebat apa pun dan mendatangi orang-orang yang sedang kelaparan ditengah hujan deras dengan memberikan sedekah nasi jumat.

Wajah sumringah dari bapak becak, mungkin keadaan yang sama seperti masa kecilku. Aku pernah merasa sangat sedih karena kelaparan. Lalu ada sahabat mamaku yang datang membawa makanan.

Namun, traumaku itu terus menghantui sampai aku dewasa. Aku pernah merasa tidak berarti di saat tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengobati trauma-traumaku. Beruntung dan bersyukur, akhirnya Allah memberiku cara menyembuhkan luka batinku di masa kecil. Seperti yang tertulis di screen capture di bawah ini yang merupakan postingan seorang sahabat facebook, Mbak Utami Setiati.

Aku mendapatkan pencerahan dan keyakinan sore ini. Semakin membuatku tersadar untuk terus membulatkan tekad menyampaikan sedekah jumat secara rutin terus menerus. Kegiatan yang awalnya aku rintis hampir dua tahun lalu. Meski jatuh dan bangun menghadapi kendalanya. Aku tetap nekat menjalaninya. Agar aku semakin merasa berarti dalam hidup. Dengan begitu, perlahan-lahan trauma-trumaku berangsur-angsur sembuh. Kesedihan-kesedihan masa kecilku yang kekurangan makan bahkan tidak ada yang bisa aku makan disaat hujan lebat. Kini berganti kebahagiaan melihat senyum bahagia si penerima sedekah.

Aku menyampaikan niat tersebut di atas secara rinci kepada kedua anakku. Akau hanya yakin keduanya akan mengerti maksudku. Aku juga menyampaikan bahwa, “Jika kita tetap pakai jas hujan, Bunda repot sekali, Nak. Jadi sepertinya kita akan pergi tanpa memakai jas hujan. Toh hujannya sudah mereda. Kita berdoa hujannya tidak deras lagi. Yakin hujannya akan tetap mereda sampai kita pulang nanti. Bismillah terus ya, Sayang. Bismillah juga kita tetap sehat meski kehujanan lagi.”

Panjang lebar aku menjelaskan keadaan yang sebenar-benarnya seperti di atas kepada Tyaga yang berusia 7 tahun 10 bulan dan Jehan yang baru berusia 5 tahun 5 bulan.

Dengan segala kerepotan kami, aku tak ingin menyerah. Selain tekadku untuk menyembuhkan luka batin masa kecil, aku pun mempunyai tujuan untuk mengasuh inner child Tyaga dan Jehan untuk bisa MENERIMA (ACCEPTANCE) keadaan hujan seperti apa pun keadaannya. Tetap teguh melaksanakan niat baik meski hujan menghadang. Yakin Tuhan akan terus menyertai dan melindungi niat baik.

Bukan nekat mengorbankan kedua anakku demi niat healing-ku. Melainkan sekaligus mendidik keduanya menjadi anak yang tangguh dalam segala keadaan.

Karena tidak ada keluhan sedikit pun dari mulut mungil Tyaga dan Jehan, berganti kebahagiaan tak terkira saat tangan kecil Jehan berhasil memberikan secara langsung seplastik berisi satu kotak makanan dan segelas minuman.

Celoteh riang dari Tyaga dan Jehan sedari pergi sampai pulang. Setiba di rumah pun kami tetap santai menerima keadaan basah kuyup hampir sebaju karena tidak memakai jas hujan.

Aku bahkan masih sempat mengabadikan foto keduanya untuk dikirim ke aplikasi whatsapp ayahnya. Demi mengatakan betapa bersyukurnya memiliki dua anak hebat dengan stamina luar biasa yang diberikan Tuhan. Sebab Tyaga dan Jehan sudah mempunyai pondasi yang kuat dengan pola makan sehat dan pola tidur yang teratur.

Sampai hari ini, minggu sore, terhitung 2×24 jam setelah kami hujan-hujanan basah kuyup selama dua hari berturut-turut di hari Kamis dan Jumat, keduanya tetap sehat tanpa demam, batuk atau pilek. Semua karena kebesaran Tuhan dan keyakinan bahwa sesekali kehujanan tidak akan membuat keduanya sakit.

Pun, setelah aku merasa sembuh dari trauma hujan, aku menjadi bisa melepaskan rasa takut dan cemas berlebih pada kedua anakku akan menjadi sakit akibat kehujanan. Aku menjadi bisa berpikir positif bahwa kedua anakku akan sehat-sehat saja. Ajaib! Hasilnya menjadi positif. Sampai detik ini, Tyaga dan Jehan tetap sehat. Alhamdulillah.

Sekarang, tak ada lagi air mata saat mengulurkan tangan memberi sekantong plastik nasi sedekah jumat. Sangat berbeda sekali dengan kejadian awal menggiatkan sedekah nasi jumat hampir dua tahun lalu. Ada banyak air mataku terjatuh. Berderai-derai membuat tangisku yang tergugu tak terdengar lagi karena tersapu derasnya air hujan.

Nyata benar kebesaran Tuhan, saat hamba-Nya yakin dan percaya. Aku benar-benar sembuh!

Purwokerto, Jumat Penuh Berkah

10 Januari 2020

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan