Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Bebas Kategori Segar Writing Challenge Rumedia (WCR)

Semangkuk Mie Renjana dan Mindfulwife Bikin Suami Makin Cinta

Oleh: Ribka ImaRi

Semangat pagi Sahabat ImaRi’s😍

Apa kabar pola makan setelah Lebaran? Hehe. Kalau aku, kembali ke pola makan seperti biasanya. Apalagi lama nggak jajan di luar rumah, jadi bikin kepingin nyicip indom*e soto kesukaan. (Jangan ditiru ya. Hehe). Lagi pula sudah lama puasa mi instan. Eh, suami malah salah beli. Katanya karena terburu-buru mengambil yang ada di sebelah indom*e goreng yang juga dibelinya.

Kalau beberapa tahun lalu, aku sudah pasti otomatis cemberut, ngambek dan kesal.

Lalu otomatis komentar ke suami, “Gitu aja kok bisa salah beli. Kan jelas-jelas beda.” Nge-gas dan pedas.

Terus nggak bakalan dimasak tuh mi sed*p soto yang salah dibeli. Karena menuruti egoku, bikin sama sekali nggak kepingin masak mi instan yang nggak sesuai keinginan.

Karena di otakku sudah terekam menjadi OCD (Obsessive Compulsive Disorder)–aku jadi terobsesi nikmatnya indom*e soto yang tak akan tergantikan dengan mi instan merk apapun. Aku itu kalau sudah setia pada satu produk, sulit pindah ke lain hati. Ini yang sering jadi pemicu uring-uringanku di depan suami. Eh jadi memicu suami jadi kesal melihat aku uring-uringan. Kalau sudah begitu, keadaan jadi nggak asyik lagi.

Percaya nggak percaya, begitulah aku dulu. Nyebelin banget kan! Pantas saja suamiku sebal. Hahaha. Saksi hidup sifatku ini adalah Novi Sartika, sahabatku sewaktu KKN di bangku kuliah di Universitas Diponegoro. Sejak tahun 2003, ia yang paling paham betapa aku menyandu pada indom*e soto. Benar-benar nggak mau sama mi instan dengan merk dan rasa yang lain.

Jadi ribut sama suami? Sudah dapat dipastikan🤭🤭Istrinya kayak anak kecil, masalah sepele begitu saja pakai mengambek. Istri nggak tahu bersyukur. Suami capek-capek, panas-panas pergi di siang terik, bela-belain belii masih aja diambekin. Entah label apalagi yang patut disematkan padaku. Hihihi.

Kalau melihat diriku seperti ini, aku mirip sekali dengan bapakku. Sedikit-sedikit ribut sama mama. Hal sepele, mama jadi kena semprot. Padahal mama sudah super sabar. Duuuh aku nggak mau seumur hidup sampai menua nanti selalu dzolim pada pasangan

Kalau sekarang? Aku buru-buru SADAR (MINDFUL) untuk mengerahkan salah satu teknik MINDFULNESS, yaitu ACCEPTANCE (MENERIMA APA PUN KEADAAN). Aku ingin berjuang menjadi istri yang mindful, istri yang sadar untuk sabar.

“Terima, terima, terima … saja dulu. Terima saja dulu mi sed*p ini. Pasti enak juga kok. Pasti masing-masing punya keunikan rasa walaupun berbeda. Tapi sama-sama rasa soto kan. Ya, paling beda tipis rasanya.” Aku bicara pada diriku sendiri. Ini namanya teknik self talk. Alhamdulillah teknik ini sering sukses membuat mood-ku stabil kembali.

Ya sudah aku terima apa pun rasa mi sed*ap soto ini. Sampai benar-benar menerima. Toh nikmatnya hanya sampai di lidah saja. Tidak sampai ke hati. Biasa saja kalau sudah sampai perut nantinya. Jadi jangan sampai aku menyakiti hati suami hanya gara-gara obsesi lidahku. Aku memilih melepaskan EGO.

Emosi: cemberut/kesal.

Galau: nggak yakin rasa mi sed*p bakal enak.

Obsesi: masih ingin terealisasi rasa indom*e soto yang sudah lama kuidamkan.

Aku memilih berjuang melepaskan emosi, galau dan obsesiku demi rumah tanggaku ayem tentram sepanjang sisa usia pernikahan ke depannya.

Aku tidak ingin menua dalam EGO yang merusakkan tatanan rumah tangga yang sudah Allah tolong memperbaikinya sampai di titik seperti sekarang ini. Hanya gara-gara hal sepele, sebungkus mi instan mampu memicu gesekan emosi lagi dengan suami.

Hasilnya? Taraaaaa … tetap berbahagia dan akur menikmati semangkuk mie instan rasa kesayangan yang sudah lama diidamkan.

“Enak banget Ciiiin. Mantaaaab” Begitu katanya berulang-ulang. Terngiang-ngiang di telingaku bikin bahagia karena dipuji-puji terus saking enaknya. Andai tadi aku ngambek, mungkin kami tidak akan seakur dan penuh cinta seperti ini menikmati semangkuk mi renjana.

Renjana dalam KBBi artinya cinta. Karena memang rasa cintaku pada diro sendiri untuk tidak memilih marah. Sebab kalau marah akan membuat syaraf-syarafku menegang dan itu jadi menyakiti diriku sendiri. Lalu rasa cintaku suami. Ungkapan “Kalau cinta jangan marah” kupegang terus dalam jiwa. Supaya bisa tetap sabar menghadapi suami.

Aku tidak ingin menjadi istri yang dominan menjajah suami karena egoku. Namun berjuang menjadi istri yang pengertian menerima keadaan apapun itu. Berat sih pada awalnya, tetapi saat tekad kuat sudah tertanam di jiwa, jadi terasa lebih ringan. Tentunya diimbangi bersama perjuangan dari suami juga. Jadi tidak merasa berjuang sendirian. Sebab namanya menikah kan berdua. Hehe.

Jika sulit pada awalnya, meminta suami untuk sama-sama bersabar, aku terus berdoa dan mengerahkan sounding kepada suami untuk sabar juga. Dengan SKST (Semangat, Konsisten, Sabar, Telaten) memberi pesan dan contoh kepada suami.

Keterangan gambar: indom*e goreng yang disajikan menjadi mi rebus. Permintaan suamiku yang unik sejak dari awal menikah hampir 10 tahun lalu. Bingung harus bagaimana cara memasaknya. Gagal lagi, coba lagi, gagal lagi, coba lagi. Terus begitu saja tidak ada hentinya. Namun aku terus berusaha demi menyenangkan lidah suami. Walaupun mungkin harus berpuluh kali atau mungkin ratusan kali trial and error sejak awal menikah di Agustus 2010.

Sampai akhirnya suami bilang ini mi rebus terenak sedunia. Sudah sering bilang sih. Di mana pun doi memesan indom*e goreng menjadi mi rebus, pasti mbaknya bingung. “Dan yang pasti belum pernah ada yang seperti buatan bunda!” Aseeeek. Aku bahagia melihat suami bahagia makan hasil olahan istrinya tercinta. Kan jadi makin cinta❤️❤️ Namanya juga Mie Renjana❤️❤️

Mau belajar jadi mindfulwife (istri yang sadar) untuk sabar?
Yuk, ikut kelas Mengasuh Inner Child Batch
Hubungi Mentor Ribka ImaRi wa.me/85217300183

Sokaraja, 5 Juni 2020
-Ribka ImaRi-
Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
Founder support grup ImaRi’s Corner Parenting (2020)
Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan