Curahan Hati Kisah Hikmah Latihan Menulis Komunitas

Selesaikan Trauma Inner Child dengan Sosok Bapakku, Baru Bisa Terima Sosok Suamiku Apa Adanya (2-Selesai)

Selesaikan Trauma Inner Child dengan Sosok Bapakku, Baru Bisa Terima Sosok Suamiku Apa Adanya (2-Selesai)

Oleh: Ribka ImaRi

MasyaAllah … alhamdulillah, ACCEPTANCE (PENERIMAAN) ini (diposting di bagian 1) yang membuat langkahku lebih ringan menjadi istri dan ibu. Hatiku terasa lebih damai menjalani hidup dengan suami dan mengasuh kedua anakku, Tyaga dan Jehan setiap harinya.

Sebab Inner child-ku sudah aku tuntaskan. Tas tas taaaaassss. Sesaat setelah bapakku dengan ringannya mengucap, “Maafin Bapak juga ya, Nduk.”

MasyAllah … seketika plong semuanya. Rasanya bebas lepas segala penatku selama ini. Akhirnya aku bisa melepaskan beban hidup yang kubawa kemana-mana bertahun-tahun lamanya.

Aku memang tak butuh apa-apa selain pelukan hangat dan permintaan maaf yang tulus atas luka pengabaian selama ini. Mindfulness parenting mengajarkanku melepaskan mental korban. Dengan menyadari, meminta maaf lebih dulu kepada kedua orangtuaku.

Meski awalnya aku merasa tidak bersalah. Pada akhirnya menyadari, aku pun pernah membalas melukai kedua orangtuaku. Karena menurut para ahli, hati yang terluka akan balas melukai. Saat aku terluka karena perlakuan bapakku, aku pun jadi melukai hati suamiku sebagai pelampiasan amarahku.

Karena ada beberapa perlakuan suami yang mirip dengan perlakuan bapakku yang pernah membuatku depresi sejak remaja. Disinilah hubungannya, mengapa aku belum bisa menerima keadaan suamiku apa adanya. Sebab aku masih membenci bapakku membuatku jadi membenci suamiku juga.

Begitu seterusnya menjadi lingkaran luka batin tak terputus. Aku sadar … akulah yang harus berjuang memutus rantai perlukaan itu. Awalnya, bukan demi siapa-siapa, tetapi demi aku dan kedua anakku. Aku belajar menerima satu per satu perlakuan buruk bapakku sejak aku kecil yang terekam pada jiwa masa kecilku (IC).

Tak terbesit lagi seperti dahulu, “Kupikir aku sudah memaafkan kedua orangtuaku, terutama bapakku. Namun, pada kenyataannya aku terluka lagi.” Kini, aku bahkan sudah bisa memaafkan kedua ortuku sejak jauh hari sebelum keduanya bicara langsung meminta maaf padaku.

Aku tak mau lagi mendengar nasihat “sudahlah … yang buruk-buruk jangan diingat-ingat lagi”. Itu tidaklah benar. Karena apa yang sudah menancap di memori otakku sangatlah sulit untuk di hapus seumur hidup.

Akan tetapi, yang benar adalah saat mengingatnya, emosiku sudah bisa sangat terkendali dan tidak menimbulkan sensasi sedih, marah atau apapun itu yang buruk dan merusak. Baik merusak ke dalam diri sendiri (menyerang tubuh sendiri) atau pun keluar diri sendiri (melampiaskannya pada suami atau anak).

Subhanallah … walhamdulillah … benar-benar plong. Tak ada lagi ledakan emosi negatif. Karena akar dari segala luka batinku seumur hidup telah aku cabut pada tanggal 28 Oktober 2017.

Semua atas seizin Allah SWT, doa banyak sahabat, bimbingan mentor yang sudah berpengalaman dengan trauma dan luka batinnya sendiri. Terlebih, semua atas dukungan suami dan anak-anakku.

Terlebih, aku mempunyai tujuan utama memberi contoh kepada kedua anakku kala itu, Tyaga usia 5 tahun dan Jehan 2,5 tahun.

Daya juang yang tinggi, semangat yang membara, kesabaran, ketelatenan, hingga berusaha tetap istiqomah melewati setiap prosesnya yang menyakitkan. Namun, kemauan yang besar untuk mengubah diri sendiri lebih dulu menjadi pribadi yang dilembutkan Allah SWT. Itu kuncinya. MasyaAllah…

Sokaraja, 30 November 2019

-Ribka ImaRi-

(Penulis, Penyintas Depresi dan Bipolar, Mentor Parenting Kelas Online)

Sumber foto: dokumentasi pribadi

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan