Kisah Hikmah Latihan Menulis Komunitas Motivasi dan Inspirasi Parenting

Satu Ucapan Terimakasih, Dasyat Manfaatnya

Satu Ucapan Terimakasih, Dasyat Manfaatnya

Oleh: Ribka ImaRi

Sewaktu kecil, rasanya aku haus ucapan terimakasih dari orangtuaku. Aku pernah meratapi diri, “Percuma juga usaha dapat prestasi. Selalu saja kurang di mata bapak.”

Setelah menikah dan menjadi ibu, pengalaman buruk di atas membuatku terpacu untuk belajar mengubah pola asuh demi kedua anakku. Aku mulai membiasakan diri mengucapkan terimakasih sekecil apapun yang dilakukan kedua anakku.

Satu ucapan terimakasih itu aku mulai di Agustus 2011. Pada saat pertama kali melihat garis dua di testpack waktu awal hamil Tyaga. Aku mulai membiasakan diriku mengajak bicara nyaring (sounding) kepada perut saat mengucapkan terimakasih. “Terimakasih ya, Nak sudah mau tumbuh di rahim Bunda. Bunda beruntung sekali. Tumbuh dengan baik ya, Sayang.”

Ajaib masyaAllah … janin Tyaga dan Jehan luar biasa mudah diajak bekerjasama dalam berbagai keadaan yang sulit sekalipun. Yang paling kuingat, saat harus makan tetapi mual dan muntah terus menerus atau menyetir mobil, karena suami tidak bisa mengantar atau memasak saat mual muntah hebat.

Janin Tyaga atau Jehan bisa anteng tak bergerak selama bunda makan, jadi bisa masuk makanan. Pun selama bunda menyetir, janin Tyaga dan Jehan bisa anteng tidak bergerak. Baru mulai bergerak lagi setelah kami sampai di rumah. Setelah bunda mengucap terimakasih sudah bisa bekerjasama dengan baik dan anteng selama bunda menyetir.

Kebiasaan baik itu terus berlanjut sampai pagi ini. Sudah hampir 8,5 tahun ini berlangsung terus menerus terekam di pikiran bawah sadar Tyaga dan Jehan sejak janin.

“Terimakasih ya, Sayang … tadi sudah baik selama di atas motor. Terimakasih juga sudah baik selama di perpusda tadi. Mau mendengar yang Bunda bilang. Itu semua sangat berarti buat Bunda,” ucapku pada Tyaga dan Jehan setibanya kami dirumah kemarin sore. Sepulang dari jalan-jalan di hari minggu. Hanya bertiga, tanpa ayah. Yes! Kami bisa pergi jalan-jalan dengan menyenangkan.

Dan pagi tadi, “Terimakasih ya, Sayang … Mas dan Dede sudah baik dari mulai bangun tidur sampai tiba di sekolah. Ini sangat membantu bunda selama ayah sedang di Malang. Mas dan Dede benar-benar sangat membantu Bunda ”

Ucapan terimakasih itu berulang-ulang ku ucapkan dihadapan kedua anakku. Meski untuk hal yang sangat sepele sekali pun. Karena aku yakin dan sudah merasakan manfaatnya sejak keduanya masih menjadi janin dalam kandungan. Karena aku percaya, hal ini dapat membuat kedua anakku merasa BERARTI & DIHARGAI SEGALA USAHANYA, SEKECIL APAPUN, BERJUANG MENJADI ANAK BAIK.

Tak lupa kuucapkan terimakasih untuk diriku sendiri. Sekecil apapun progresnya, aku menghargainya.

“Terimakasih diriku, inner child(IC=jiwa masa kecil) dan adult self(AS=jiwa dewasa=AS), kita bisa bekerjasama dengan baik. Terimakasih diriku (IC & AS) sudah bisa baik, lembut dan sabar luar biasa pada Tyaga dan Jehan sejak ditinggal ayah sedari hari sabtu malam sampai pagi ini. Terimakasih diriku, kita sudah berhasil menyiapkan keperluan sekolah Tyaga dan Jehan semuanya sendiri dan mengantar semuanya sendiri. Terimakasih diriku, sudah bisa tidak panik lagi seperti dulu saat melihat jam yang sudah mepet jelang masuk sekolah, lalu jadi kasar menaikkan Tyaga dan Jehan ke atas motor. Terimakasih diriku, kita sudah bisa melepas kedua anak kita berangkat sekolah dengan mata binar penuh cinta, kecupan basah di pipi, pelukan hangat dada ketemu dada dan elus punggung serta kecupan mesra di punggung tangan Tyaga dan Jehan. Lalu membisikkan kata indah ‘bismillah … sekolah yang bahagia ya sayang.’ Sambil melambai penuh rindu sebab akan berpisah beberapa jam ke depan.”

Ini prestasi membanggakan buatku, mantan ibu monster. Yang 3 tahun lalu selalu saja ada hardikan, mata melotot, tangan melayang dan mulut merepet tiada henti sampai dower mirip bibir bapakku saat marah di pagi hari.

Ucapan terimakasih kepada diriku sendiri mampu melepaskan semua rekaman ucap dan laku bapakku yang telanjur terekam di pikiran bawah sadarku. Meski aku sadar untuk menciptakan momen indah bersama anak dan berjuang untuk tidak marah.

Namun kenyataannya aku pernah merasa sangat sulit sekali untuk menghentikan marah di pagi hari yang terjadi 3 tahun lalu ketika aku masih LDM-an dengan suami. Karena terpicu kenangan buruk masa kecil yang sama persis yang aku hadapi ketika mengasuh Tyaga dan Jehan.

Tiga tahun lalu, hampir setiap pagi ku isi dengan marah, marah dan marahnya saat mengantar anak sekolah. Apalagi hari senin. Semua terasa hectic. Bikin stres luar biasa. Napas menderu bunyi ngik ngik ngik saat menata keduanya naik ke atas motor. Ada rasa takut terlambat. Ketakutan itulah yang memicu marah menjadi terlampiaskan kepada Tyaga dan Jehan yang masih sangat kecil kala itu.

Setelah belajar MINDFULNESS PARENTING, satu per satu rekaman buruk di pagi hari itu aku reka ulang. Aku rekonstruksi menjadi kenangan baik untuk kedua anakku, Tyaga dan Jehan seperti yang kutulis di atas.

Mau anak tetap baik menurut fitrahnya? Berjuanglah menjadi ibu yang membaik. Dengan selalu ucap terimakasih bahkan untuk hal yang sangat sepele. Karena satu ucapan terimakasih, dasyat manfaatnya buat anak dan ibu. Apalagi jutaan rekaman ucapan terimakasih yang menancap di pikiran bawah sadar anak membuat anak bertambah bahagia. Tak lupa doa dan serahkan hasilnya pada Allah yang selalu memberi kebaikan.

-Ribka ImaRi-
Pejuang Depresi dan Bipolar
Mentor Kelas Tantrum Anak
Mentor Kelas Mengasuh Anak Laki dan Perempuan
Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (jiwa masa kecil)
wa.me/6285217300183

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan