Hari-Hari Bersama Duo ImaRi Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Parenting Tema Ditentukan Writing Challenge Rumedia (WCR)

Sahur Pertama sebagai Media Pembelajaran untuk Menerima Keadaan Pandemi Corona

Writer Challenge Rumedia

Tema ditentukan : Sahur Pertama

Sebenarnya, sejak awal memeluk agama Islam dan menikah di tahun 2010, bagiku tidak pernah ada hal istimewa di sahur pertama. Sebab memang tidak ada momen berkumpul bersama keluarga besar seperti kebanyakan orang. Tidak berkumpul bersama keluarga besarku karena mama dan bapak memang tidak menjalankan ibadah puasa sebab keduanya masih non muslim. Pun, tidak berkumpul dengan orangtua dari suamiku. Sebab keduanya sudah almarhum semua.

Jadi sudah sepuluh kali puasa kulalui hanya bersama keluarga kecilku. Pernah sih, satu kali di Ramadan aku sekeluarga bisa sahur pertama bersama keluarga mas kandungku. Itu semua bisa terlaksana karena dua hari menjelang Ramadan di tahun 2016, kami baru saja hijrah, pindah rumah dari Depok, Jawa Barat ke Sokaraja, Banyumas. Jadi aku dan suami sekalian berniat mengunjungi rumah kakak pertamaku.

Tak disangka hari itu bertepatan dengan malam Ramadan. Jadilah kami menginap dan keesokan harinya bisa melaksanakan sahur bersama. Tak kupungkiri, berkumpul dengan keluarga selain keluarga inti memang menambah semarak dan bahagia menyambut Ramadan. Namun semenjak itu, lagi-lagi aku menyambut sahur pertama hanya bersama suami dan kedua anakku.

Seperti halnya sahur pertama di Ramadan 2020 ini. Tak ada beda dengan sahur di Ramadan tahun-tahun lalu. Namun Ramadan ini adalah kali kedua suamiku bisa serumah lagi. Setelah tiga kali Ramadan kami terpisah jarak akibat LDR-an. Ditambah bonus, Jehan, anak perempuan keduaku sudah bisa ikut sahur bersama. Semakin melengkapi kebahagiaan keluarga kecil kami.

Seusai salat Tarawih pertama, malam menjelang tidur, tak lupa aku mengerahkan sounding untuk diriku, suami, Tyaga dan Jehan. Agar besok bisa bangun sahur dalam keadaan siap. Terutama kedua anakku, supaya bisa koperatif saat dibangunkan jam 3.30.wib

Kukatakan pada suami dan kedua anakku, “Maaf ya, Yah, Mas, Dede … besok sahur pakai sayur sop dan nugget ayam. Maaf seadanya. Karena Bunda terakhir belanja kan hari Selasa lalu, jadi stok di kulkas seadanya buat sahur pertama besok di hari Jumat. Bunda baru akan belanja hari Senin depan. Karena ada pandemi corona, Bunda nggak bisa sering-sering ke luar rumah. Kalau mau dimasakin apa bilang ya. Tapi tolong sabar tunggu sampai Bunda bisa ke luar rumah buat belanja lagi. Oh iya, maaf juga Bunda nggak bisa ikut sahur karena masih menstruasi.” Panjang lebar aku menjelaskan secara rinci tentang gambaran kondisi besok dan masakan untuk sahur pertama kami.

“Iya, Bun.” Ketiganya menjawab kompak sekali. Karena memang aku sudah terbiasa sounding seperti itu bahkan sejak keduanya masih MPASI (Makanan Pendamping ASI). Hal itu kulakukan demi mencegah kedua anakku rewelan saat makan. Aku mendidik kedua anakku untuk belajar menerima apa adanya sayur dan lauk yang sudah kupersiapkan dan kuhidangkan. Alhamdulillah selama ini cara ini terbukti ampuh membuat Tyaga dan Jehan mudah makan apa saja. Meski ada momen susah makan, tetapi masih bisa termasuk hitungan normal.

“Biasanya kalau buka puasanya pas weekend, kita makan di luar–maksudnya restoran–ya, Bun.” Tiba-tiba Tyaga, anak pertamaku yang sudah berusia delapan tahun, nyeletuk di tengah makan sahurnya bersama ayah dan adiknya.

“Oh iya. Betul banget. Biasanya habis magrib dulu di rumah, terus kita pergi buka puasa di mall. Kangen ke mall ya, Mas.” kataku membenarkan ucapan Tyaga dengan antusias.

“Iya kangen, tapi sekarang harus di rumah aja lebih aman. Kan nggak boleh berkerumun karena lagi lockdown biar mencegah penyebaran virus corona.” sambung Jehan menimpali dengan sedih pada awalnya, tetapi kembali bersemangat di akhir kalimat. Ia baru akan berusia enam tahun bulan Agustus nanti, tapi alhamdulillah daya logikanya sudah bisa nyambung saat diajak diskusi

“Pinter amat udah ngerti.” MasyaAllah … puji Ayah yang dari tadi senyum-senyum melihat dua anaknya aktif berceloteh padahal masih dini hari jam 3.30 tapi mata keduanya berbinar menyambut sahur pertama kami.

“Bunda senang, anak Bunda sudah pada mengerti keadaan sekarang ini. Kita yang sabar ya, Nak. Terima saja dulu keadaannya memang lagi kayak gini. Ambil hikmah-Nya, kita jadi bisa fokus ibadah di rumah aja tanpa mikirin buka puasa diluaran. Sambil terus berdoa bismillah keadaan ini segera berakhir. Supaya kita bisa kembali jalani hidup seperti biasanya. Kita semangat sabar ya sayang ya … ya, sudah yuk semua lanjut makan sahurnya supaya nggak terburu-buru imsyak nanti.” kataku menutup diskusi kami sekeluarga.

Alhamdulillah, lega dan senang lihat dan dengar celoteh kedua anakku yang sudah mengerti keadaan yang sedang terjadi. Karena memang kami terbiasa diskusi terbuka tentang hal apa pun dari keduanya bisa diajak ngobrol di usia belasan bulan saat masih batita. Jadi sekarang lebih mudah memberitahu keduanya untuk benar-benar harus patuh imbaun pemerintah untuk stay at home karena keadaan pandemi corona ini.

Sahur pertama di Ramadan tahun ini kami jadikan media pembelajaran menerima keadaan pandemi corona untuk tetap di rumah saja meski ada keinginan kuat untuk jalan-jalan terlebih buka puasa di luar. Termasuk menerima apa pun makanan yang bisa terhidang, seadanya, semampunya bunda memasaknya untuk menu berbuka puasa seperti foto di bawah ini.

Sebagai orangtua kami berjuang memberi contoh nyata menerima keadaan dengan menerima apa pun yang terhidang di depan mata. Meski sejujurnya tetap ada rasa bosan, tapi terus berjuang untuk tidak mengeluhkan ini itu atas keadaan yang terjadi. Anak-anak jadi belajar langsung melalui teladan dari orangtuanya. Semoga kami tetap terus bisa menjadi teladan yang baik di saat keadaan kehidupan sedang sesulit apa pun. Agar keduanya pun tetap bisa menerima keadaan hidup yang sulit kelak keduanya dewasa nanti.

Belajar menerima keadaan yang ada satu per satu dan bersabar jalaninya, ini juga menjadi media pembelajaran pengendalian diri atas keinginan semata. Karena sejatinya ibadah puasa di bulan Ramadan bukan saja berjuang mengendalikan lapar dan haus, tetapi juga berjuang mengendalikan diri dari hawa nafsu dan emosi.

Ketika muncul kelebat pikiran kepingin makanan ini atau itu saat sahur atau berbuka, kepingin buka puasa di resto favorit dan bersama para sahabat, kepingin jalan-jalan mumpung bisa libur sekeluarga.

Begitu juga saat ada kelebat ingin marah dan emosi akibat anak-anak yang ada-ada saja kelakuannya, buru-buru aku mengerahkan teknik-teknik di mindfulness parenting di bawah ini:

-PAUSING (jeda sesaat) dengan cara menarik napas panjang dan dalam. Lalu menghembuskannya panjang dan dalam juga.

-ACCEPTANCE (menerima) fokus dengan rasa syukur atas kesempatan bisa berkumpul dengan suami dan anak. Di luar sana masih banyak pejuang LDR yang terpaksa belum bisa bertemu karena kondisi lockdown seperti saat ini di pandemi corona. Bersyukur, dengan di rumah saja jadi bisa beribadah khusyuk bersama keluarga inti karena tidak sibuk ke mana-mana. Banyak bersyukur atas rezeki yang sudah Allah sediakan bagi keluarga kecilku. Di luar sana masih banyak orang yang berkekurangan. Bersyukur memiliki dua anak yang sehat, cerdas dan saleh serta saleha. Jadi saat keduanya memancing emosi, aku bertekad jangan sampai aku kalah pada emosi sesaat untuk marah pada Tyaga dan Jehan.Dengan mengingat ini terus, jadi semakin menambah rasa syukur setiap saat.

-AFIRMASI POSITIF, dengan terus berdoa seraya afirmasi positif dalam diri agar suasana beribadah nan indah ini bisa berlanjut sampai ke surga-Nya kelak. Bismillah … kami berempat, aku, suami dan kedua anakku bisa tetap berkumpul di surga nanti. Aamiin.

Alhamdulillah Allah perkenankan aku bisa tetap stabil emosi hingga puasa pagi ini. Ini pernah sangat tak mudah bagiku penyintas depresi dan bipolar yang sewaktu-waktu bisa mood swing jadi mudah terpancing emosi bahkan meledak marah dan mengamuk pada anak. Atas seizin-Nya, kini mood swing itu pun bisa terkendali dengan rajin berlatih pausing saat puasa seperti ini. Dengan terus berdoa mohon kekuatan pada Allah dan mengucap RADICAL ACCEPTANCE (PENERIMAAN MENDASAR)TYAGA JEHAN TERLALU BERHARGA UNTUK AKU BENTAK-BENTAK, OMELIN, APALAGI SAMPAI AKU AMUKIN. AKU HARUS KUAT MENGENDALIKAN EMOSI TERLEBIH DI SAAT PUASA SEPERTI INI. DEMI TYAGA JEHAN JUGA BISA BELAJAR MENGENDALIKAN EMOSI DI SAAT PUASA SEDARI KECIL. KARENA SEJATINYA ANAK ITU MENIRULAKUKAN DAN MENCONTOH ORANGTUANYA TERUTAMA IBUNYA.”

Sokaraja, April 2019

-Ribka ImaRi-
Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)

Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (2018)

Mentor Kelas Tantrum Anak (2018)

Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (2019)

Founder ImaRi’s Corner Parenting (2020)

imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan