Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Bebas Kategori Tetap Writing Challenge Rumedia (WCR)

Jiwa Masa Kecil yang Penakut Kini Menjadi Pemberani

Awal Febuari lalu suamiku tidak berada di rumah selama lima hari. Aku dan kedua anakku, hanya bisa sesekali video call disaat beliau sempat dan sedang coffee break. Kami tidak bisa setiap saat menghubungi karena beliau sedang meeting nasional.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Tak disangka, Jehan, anak keduaku sakit muntah dan diare selama dua hari. Betapa repot yang kurasakan. Hari-hariku penuh tantangan. Alhamdulillah Jehan semakin membaik.

Tantangan lain datang menghampiri. Di saat hujan deras luar biasa. Tyaga dan Jehan sedang tidur pulas. Ditambah mati listrik. Lengkap sudah sepinya.

Aku jadi teringat peristiwa tiga tahun lalu, ketika awal pindah ke rumah ini. Aku merasa jiwa ribka kecil (Inner Child) yang terjebak dalam tubuh dewasa berusia 36 tahun pasti stres berat bahkan depresi menghadapi anak sakit dan hujan lebat seperti ini. Lalu melow nangis berderai-derai dan terkena serangan panik ketakutan karena sendirian akibat kelebat-kelebat trauma saat hujan.

Menghadirkan rasa depresi yang rasanya luar biasa tidak enak sama sekali. Ingin beli obat penghilang ingatan supaya saat teringat tidak membuat menangis lagi. Bahkan ingin mati saja rasanya supaya bisa melupakan semua trauma yang menyesakkan jiwa.

Tiga tahun lamanya aku berjuang keras untuk belajar dan berlatih MINDFULNESS PARENTING demi mengasuh Inner Child-ku. Alhamdulillah sudah bisa santai luar biasa sekarang. Aku tetap bisa lembut kepada Tyaga dan Jehan. Merawat Jehan yang sakit. Mengurus keduanya meski aku sangat lelah luar biasa karena selama 5×24 jam benar-benar sendirian. Tak ada orang dewasa lainnya di rumah yang bisa membantu bergantian mengurus Jehan yang sedang sakit walau sebentar saja.

Dan barusan, jam tiga pagi, aku membuka video dari adik bungsu Pamela Wuri yang ngeprank isinya pocong di depan mata. Aku sudah bisa tidak deg-degan apalagi ketakutan. Sekarang Ribka kecil dalam tubuh dewasaku diusia 39 tahun sudah bisa sangat berani dan tanpa air mata setetes pun ketika menghadapi semua yang diluar kendali. MasyaAllah alhamdulillah.

Itu semua bisa terjadi atas seizin Allah dan juga karena aku sudah memahami akar dan trauma inner child yang membuatku takut.

Yakni hujan. Satu kata menghadirkan beberapa trauma masa lalu.

1. Trauma masa kecil terjebak banjir ditengah hujan lebat saat usiaku baru 10 tahun di tahun 1990. Ini merupakan akar dari inner child trauma hujan.

2. Trauma sesudah dewasa, mendapati teman kos hampir diperkosa orang asing yang mencungkil jendela disaat hujan sangat lebat ketika usiaku sudah usia 25 tahun di tahun 2005.

3. Trauma sesudah dewasa melihat korban kecelakaan lalu lintas dalam kondisi telungkup dipinggir jalan dan aku melintasi jalan di depanya yang mengalir darah si korban. Darah itu mengalir deras di tengah jalan karena hujan lebat luar biasa. Saat itu usiaku sudah 29 tahun di tahun 2009. Tetap saja aku mengalami serangan panik. Aku menangis tergugu di atas motor sepanjang perjalanan dari lokasi kejadian di Lenteng Agung, Jakarta Selatan sampai di rumah orangtuaku di Kembangan, Jakarta Barat.

Berkat pertolongan Allah, selama tiga tahun lamanya, jiwa masa kecil yang penuh ketakutan akhirnya bertumbuh dan berkembang menjadi jiwa dewasa (Adult Self) yang pemberani. Alhamdulillah ketiga trauma itu sudah berhasil aku tangani dengan baik. Jadi saat mengingatnya aku sudah bisa benar-benar santai.

Batinku sudah bisa bicara, “Oh … hujan ya … ya sudah nggak usah takut ya Ribka kecil, ada aku Ribka dewasa disini menenamimu. Meski sedang tak ada suami di sisi, ada Allah yang menjaga kita.”

Untuk tumbuh dewasa secara seimbang baik fisik maupun psikis, bukan hanya makan yang banyak dan sehat saja agar tubuh tidak gagal tumbuh. Tetapi perlu mengasuh jiwa masa kecil dalam diri untuk terus belajar mendewasa sesuai tahapan usianya. Agar tidak terjadi kegagalan tumbuh psikis.

Sebab dulu semasa aku kecil, orangtuaku belum punya ilmu parenting yang bisa mengajarkan diriku menjadi pribadi dewasa dan pemberani dalam segala situasi. Aku menyadari, itu bukan sepenuhnya kesalahan orangtuaku. Jadi, aku memilih untuk mengambil tanggung jawab mengasuh jiwa masa kecilku sendiri yang masih tumbuh prematur secara kejiwaan. Agar bisa mendewasa, kuat dan tangguh menghadapi liku kehidupan seperti sekarang ini. Alhamdulillah.

-Ribka ImaRi-
Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)

Mentor Kelas Mengasuh Anak (2018)

Mentor Kelas Tantrum Anak (2018)

Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (2019)

Founder ImaRi’s Corner Parenting (2020)

Mau belajar mengasuh Inner Child juga?
Hubungi Mentor Ribka ImaRi
wa.me/6285217300183

imariscornerparenting/ribkaimari

writerchallengerumedia/temabebastetap/proyekbukuinnerchild

0Shares

Anda mungkin juga suka...