Hari-Hari Bersama Duo ImaRi ImaRi's Blog Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Tema Bebas Kategori Segar

Reaksi VS Respon

Oleh: Ribka ImaRi

Bundaaaaa…” suara riangnya sekeluar sekolah menyapaku yang sedang menunduk sibuk dengan iPad, membalas komen mba Riesa Imami Ekaningtyas di FB siang tadi.

“iya sayaaaang…” setelah sebelumnya ku kembangkan dulu senyum terbaikku untuk jagoanku tersayang. Segera kualihkan pandangan dari iPad ke wajahnya yang sumringah dengan senyum lebar memamerkan deretan giginya yang putih bersih sedari bayi sampai sekarang usia 5 tahun 4 bulan meski sudah lulus masa balitanya.

Ya, dia jagoanku yang diamanahkan Allah SWT untukku, kujaga sebaiknya dengan memberi pengertian panjang lebar kepadanya tentang gigi sehat kuat. Bahkan lagu ciptaanku sedarinya batita “gigiku putih bagai mutiara, ku sikat selalu biar bersih” masih diingatnya hingga sekarang. Darinyalah adiknya yang kini masih batita belajar lagu2 ciptaanku.

Namun siang tadi senyum lebarnya, ternodai oleh baret2 putih di sisi kiri dan kanan pipi gembilnya.

Ya, lendir pileknya bukan saja menyembul di pintu lubang hidungnya tapi menyebar sampai ke pipi.

“hahahah…lucunya anak bunda..gemes lihatnya”. Kurengkuh kepalanya ke dalam pelukanku, ku ciumi kepala dan kedua pipinya. Hampir selalu seperti itu jika aku memperlakukan jagoanku kala pertama bertemu sepulang jagoanku pergi dengan ayahnya/sekolah. Jika belum memungkinkan melakukan ritual mesra ke jagoanku, maka setibanya dirumahlah ritual itu kulakukan demi bonding maksimal kepada jagoanku, anak pertama ku, lelaki kesayangan bunda (diapun sudah tahu kalau ayahnya adalah kekasihnya bunda, karena aku terbiasa punya sebutan khusus untuk suamiku (kasihku), anak lelakiku (sayangku) dan anak perempuanku (cintaku).

“kenapa bunda ketawa?” tanyanya bingung lihat bundanya tertawa lebar kala pertama bertemu sepulang sekolah.

“itu mas celemotan ingus sampai pipi..emang tadi ga di lap pakai tisu?kan bunda bekelin tisu di tas//ga”(hadeeeh dalam hati)

Segera ku keluarkan tisu basah dari dalam tas ku, ku basuh seluruh pipinya yang baret2 putih celemotan lendir pileknya.

Sungguh, kali ini aku melakukannya dengan tidak ada sensasi stres sedikitpun. Biasanya kepala belakang tiba2 berat, gremet2 serasa kesemutan sekepala karena jijik melihat lendir pilek menyembul di ujung hidung.

Tapi siang tadi tubuh dan jiwaku tidak lagi bereaksi. distress empathy berganti respon positif nih pak mentor Supri Yatno : menerima apa adanya keadaan jagoanku yang sedang batuk pilek sudah hampir 1 minggu tapi tak kunjung sembuh.

padahal banyak ikhtiar sudah kulakukan, diantaranya : rajin makan buah dan sayur, rajin pakai Young Living essential oil, minum madu syamil, minum serbat rempah2 bumbu dapur, istirahat dan makan yang cukup. tapi apa daya, cuaca dingin tak bisa dihindarkan dan sejak masuk sekolah harus mandi pagi tanpa air hangat (karena ga mau pakai air hangat), jadilah badan drop mudah terserang batuk pilek.

Hal yang sangat biasa dan sangat umum terjadi di pengasuhan ibu yang perfeksionis. kini, sudah mulai terbiasa aku tanggalkan sisi perfeksionisku. aku tak ingin menyiksa diriku terlalu lama dengan berbagai standar tinggi mengurus dan merawat anak. Apalagi sampai nyetrum ke anak, bahwa ku menyesali keadaan anakku yang sakit tak kunjung sembuh.

Aku tahu sejak awal semua ada sebabnya mengapa aku begitu keras menuntut diriku sendiri untuk melakukan segala usaha yang terbaik untuk anak2ku.

Dan sekarang, sejak 1 tahun lalu aku belajar di kelas Mindfulness Parenting, aku jadi semakin tahu bahwa semua ada akarnya. kenangan masa kecilku yang sakit2an, membuatku berjuang keras merawat anak kedua anakku.

Maka ketika usahaku untuk membuat sehat anakku, tidak mendapat respon 100% dengan tidak habisnya bekalnya hari ini, aku masih bisa meresponnya dengan menerima alasannya bahwa masih kenyang di sekolah karena sudah sarapan seporsi sampai habis tadi pagi.

Dan yang lebih membuatku sangat bersyukur memang bukan hasil habisnya bekel ini, tapi proses yang menyertainya. sedari semalam sounding ke jagoanku sehingga dia sudah bisa menyampaikan permohonan maaf orang tuanya ke Bu Guru Wali Kelas ” maaf ya bu..saya bawa apel.soalnya tadi malam muter2 ke toko buah ga ada pisangnya”. dan Alhamdulillah jagoanku tetap percaya diri menghabiskan bekel cah kembang kol, wortel dan jagung muda (putren) sementara semua teman sekelasnya berbekal sayur kacang panjang sesuai jadwal. bundanya masak bekel tidak sesuai jadwal karena masih punya sisa stok sayuran mingguan.

“sayurnya habis bun”beritahunya di motor tadi sepanjang jalan pulang sekolah.

“oya???waah makasih ya sayang sudah habisin sayurnya// iya bun..mas Tyaga suka banget sih” langsung melayang ke udara rasanya.

Hilang lenyap kesal di hati kala membuka box nasi yang masih lumayan banyak dan sisa setengah porsi telor ceplok. berganti rasa syukur melihat box sayurnya bahwa jagoanku memang jago makan sayuran apapun sayurnya dan dengan cara apapun aku memasaknya. masyaaAllah…alhamdulillah.

Ternyata yang dibutuhkan seorang ibu bukan hanya ilmu memasak yang mumpuni, tapi juga ilmu Mindfulness Parenting yang jitu agar bisa merespon dengan baik perilaku anak ketimbang memberi reaksi negatif terlebih dulu ya pak Mentor Supri Yatnodua

31 Juli 2017

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan