Hari-Hari Bersama Duo ImaRi ImaRi's Blog Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Mental Illness Mindfulness Parenting

RA (Radical Acceptance), Tak Ingin Membawa Luka Batin Sampai Mati

Oleh: Ribka ImaRi

Satu tahun lalu,

Dalam derasnya hujan di sepertiga malam tadi, aku terjaga. Jika tiga tahun tahun lalu, saat masih puncaknya rasa dendamku, sudah pasti jantungku debar-debar kencang dan nyeri sekali akibat teringat luka batin yang ditoreh kedua orangtuaku. Ditambah rasa takut luar biasa, jika aku mati masih membawa luka batin.

Namun pagi tadi, aku sudah bisa langsung teringat berdoa untuk bapak dan mama agar sehat selalu sampai kami bisa bertemu lagi. Akhirnya, aku juga sudah bisa plong saat berdoa. Setelah berhasil mengendalikan EGO (Emosi, Galau, Obsesi) yang teraduk-aduk rasa rindu ingin segera bisa ke rumah orangtua. Namun apa daya, ada banyak pertimbangan yang membuat tak semudah ucapan dan tak semudah membalik telapak tangan demi menempuh jarak 600 Km antara rumahku di Sokaraja menuju Jakarta Barat, rumah orangtuaku.

Dalam doa kusematkan keyakinan akan ada waktu terbaik dari Allah untuk kami bisa berpelukan dalam keadaan yang berbahagia. Aku yakin doa di waktu hujan turun adalah saat mustajabnya do’a. Bismillah doaku semakin mudah terkabulkan.

Dengan ringan hati aku mengirim pesan ke aplikasi WhatsApp mamaku, “Mama, Bapak love u.”

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Ada rindu menelusup di relung hati dan perasaan berdesir dan membatin, “Aku sudah memaafkan Mama dan Bapak sampai ke akar-akarnya,” membuatku benar-benar bersyukur. Ini pencapaian tertinggi dalam hidupku. Manakala dendam kesumat itu telah Allah ubah menjadi welas asih kepada kedua orangtuaku. Meski ragaku belum bisa memeluk keduanya, aku sudah bisa memeluk mereka dalam doa.

Ya, bagaimana aku tidak menyebutnya dendam kesumat. Sedari remaja di tahun 90-an, aku sudah pernah meludahi kopi yang bapak minta agar aku membuatkannya untuk beliau. Pun, di Agustus 2017 ketika mamaku sakit syaraf tulang belakangnya terjepit, sampai beliau harus merangkak membuatku pernah berniat tidak akan menjenguknya lagi. Bahkan aku berniat tak ingin menemuinya lagi meski ajal menjemput.

Sejauh aku pergi ke Semarang saat kuliah di tahun 1999, lalu ke Sumatera Barat (Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, Batusangkar) saat bekerja di tahun 2005. Kemudian ke Kuala Lumpur dan Hongkong di tahun 2008 dan 2014 sewaktu mendapat hadiah perjalanan wisata dari kantor. Aku terlihat baik-baik saja. Namun, LUKA BATIN itu nyata terus kelebat-kelebat ke mana pun kakiku melangkah.

Aku lelah. Aku ingin mengakhiri semua supaya tidak sakit lagi saat mengingatnya. Terlebih disaat mengasuh kedua anakku. Semua kenangan masa kecil yang tak ingin kuingat-ingat lagi justru bermunculan bak film yang diputar ulang.

Sungguh, aku ingin berteriak, “Stop! Aku capek!”

Namun, kelebat-kelebat itu semakin nyata bahkan disaat mataku terpejam otakku berputar-putar menghadirkan kenangan masa kecil yang menari-nari di pikiran, perasaan, hati dan mataku.

Namun Allah Yang Maha Kuasa membolak-balilkan hati hamba-Nya. aku melakukan islah dengan mama dan bapak pada tanggal 28 Oktober 2017. Niatku hanya ingin bebas dari belenggu LUKA BATIN yang pernah aku bawa-bawa ke mana pun aku pergi selama 37 tahun usiaku saat itu. Bahkan jika mungkin aku meninggal lebih dulu dari kedua orangtuaku aku sudah pasrah.

Demi memberi contoh nyata kepada Tyaga yang saat itu sudah berusia 5 tahun 7 bulan, yang sudah mengerti pembicaraan kami orangtuanya, aku benar-benar bertekad melakukan perbaikan hubungan dengan kedua orangtuaku. Agar langkahku ringan dalam mengasuh Tyaga, anak pertamaku dan Jehan, anak keduaku. Supaya Tyaga pun mudah memaafkan banyak kesalahan yang aku pernah buat.

Alhamdulillah … setelah dua tahun lebih sejak proses islah, dengan berbekal RADICAL ACCEPTANCE dari Mindfulness Parenting yang aku pelajari dari Mentorku, Bapak Supri Yatno di Agustus 2016, kini ada kedamaian mengisi jiwaku. Bahagia yang sebenarnya sampai ke kedalaman hatiku.

Sokaraja, 16 Juni 2020
-Ribka ImaRi-
Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
Founder support grup ImaRi’s Corner Parenting (2020)
Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan