Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Bebas Kategori Segar Writing Challenge Rumedia (WCR)

Proses Islah dengan Bapakku yang Paling Kubenci Selama 37 Tahun Usiaku

Oleh: Ribka ImaRi

Semua yang aku tuliskan ini kisah nyata perjalanan hidupku. Kutuliskan dengan rinci. Agar bisa menginspirasi banyak jiwa yang masih terbelenggu ego diri.

***

“Masih ada waktu untuk berproses dan belajar memaafkan orangtua atau siapa pun sebelum hari nan fitri tiba.” Dulu, sebaris kalimat ini pernah ribuan kali aku tancapkan di otak, hati, pikiran dan perasaanku.

Memang benar bahwa hanya Allah SWT yang bisa membolak-balikkan hati manusia hanya dengan doa. Namun sebagai manusia, kita wajib berikhtiar.

Doa dan usaha menjadi kolaborasi yang hakiki. Hasilnya? Tinggal serahkan kembali ke Allah SWT.

Begitu pula, aku berikhtiar menjalani islah dengan kedua orangtuaku. Dimana saat lebaran 2016 dan 2017 aku bahkan sudah bertekad tak ingin menemui kedua orang tuaku lagi. Bahkan bila mungkin sampai ajal menjemput keduanya. Titik. Sebegitu kerasnya hatiku saat itu.

Kala itu, aku memang sangat membenci kedua ortuku. Terutama dendam kesumat pada bapakku akibat perkataannya yang ribuan kali terucap sedari aku remaja membuatnya selalu terngiang-ngiang di telingaku, “Lu bukan anak gua, Lu anak setan”.

Pernah berkali-kali pikiran itu berkelebat dan hinggap. Menjadi dorongan kuat. Aku sangat ingin bunuh diri ketika usia remaja duduk di bangku SMP saking merasa tidak berharga menjadi anak. Lalu aku sangat ingin membunuh bapak sejak aku duduk di bangku SMU di tahun 1996. Karena saking dendam dengan ucapan beliau.

Aku pun sempat berkata dalam hati, saat melihat foto mamaku merangkak karena sakit saraf kejepit di Agustus 2017 “Syukurin, rasain sakit sampai merangkak nggak bisa jalan. Seperti itulah yang aku rasakan ketika aku waktu lahiran Jehan.”

Ketika melahirkan putri keduaku pada tanggal 20 Agustus 2014, memang tak ada seorang pun yang menemeni apalagi merawatku. Saat suami berangkat kerja, aku hanya bertiga bersama bayiku dan Tyaga, anak pertamaku yang baru berusia 2 tahun 5 bulan. Dulu, trauma luka operasi caesar dan luka pengabaian dari orangtua yang bagiku begitu dalam, pernah membuatku terpuruk dalam jurang depresi yang dalam.

Namun, pada akhirnya Allah memberi titik balik untuk islah setelah aku mengalami kecelakaan bersama kedua anakku di bulan September 2017.

Ketika aku terjatuh dari motor dalam keadaan memeluk Jehan berusia tiga tahun. Aku benar-benar bersyukur ia dan kakaknya selamat. Kami hanya lecet-lecet saja.

Membuatku berkata, “Mau sampai kapan aku hidup membawa beban dendam seperti ini? Mau jadi apa kedua anakku diasuh oleh ibu yang penuh dendam.”

Lalu aku membaca tentang islah.

Islah dalam kajian hukum Islam adalah memperbaiki, mendamaikan, dan menghilangkan sengketa atau kerusakan. Berusaha menciptakan perdamaian; membawa keharmonisan; mengajurkan orang untuk berdamai antara satu dan lainnya; melakukan perbuatan baik; berprilaku sebagai orang suci (baik).

Sumber: Wikipedia

Sebelum melakukan islah, aku sudah berusaha berikhtiar dengan mengikuti kelas bimbingan Mentorku Pak Supri Yatno.

Yakni kelas FORGIVENESS THERAPY, dengan materi seperti di bawah ini:

1. Menemukan alasan kuat memaafkan

Aku tidak mau menyimpan dendam pada orangtua sampai menua usiaku. Aku tak mau menyesal sampai kedua orangtua meninggal aku belum mampu mengucap “Nok sayang sama Mama dan Bapak.”

2. Menemukan halangan-halangan memaafkan

Halangan dalam diriku dulu adalah EGO DIRI & MENTAL KORBAN sehingga sulit COMPASSION (welas asih) ke orangtua.

3. Menguasai teknik radical acceptance

“SEPERTI APAPUN KASARNYA BAPAKKU DAN LUKA PENGABAIAN DARI ORANG TUAKU, AKU BERJUANG MEMAAFKAN DEMI KEBAIKAN DIRIKU SENDIRI. TERLEBIH DEMI MEMBERI CONTOH YANG BAIK UNTUK TYAGA DAN JEHAN SUPAYA BISA MEMAAFKAN ORANG TUA SEPERTI APAPUN ADANYA ORANGTUA.

4. Menguasai teknik kupas bawang

Satu per satu luka batin di kupas. Banyak penyebab dendamku pada orangtua. Salah satunya kasus trauma kalimat, “Lu bukan anak gua. Lu anak setan.” Kalimat ini hampir selalu di ucapkan bapak. Lalu aku TERIMA, “AKU TERIMA SEMUA OMONGAN BAPAK DULU.”

Belum lagi dihina bapak, “Kayak pembantu. Kerjanya cuma ngurus anak.” Waktu aku sudah menikah dan baru punya satu anak di tahun 2013.

Dan masih banyak kalimat lain yang pernah membuat sakit hati. Aku terima satu per satu sampai benar-benar bisa kuterima.

Jika ternyata aku tidak bisa menerimanya, maka aku MELEPASKAN perlahan-lahan sehingga saat mengingatnya, sudah tak ada sensasi sedih, marah dan dendam.

5. Menangani pemicu-pemicu kemarahan dan sakit hati

Salah satunya kasus trauma kata “setoran.” Karena mama yang tidak bisa menemaniku melahirkan anak kedua, hanya karena tetap berjualan di kiosnya. Demi setoran kepada supplier. Kata SETORAN ini pernah membuatku sangat sakit hati. Padahal aku anak perempuan satu-satunya saat itu, tetapi aku rasa terabaikan karena mama lebih memilih berjualan daripada menemani aku melahirkan anak kedua. Pada akhirnya aku bisa menerima ini menjadi kenyataan bahwa mama berjuang mengumpulkan uang untuk diberikan padaku saat datang setelah aku melahirkan.

Akhirnya, atas Kebesaran dan Kemurahan Allah saja, pada tanggal 29 Oktober 2017 aku bisa lega posting foto bahagia bareng bapak dan mama seperti dibawah ini.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

MasyaAllah … Alhamdulillah, tidak menyangka hatiku yang keras seperti batu bisa dilembutkan oleh Allah. Bukan saja memaafkan, tetapi akhirnya bisa duluan memeluk keduanya dengan berucap, “Maafin Nok ya Pak, Ma. Nok sayang Bapak dan Mama”.

Mama yang pun secara spontan berucap, “Maafin Mama ya suka bikin kamu nangis.” Akhirnya mama menyadari kesalahannya tanpa aku merengek-rengek menuntut agar mama dan bapak memahamiku lebih dulu.

Namun aku berjuang mengambil tanggung jawab memaafkan keduanya lebih dulu agar hidupku dan rumah tanggaku kembali terasa damai. Dengan memaafkan kedua orangtua sampai keakar-akarnya dan sampai ke dasarnya perlahan membuatku kembali damai mengasuh kedua anakku dan hubunganku dengan suami semakin membaik. Alhamdulillah.

Seringan itu semua beban dendam selama 37 tahun seakan menguap begitu saja seiring saling mengucap maaf meski Hari Raya Idul Fitri telah usai saat itu. Itu lebih baik daripada meminta maaf di hari nan Fitri hanya berucap di bibir saja, tetapi hati masih memendam dendam.

Sokaraja, 14 Mei 2019
Based on true story by Ribka ImaRi
Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (2018)
Mentor Kelas Tantrum Anak (2018)
Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (2019)
Founder ImaRi’s Corner Parenting (2020)
imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

1 Komentar

  1. Anonim says:

    Tes

Tinggalkan Balasan