Curahan Hati Latihan Menulis Komunitas Motivasi dan Inspirasi

Pikiran Mempengaruhi Tindakan dan Kesehatan

Pikiran Mempengaruhi Tindakan dan Kesehatan

Oleh : Ribka ImaRi

Kemarin sore aku merasakan sesuatu yang tidak beres dengan jari manis tangan kanan. Jika digerakkan, menggenggam atau mengepal, ada rasa nyeri yang kuat di seluruh bagian jari manis tangan kanan. Ada rasa panas dan rasa terbakar yang menjalar dari ujung jari manis tangan kanan sampai ke pundak. Sebenarnya hanya jari manis tangan kanan saja yang sakit. Tetapi untuk memegang gelas saat minum pun, tanganku tak mampu karena tiba-tiba terasa lemah lunglai.

Mendadak melintas pikiran macam-macam dan aneh-aneh. Aku bergumam dan meringis sakit berkali-kali.

‘Astagfirullahaladzim … kenapa juga nih tangan?’

‘Aduh! Mateng deh gue ga bisa ngapa-ngapain. Mana cucian lagi banyak banget.’

“Ya Allah … bagaimana masak besok? Bagaimana bekalnya anak- anak kalau aku ga masak. Bagaimana mau masak, ini jari manis digerakkan saja tidak bisa? Kalaupun bisa, sakit banget.’

‘Bagaimana kalau ternyata tanganku kena penyakit berbahaya dan ga bisa sembuh? Harus dioperasi atau apalah … terus ga bisa sembuh. Bagaimana aku bisa tetap mengetik untuk menulis.’

Dan masih banyak pikiran lain berkecamuk memenuhi otakku. Sebagian besar tentang pekerjaan. Kerja, kerja dan kerja saja yang ada dipikiranku. Maklum, namanya juga ibu rumah tangga. Pikiranku tidak bisa jauh-jauh dari pekerjaan mencuci baju, mencuci piring dan memasak.

Tiga pekerjaan tersebut di atas menjadi utama dan benar-benar tak bisa aku delegasikan. Termasuk membawa cucian kotor ke penatu terdekat dari rumah. Karena aku pernah mempunyai pengalaman tidak menyenangkan dengan penatu. Saat awal pindah ke Sokaraja tiga tahun lalu, membuatku kapok berurusan dengan penatu. Jadi sebisa mungkin aku kerjakan sendiri.

Kalau pekerjaan lainnya, seperti menyapu dan menjemput anak masih bisa aku delegasikan ke suami. Untuk menyetrika, aku bisa menunggu asisten rumah tangga yang hanya datang di hari Sabtu. Atau jika tak datang, aku masih bisa abaikan saja tumpukan pakaian bersih menggunung.

Tapi jika tumpukan pakaian kotor menggunung?aku harus segera bergerak sebelum tumpukkannnya semakin meninggi. Tapi apa daya … tanganku sedang sakit. Bisakah aku paksakan merendam dan mencucinya? Aku takut sakitnya akan semakin parah jika tetap kupaksakan kupakai untuk kerja.

Semakin aku pikirkan takut begini dan takut begitu, rasa nyerinya semakin menjadi-jadi. Saat aku semakin takut, aku merasakan semakin stres akibat memikirkan tanganku yang sakit. Semakin aku stres, tanganku semakin nyeri. Semakin aku merasa diri ini sakit, semakin tubuhku terasa drop. Semakin terbengkalai semua pekerjaan rumah tangga. Ini semacam lingkaran stres yang sebaiknya segera diputus.

Tiba-tiba aku teringat pelajaran Mindfulness Parenting pada bab empat dengan poin bahasan pikiran-pikiran. Dalam modul yang ditulis oleh Mentor Bapak Supri Yatno tersebut dijelaskan bahwa menambahkan pikiran-pikiran ke dalam situasi stres adalah salah satu cara membuat kita reaktif saat dalam situasi penuh tekanan.

Sadar bahwa pikiran-pikiran di atas itu bersifat negatif dan tidak baik untuk tubuh. Saat sedang tidak bersemangat, membuat tubuhku semakin drop.

Jadi aku harus berjuang semangat. Lalu aku segera melakukan pausing. Sebuah teknik di Mindfulness Parenting yang mengajarkan untuk jeda sejenak. Agar bisa menghentikan pikiran-pikiran negatif. Kemudian berusaha mengubahnya menjadi pikiran positif. Aku menarik napas dalam-dalam. Lalu menghembusmannya dalam-dalam juga. Kulakukan terus menerus sampai aku merasa lega.

‘Sekarang aku cuma butuh istirahat sampai tubuhku fit lagi. Bismillah … besok kalau aku bangun pagi sudah sehat. Bisa masak dan urus semuanya. Aku sehat! Aku kuat! Aku baik-baik saja. Aku akan segera sembuh. Aku segera sehat lagi dan bisa melakukan semua pekerjaan rumah.” dengan sungguh-sungguh ku ucapkan afirmasi positif ini kepada diri sendiri.

Kemudian aku tepuk-tepuk bagian tangan yang sedang sakit. Aku hiburkan. Aku pijat. Aku yakinkan besok pagi akan baik-baik saja dan mampu mengerjakan pekerjaan rumah demi suami dan kedua anakku. Sesudah itu aku pamit ke tubuhku saat hendak beranjak tidur malam. Aku terima dan sayangi tanganku yang memang sedang kelelahan.

Esok harinya aku bangun jam empat pagi dengan semangat dan kekuatan baru yang luar biasa dari Allah. Meski saat bangun pagi tangan kananku masih terasa agak sakit. Aku menyakinkan diriku untuk berjuang memulai pekerjaan rumah tangga.

Bahkan ajaib! MasyaAllah … bukan saja tanganku menjadi sembuh. Tetapi aku jadi sanggup mencuci pakaian sebanyak lima ember. Cucian pakaian yang memang menumpuk selama empat hari lalu karena ada keperluan. Sehingga membuatku tak sempat mencuci pakaian setiap harinya.

Tadinya pikiran negatifku membayangkan bahwa aku tak akan sanggup mencuci memakai tangan. Karena mesin cucinya sudah rusak, hanya bisa dipakai untuk mengeringkan saja, selama hampir 2 tahun ini. Jadi memang harus berjuang menyelesaikan pencucian dengan tangan sebisanya saja. Tetapi kemudian aku ganti jadi bayangan bahwa aku akan sembuh sehingga bisa mencuci sebanyak apapun. Toh, selama ini Allah selalu memudahkanku saat mengerjakan semua.

Alhamdulillah saat tulisan ini diunggah, aku sudah bisa menyelesaikan semua pekerjaan rumah yang utama. Aku bisa memasak untuk persediaan makan seharian. Lalu semua cucian baju sudah selesai dicuci, dikeringkan dan dijemur.

Bahkan tanganku sudah terasa membaik setelah aku menuruti suami yang menyuruh meminum obat anti nyeri. Rasa terbakar dan nyerinya sudah hilang. Tinggal rasa kesemutan saja.

Tangan kanan pun sudah bisa dikepal berkali-kali tanpa rass sakit. Jadi bisa mengetik tulisan ini. MasyaAllah … aku bisa sembuh dan bisa mengerjakan semuanya. Berkat pertolongan Allah.

Lihatlah … betapa pikiran yang positif mempengaruhi tindakan positif juga. Sebuah pikiran dan tindakan berjuang sembuh, tubuh pun ikut bekerjasama untuk sembuh. Sehingga sakitnya menjadi tidak berlama-lama. MasyaAllah … alhamdulillah.

Jadi mulai sekarang, yuk belajar mengelola pikiran. Supaya bisa terus berpikir dan bertindak positif demi kesehatan jiwa dan raga.

-Ribka ImaRi-
Sokaraja, 14 Oktober 2019

#Nubar
#NulisBareng
#Level4
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week3
#day14
#SeninTemaBebas
#RNB33
#rumahmediagrup

Izin setor para Admin :
Emmy Herlina
Asri Susilaningrum
Lelly Hepsarini
Hadiyati Triono
Hayfa Ega Farzana Rafie
Syarifah Nur Adni
Fuatuttaqwiyah El-adiba
Melani Pimpom Pryta Dewi
Siti Rachmawati M
Terimakasih 🙏🏻

===

Pengalaman hidup di atas juga berlaku saat sedang menghadapi siklus menstruasi, saat pikiran ketakutan akan nyeri haid, ajaib … seketika perut merasakan nyeri. Jadi benar-benar tubuh itu luar biasa hebat diciptakan Allah, memberi sinyal adanya ketidakberesan emosi yang menumpuk.

Sebaiknya kita tidak abai atas alarm yang dikirimkan tubuh. Sebaiknya kelola pikiran untuk bisa mengendalikan emosi disaat menstruasi.

Yuk, sama-sama belajar caranya, di Kulwap Gratis “Mengasuh Diri Sendiri Saat Mengalami PMS dan Nyeri Haid”, pada:

Hari: Senin, 30 Desember 2019

Pukul: 19-21

Untuk bergabung, silakan klik tautan ini https://chat.whatsapp.com/CNLGoIGwRnSKyseZOeZqhM

Sumber foto: dokumentasi pribadi

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan