Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Ditentukan Writing Challenge Rumedia (WCR)

Perjuangan Ibu Depresi Mengendalikan Emosi

Oleh: Ribka ImaRi

Hai Sahabat ImaRi’s
Apa kabar keadaan emosimu seharian ini?
Semoga selalu stabil saja ya. Sebagai penyintas depresi yang kini sudah bisa stabil, aku memahami betapa sangat tak mudah perjuangan mengendalikan emosi bagi para orangtua pada umumnya dan para ibu pada khususnya.

Baca juga New Normal, to be Mindfulmom

Seorang ibu akan lebih mudah terpicu emosinya oleh tingkah laku anak apabila ia sedang kecapekan, sedang sakit atau PMS atau bahkan hal sepele, sedang lapar karena benar-benar belum sempat makan akibat pekerjaan rumah yang tidak berjeda. Walaupun begitu, tetaplah berjuang dan jangan pernah menyerah, wahai ibu!

Seperti aku yang tak kenal kata menyerah saat berjuang sembuh dari depresi. Aku benar-benar sangat bersyukur, ketika menulis artikel ini sekarang, bahkan sejak awal tahun 2019, sudah dalam keadaan emosi yang sangat stabil. Pun, sudah memaafkan hingga ke dasarnya semua yang pernah menjadi penyebab dan pemicu depresiku. Mereka adalah orangtua, suami, kakak ipar dan mantan tetangga depan rumah.

Meskipun dalam perjalanan hidupku saat ini, masih tetap mengalami fase emosi yang up and down. Namun, hanya marah biasa dan normal. Walaupun masih ada kelebat dorongan kuat ingin mengamuk, Allah menguatkanku untuk bertahan agar tidak meledak. Seperti kejadian di hari Rabu malam (10/6/2020) aku sempat marah kepada Tyaga, anak pertamaku, gara-gara ia tidak mendengar apa yang katakan padahal sudah berkali-kali dibilangin. Saat ini aku sedang menstruasi dihari pertama.

Dulu, biasanya hormon PMS (Pre Menstrually Syndrome) inilah yang kutandai sebagai salah satu pemicu. Membuatku “Pengen Marah Selalu.” Pokoknya seharian itu isinya marah-marah terus. Marah yang selalu kulampiaskan kepada Tyaga dan Jehan. Akibat stres yang berkepanjangan karena mengasuh dua anak sendirian sejak diawal babak baru hidupku yang harus pindah rumah sekaligus menjalani LDM. Membuatku harus melarikan diri ke depan meja psikiater pada tanggal 26 Januari 2017. Psikiater yang menanganiku bilang, jika stres berkepanjangan, sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, bisa dikatakan depresi.

Namun sekarang, atas seizin Allah, aku yang hampir empat tahun belajar mindfulness parenting, sebuah ilmu pengasuhan yang SADAR PENUH untuk PENUH SABAR, langsung mengerahkan teknik pausing (baca arti pausing di artikel: Tyaga dan Jehan Terlalu Berharga Untuk dijadikan Pelampiasan Emosiku).

Sebagai ibu pejuang depresi, aku benar-bener berjuang sekuat tenaga memohon kekuatan dari Allah agar kuat bertahan jangan sampai kelepasan emosi yang membuncah. Alhamdulillah, saat terpicu oleh Tyaga yang lagi susah dibilangin, aku sudah dengan lihai menghentikan marahku agar jangan sampai marah-marah bahkan mengamuk seperti dulu. Sebab kalau sampai marah-marah, biasanya akan memicu kemarahan seisi rumah. Karena stres atau depresi itu menular melalui aura serumah. Apalagi Tyaga sedang ujian Penilaian Akhir Tahun, jangan sampai aku membuatnya jadi stres. Stop stresnya sampai di aku saja. Jangan aku teruskan ke seisi rumah.

Aku ingat betul kejadian ditanggal 20 September 2018 adalah hari terakhirku mengamuk di depan Tyaga yang baru berusia 6,5 tahun kala itu. Aku membanting beberapa buah labu siam sampai hancur berkeping-keping di depan Tyaga dan Jehan. Yang benar-benar aku syukuri karena bisa menahan tanganku untuk tidak kalap menyakiti fisik Tyaga. Aku terpicu karena Tyaga menangis di kamar mandi dalam durasi yang lama akibat disuruh langsung mandi sepulang sekolah. Seketika aku naik pitam karena aku teringat inner child-ku yang sering menangis di kamar mandi.

Sesepele itu inner child-ku terpicu. Namun, kejadian tersebut akhirnya menjadi indikator depresiku yang perlahan tetapi pasti sudah jauh lebih baik. Aku bertekad di hari ulang tahunku yang ke 38 tahun–sembilan hari sejak terakhir kalinya aku mengamuk–untuk jangan pernah lagi mengamuk seperti yang sudah lalu. Tekad ini aku tancapkan dalam hati, pikiran dan perasaan karena kenangan ulang tahunku begitu indah dan berharga. Aku tidak ingin lagi merusak citra diriku yang baik di samping kedua anakku. Melihat keduanya bahagia menyayangiku, aku jadi semakin semangat berjuang untuk terus mengendalikan emosiku.

Tyaga dan Jehan benar-benar sangat berharga untuk dimaki kata-kata kasar atau disakiti fisiknya. Cukup sudah dalam rentang waktu tahun 2016-2018 aku masih mendaratkan tanganku di tubuh mungil Tyaga yang baru berusia 4,3 tahun atau Jehan yang belum genap dua tahun. Aku bahkan pernah mengangkat Tyaga ke udara lalu membantingnya dengan sekuat tenaga.

Astagfirullahaladzim … ampuni aku, ya Allah ….

Beruntung Allah Maha Melindungi kami meski tak ada seorang pun dewasa di rumah. Waktu itu, aku membantingnya ke kasur. Bukan ke lantai keramik seperti kelebat bayangan di pikiranku. MasyaAllah … alhamdulillah semua semata-mata berkat pertolongan Allah SWT.

Kini aku sudah bisa tidak lagi melakukan itu semua. Pencapaian yang tidak pernah kusangka terjadi dalam hidupku. Aku pun sangat takjub pada perubahan diriku sendiri. Pada mulanya, aku adalah ibu yang sangat sabar. Dari Tyaga bayi hingga usia 4 tahun (sebelum aku terserang depresi), dalam kurun waktu sebulan, belum tentu aku membentak Tyaga batita. Apalagi sampai menyakiti kulitnya meski hanya mencubit kecil. Belum pernah sama sekali.

Hingga tiba suatu saat … mari kuceritakan salah satu kejadian yang menjadi penyebab aku depresi berat. Sehingga membuatku sulit sabar saat menghadapi Tyaga atau Jehan sedang menangis tantrum hingga begini rupa. Aku pernah gantian tantrum mengamuk di depan Jehan yang bahkan belum berusia dua tahun di bulan Juli 2016. Akibat menangis tidak berhenti selama perjalanan dari menjemput sekolah Tyaga sampai rumah, aku harus menyetir mobil sambil memangkunya seperti terlihat di bawah ini.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Sudah kuusahakan berkali-kali menepikan mobil untuk menghiburnya sebentar saja. Namun tidak jua berhasil sehingga membuatku tidak tahan mendengar tangisannya. Ada kelebat dorongan kuat ingin menabrakkan saja mobil yang aku kendarai ke truk di depan. Supaya berhenti sekalian tangisnya. Kalau kuingat kejadian itu sangat mengerikan. Lagi-lagi aku bersyukur Allah melindungiku dan kedua anakku. Alhamdulillah, nyata aku masih kuat bertahan.

Dari sinilah cerita stres berkepanjangan dan depresi itu bermula,

Sahur ditanggal 8 Juni 2017 ….

Bangun sahur pertamaku mendapati diri ini dewasa sendirian di perumahan baru. Jauh dari suami, orangtua dan sanak saudara. Membayangkan hari-hari ke depan hanya bertiga Duo ImaRi, Tyaga dan Jehan. Ini adalah kali pertama aku harus menjalani hubungan jarak jauh dengan suami. Long Distance Marriage (LDM) antara Depok-Sokaraja.

Ada rasa sepi dan kosong. Padahal kudapatkan anak-anak yang luar biasa. Anugerah Illahi yang tak ternilai. Keduanya bisa tidur lelap meski malamnya baru saja berpisah dengan ayahnya untuk tiga minggu ke depan menjelang Lebaran 2016. Sebenernya sebuah perpisahan yang bagiku sangat membanggakan. Karena melihat Tyaga dan Jehan sama sekali tidak meneteskan air mata apalagi sampai meraung-raung. Padahal usia keduanya belum lulus balita dan batita.

Kupikir aku sekuat dan setangguh yang kurencanakan di depan kedua.anakku. Ternyata aku merasa kosong, hampa, linglung. Akibat luka pengabaian yang menganga lagi. Meski afirmasi positif ratusan kali kuucapkan penuh keyakinan. “Sudah nasibku begini. Aku harus mandiri sendiri saat tidak ada suami di rumah. Selama ini, aku mengurus rumah tangga kami memang hanya berdua suami. Kami belum pernah bisa meminta dibantu orang tua. Bahkan untuk menemani pindahan seperti saat ini, pun tidak bisa.”

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan sampai masuk bulan keempat, aku berjuang menerima keadaan hubunganku dengan kedua orangtua. Dengan segenap kekuatan dari Allah, aku berusaha mengalah lebih dulu dengan bertandang ke rumah orangtuaku di Jakarta. Semua atas seizin Allah SWT yang mengatur segalanya. Aku yakin, jika ini jalan dari-Nya, mudahkanlah.

Namun ternyata perjuanganku belum usai. Jawaban mama masih tetap sama, “Mama lagi banyak setoran,” membuatku semakin merasa terabaikan.

Terasa sesak dadaku. Sungguh, aku tak habis pikir dengan pikiran orangtuaku, terutama mama. Terseok-seok aku menanti kedatangan kedua orangtuaku dari Jakarta ke rumah baruku di Sokaraja, Purwokerto.

Penantian itu terasa sia-sia. Berharap orangtuaku akan datang. Yang kudapati hanya kekecewaan mendalam. Ternyata, inner child-ku lagi-lagi harus merasa terabaikan. Luka batin itu menumpuk. Kemudian berubah bentuk menjadi amarah yang luar biasa dan meledak-ledak. Akhirnya, pernah berkali-kali, puluhan kali aku lampiaskan kepada Tyaga dan Jehan.

Kemarahan yang berakar dari kekagumanku pada sosok mama yang luar biasa bagiku. Ketabahan, ketangguhan dan ketegaran yang semula menjadi contoh nyata untukku dalam menjalani hidup sebagai istri dan ibu. Seketika sirna sudah saat kudapati kekecewaan darinya berupa janji-janji palsu tidak jadi datang menengok apalagi menemaniku diawal kehidupan di rumah baru.

***

Jika ingin belajar menggali akar pemicu inner child bisa mengikuti kelas Mengasuh Inner Child (MIC) batch 7. Hubungi Mentor Ribka ImaRi di whatsapp 085217300183.

***

Sosok mama berganti sosok yang sangat kubenci. Karena flash back itu begitu nyata. Berkali-kali luka pengabaian mendera. Aku berusaha memaafkan. Namun ternyata luka pengabaian sedari kecil justru berkelebat seperti klise film yang terulang otomatis tanpa aku berniat mengingatnya.

Kejadian demi kejadian itu … kini kuakui dan ku tandai sebagai cikal bakal salah satu penyebab depresi terberatku. Karena setiap kali aku melihat anak-anakku, trauma-trauma inner child itu berkelebat mengerikan tanpa bisa kubendung. Aku sedih sesedih-sedihnya. Tak ada ada yang bisa mengerti perasaanku. Bahkan suamiku sendiri. Pikirku, semua menuntutku untuk tetap tegar berdiri demi kedua anakku.

Beberapa momen penting dalam hidupku hampa. Ketika menikah tak ada bapak menjadi wali nikah. Dua kali melahirkan pun, bapak tak pernah satu kali pun. Saat melahirkan anak kedua, dibulan Agustus 2014, aku begitu berharap mama bisa datang menemani. Namun apa daya, kenyataannya mama menjawab, “Maaf ya Nok, mama nggak bisa nemenin kamu melahirkan. Setoran mama lagi banyak.”

Sebegitu tidak berartinya aku saat itu. Karena mama lebih mementingkan jualan di pasar untuk menutup setoran harian ke salesman. Mungkin bagi orang lain hal ini tampak sepele, tetapi mampu membuatku terpuruk hingga mengalami depresi berat.

Kini tepat empat tahun perjalananku berjuang sembuh dari depresi. Meski pernah terseok-seok, akhirnya Allah SWT meridai perjuanganku sebagai ibu depresi yang bisa mengendalikan emosi. Satu hal yang sangat kusyukur karena Allah SWT telah menjagaku dan kedua anakku saat tidak ada suami di rumah. Hingga keduanya tetap sehat lahir dan batin dengan tidak kurang suatu apa pun sampai detik ini. Alhamdulillah wa syukurilah.

Salam sehat jiwa raga!

Based on my true story

Sokaraja, 11 Juni 2020

-Ribka ImaRi-
Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
Founder support grup ImaRi’s Corner Parenting (2020)
Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan