Blog Umum Curahan Hati RNB 3 (Rumedia Nubar Bla Batch 3) Tulisan Wenny Kartika Sari Uncategorized

Perjuangan Bertahan dalam Sebuah Pernikahan (Oleh: Wenny Kartika Sari)

Sumber foto: canva

Akhir-akhir ini bukan hal yang asing lagi bagi kita menghadapi permasalahan rumah tangga yang cukup rumit. Hampir semua rumah tangga, pasti pernah mengalami konflik. Tinggal bagaimana cara kita mengatasinya.

Dari pengalaman dan pengamatanku, masalah rumah tangga berawal dari belum selesainya masalah dengan diri sendiri. Sering aku sebut dalam setiap tulisanku adalah Luka Batin yang tersembunyi di bawah sadar.

Puji Tuhan kemarin tanggal 22 Oktober 2020, aku dan suami sudah memasuki 14 tahun pernikahan. Bukan hal yang mudah untuk bisa bertahan dalam sebuah pernikahan. Mengingat bedanya karakter dan latar belakang keluarga serta kebiasaan masa kecil.

Sejak aku dipercaya Tuhan menjadi konselor selama 10 tahun belakangan, selain masalah penyakit autoimun, akhir-akhir ini banyak sekali masalah rumah tangga. Masalah utama berasal dari belum bisa berdamai dengan diri sendiri dari masing-masing pasangan. Aku berjuang untuk bisa berdamai dengan diri sendiri, meski perlu waktu lama.

Bukan berarti dalam pernikahanku nggak ada masalah. Justru dari awal pacaran sampai menikah dan punya anak, ada saja beda prinsip dan pendapat. Namun dari situlah aku belajar bagaimana menerima perbedaan itu.

Pernah suatu kali pada tahun 2014 bersamaan dengan mamiku meninggal karena kecelakaan bersamaku, sering sekali beda pendapat dengan suami hanya masalah kecil. Aku merasa berat waktu itu, karena aku sendiri masih terluka parah secara fisik apalagi batin. Aku harus mengolah emosi diriku sendiri, anakku dan suamiku.

Secara manusia aku nggak sanggup, akhirnya aku mulai bertekad membenahi diriku sendiri yang pastinya masih mempunyai akar-akar kepahitan yang masih tersisa. Dengan pertolongan Tuhan, segala niat baik pasti diberi kemudahan. Tepatnya bulan April 2017 aku mulai belajar Mindfulness Parenting dengan Trauma Healing Therapist Pak Supriyatno.

Luar biasa tehnik beliau yang benar-benar manjur buatku dan beberapa alumni. Aku berhasil mengalahkan ego dalam diri. Dulu aku lebih banyak menuntut pasangan harus sesuai keinginan.

Setelah mengikuti tehnik Acceptance, belajar menerima perbedaan dan hal-hal yang tidak sesuai, tubuhpun lebih rileks. Pada awalnya pasti akan terjadi getaran tubuh, sebagai tanda masih ada luka yang tersimpan. Getaran tubuh ini terjadi dari penolakan otomatis akibat dari masih ada luka batin di bawah sadar.

Kita tidak bisa membiarkan luka batin ini terus menerus, harus berjuang supaya pulih.
Kata-kata pak Supri yang paling menyerap sampai hati terdalam, “Jangan pernah mau mengubah orang lain, walaupun pasangan sekalipun. Namanya BUNUH DIRI.”

Sejak itu aku mulai praktek apa yang beliau katakan. Saat ada hal yang menyebalkan, aku TERIMA dengan tekad mau perbaiki diriku. Lama-lama sudah tidak ada lagi getaran tubuh saat harus menerima dan melakukan sesuatu yang berbeda dan tidak sesuai keinginan. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, segala usaha yang aku lakukan demi bertahan dalam pernikahan yang utuh dan harmonis benar-benar terjadi.

Masih dapat bonus dari Tuhan, suami ikut berubah, merasakan adanya perubahanku apalagi dengan adanya kelas konseling dan orang-orang yang konsultasi denganku. Kalau ingin diperlakukan sebagaimana yang kita inginkan, lakukanlah terlebih dahulu kepada orang lain terutama pasangan. Belajar melepaskan segala hal yang di luar kuasa kita adalah sesuatu yang sangat berarti.

Tanpa berharap apapun respon balik dari apa yang kita lakukan, melepas mental korban dan halangan-halangan lain yang menjadi kendala utama dalam pernikahan dan relasi dengan orang lain. Langkah kita lebih ringan dan emosi menjadi lebih stabil, walaupun pastinya tetap ada masa-masa down.

Kesadaran meningkat dan aku sendiri lebih peka dengan apa yang terjadi pada diriku, pasangan, anak dan orang lain
Dengan mengenal diri lebih dalam, aku bisa lebih memahami orang lain dan terutama pasangan. Semoga goresan pena ungkapan hati dari pengalamanku bermanfaat buat para pembaca.

Perlu aku garis bawahi bagaimana bisa bertahan dalam sebuah pernikahan :

1. Berdamai dengan diri sendiri

2. Belajar menerima perbedaan

3. Mau memaafkan kesalahan pasangan karena mengingat kita sendiri punya kekurangan

4. Fokus pada kelemahan diri untuk diperbaiki dan kelebihan pasangan untuk selalu diingat agar bisa selalu bersyukur

5. Mengisi kotak pernikahan dengan cinta yang tulus, sehingga tidak menuntut mendapat cinta dari pasangan terlebih yang kurang cinta dari orang tua. Justru kita yang memberikan cinta terlebih dahulu.

Masih banyak kalau mau dikumpulkan hal-hal positif untuk bertahan dalam sebuah pernikahan. Tetap semangat buat yang ada masalah dalam pernikahan kalian. Segala sesuatu yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita tidaklah melebihi kekuatan.

Ada berkat besar di balik duka, tetaplah berharap pada Tuhan yang pasti mau turut campur menyelesaikan masalah kalian. Doaku untuk kalian semua yang sudah percaya padaku untuk konsultasi masalah pernikahan.

Akhir kata Ungkapan Syukurku yang tak terkira kepada Yesus dan Bunda Maria yang selalu memberikan Mujizat dalam hidupku dan pernikahanku saat badai menerpa. Terima kasih kepada suamiku tercinta Kojianto Wibowo yang berjiwa besar menerima diriku apa adanya dan tetap setia sampai sekarang walaupun LDM (Long Distance Marriage). Dia tetap setia apel setiap malam minggu seperti pacaran hehe.

Anugerah terindah dalam pernikahanku hadirnya anakku Aurel. Mujizat Terbesar dalam hidupku, sehingga sakit Lupus menjadi sembuh sampai sekarang. Apa yang dia lihat dari perjuangan maminya yang cukup berat membuat terinspirasi, “Mau seperti mami sehat tanpa banyak ke dokter, banyak doa dan Meditasi.”

The Power of Thinking

The Power of Forgiveness

Solo, 23Oktober 2020
Wenny Kartika Sari
#Nubar
#Nulisbareng
#Level1
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week3day2
#RNB092NubarSumatera
#rumahmediagrup

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan