Blog Umum Curahan Hati RNB 3 (Rumedia Nubar Bla Batch 3) Tulisan Wenny Kartika Sari

Peran Ayah dalam Kehidupanku (Oleh: Wenny Kartika Sari)

Berkaitan dengan hari ayah yang diperingati tanggal 12 Nopember, aku teringat dengan peran ayahku, biasa aku menyebut beliau papi. Ayah sangat jarang disebut, lebih banyak peran ibu yang ditonjolkan. Kalau mau mengingat jasa ayah sangat luar biasa, sudah berjuang mencari nafkah, dan membentuk karakter anak.

Aku bersyukur mempunyai papi sangat disiplin, tanggung jawab dan memberikan cinta secara penuh kepada anak-anaknya (ada empat bersaudara) perempuan semua.

Setiap ulang tahun anak-anaknya, semua dirayakan secara sederhana dengan cara yang sangat membekas di hatiku. Papi membeli kain, mami yang menjahit, waktu itu pekerjaan mami memang penjahit. Malam hari diskusi berdua untuk acara ulang tahun. Papi memasak sendiri, menghias ruangan sendiri dan menjadi fotografernya juga. Waktu itu pekerjaan papi dekorasi berbagai acara dan berjualan krupuk pati.

Papiku masih merasakan pendidikan Belanda, sehingga mempunyai disiplin sangat tinggi, tegas dan berwibawa. Waktu kecil aku sangat kagum dengan papi walaupun bukan dari keluarga berlimpah harta, tetapi berlimpah cinta. Memang semua orang pasti senang berlimpah harta, tetapi kenyataannya kehidupan orang yang berlimpah-limpah tak menjanjikan kebahagiaan.

Walaupun dulu aku belum paham arti The Power of Thinking, tetapi karena kekagumanku kepada papi, membuatku berpikir kepingin punya suami seperti papi. Memperhatikan keluarga dengan sangat baik. Apa yang aku pikirkan masa kecil benar-benar terjadi, bahkan nama suamiku pun sama dengan papi, hanya beda marga. Tak kusangka bisa sampai dahsyat seperti itu.

Pendidikan iman sejak dini yang sangat aku rasakan sekarang, anak-anaknya mempunyai mental baja menghadapi berbagai macam cobaan dan ujian hidup. Cinta juga sudah papi berikan kepada anak-anaknya, sehingga menjadi pribadi yang mempunyai kepedulian yang tinggi. Saat ada yang konseling tentang masalah keluarga, selalu aku ceritakan pentingnya cinta secara penuh dari ayah terutama.

Papiku meninggal saat aku masih lulus SD, 14 Maret 1986. Aku ikut membantu mami berjualan krupuk di kantin sekolah sambil naik sepeda. Kenangan ini sungguh menggores hatiku, sudah diajarkan sebagai mental pejuang.

Sekarang aku sangat merasakan beruntungnya menjadi anaknya papi yang memberikan modal CINTA dan IMAN untuk anak-anaknya.
Modal utama menjalani hidup yang penuh ujian. Pengamatanku mental orang sekarang sangat rapuh, maka aku menceritakan kisah papiku ini supaya bagi yang akan membangun keluarga atau sedang ada masalah keluarga tanamkan dalam hati pentingnya CINTA dan IMAN untuk menjadi pribadi yang TEGAR.

Terima kasih papiku tercinta. Aku yakin papi sudah mendapatkan kebahagiaan kekal, karena selama hidup sudah memberikan CINTA yang masih bisa aku rasakan sampai sekarang. SELAMAT HARI AYAH, buat ayah-ayah yang berjuang terutama di masa pandemi ini. Semoga semakin banyak ayah yang peduli pada pembentukan karakter anak adalah darinya.

The Power of Thinking 💖

The Power of Forgiveness 💖

Solo, 14 November 2020
Wenny Kartika Sari
#Nubar
#Nulisbareng
#Level2
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week2day4
#RNB092NubarSumatera
#rumahmediagrup

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan