Curahan Hati Kisah Hikmah Latihan Menulis Komunitas Motivasi dan Inspirasi

Pentingnya Bagi Seorang Ibu Menyelesaikan Inner Child-nya

Pentingnya Bagi Seorang Ibu Menyelesaikan Inner Child-nya

Oleh: Ribka ImaRi

Cerita di bulan puasa 2019 ….

Sebaik apapun suami dan anakku, jika Inner Childku masih bermasalah. Rasanya aku tak akan pernah merasakan kebahagiaan yang hakiki seperti sahur tadi. Bahagia akhirnya kami sekeluarga bisa selalu bersama lagi. Setelah LDR an selama 2 th 7 bln.

Aku bahkan pernah menghujat Tuhan akibat keadaanku yang serba sendrian dan memberiku ingatan yang super kuat dan rinci banget untuk banyak hal. Terutama yang berhubungan dengan sebuah kenangan buruk masa lalu sebelum dan setelah menikah. Tentang ortuku, suamiku, kakak iparku dan mantan tetangga depan rumah di Depok dulu.

“Lumpuhkanlah ingatanku
Hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku
Tentangnya
Hilangkanlah ingatanku
Jika itu tentang dia
Ku ingin ku lupakannya”

Baris reffrain lagu dari Geisha di atas selalu jadi soundtrack wajib dalam keseharianku. Manakala teringat masa lalu terutama flash back ingatan tentang mantan tetangga depan rumah di Depok dulu.

Padahal sekedar seklebatan mata saja, membuatku terpicu amarah dan dendam kesumat yang membuatku meledak-ledak saat membersamai kedua anakku yang lagi aktif-aktifnya saat 2 tahun lalu.

Dimana aku merasa, tak ada seorang pun yang bisa memahami perasaanku saat aku bercerita tentang ucap (candaan) dan laku tetangga depan rumah yang tak masuk akal dan sering memancing emosi. Kala teringat aku benar-benar ingin membeli obat penghilang ingatan, salah satunya khusus untuk satu ingatan tentang mantan tetangga depan rumah.

Tetapi alhamdulillah sujud syukur akar masalah ini sekarang sudah bisa ku terima dan ku lepaskan. Saat mengingatnya aku sudah bisa santai tidak terpicu sama sekali. Meski aku belum bisa mengatakan “aku memaafkan dia seakar2nya. Dan masih berharap semoga di sisa usiaku, aku tidak usah bertemu lagi dengannya. Karena merasa belum siap terpicu jika bertemu muka.

Pada hubungan bertetangga, aku masih bisa memilih memutus hubungan untuk mencegah terpicu. Tapi pada hubungan keluarga, tidak akan mungkin memutusnya. Untuk menghindari pun akan sangat sulit. Selain menghadapinya. Mau tidak mau. Siap tidak siap.

Seperti yang terjadi klebat di sahur tadi pagi. Teringat sahur ini adalah ramdhan hari ke 3,di hari Rabu, yang jatuh di tanggal 8 Mei 2019.

Sama persis ramadhan hari ke 3, di hari Rabu, yang juga jatuh di tanggal 8 tapi di bulan Juni 2016. Ramadhan 3 tahun lalu adalah sahur pertamaku dirumah baru tanpa suami. Karena suami sedang dalam perjalanan balik bekerja ke Jakarta. Untuk memulai babak baru kehidupan berumah tangga kami yang bernama LDR/LDM (Long Distance Marriage) alias jarak jauh Purwokerto-Depok.

Setelah 2 hari dan 1 malam menemaniku dan Tyaga Jehan memasuki dan menata rumah baru seadanya waktu dan tenaga. Rumah yang sekarang kami tempati ini. Sejak kami pindah dari rumah Depok di Jumat tengah malam, tanggal 3 Juni 2016.

Bagi seorang Bipolar Survivor, dalam keadaan bahagia penuh canda tawa seperti sahur tadi, seperti yang terlihat di foto, bisa tiba-tiba bak korslet dan kesetrum saat teringat keadaan sedih. Membuat mood swing. Wajah yang tadinya ceria bisa tiba-tiba murung. Teringat kejadian 3 tahun lalu awal pindah rumah dari Depok, Jawa Barat ke Sokaraja, Purwokerto.

Buru-buru ACCEPTANCE :

OTAKKU TAK AKAN BISA DI SETTING UNTUK MELUPAKAN MASA LALU, TAPI DENGAN BELAJAR MINDFULNESS AKU JADI BELAJAR MENERIMA & MEMAAFKAN MASA LALU. SEHINGGA SAAT TERINGAT, SUDAH BISA TIDAK MENIMBULKAN SENSASI APAPUN.

Ada banyak hal yang kupelajari dari Mindfulness Parenting selama 3 tahun berproses SEMANGAT, SABAR, TELATEN & KONSISTEN.

Ada banyak hal yang kusyukuri. Dan banyak hikmah yang kudapatkan. Dulu aku merasa hidupku paling menderita sedunia. Belajar LEPAS DARI MENTAL KORBAN, menyelesaikan IC-ICku membuat depresi dan bipolatku semakin terkendali seperti saat sedang siklus Menstruasi. Dimana fase PMS biasanya menjadi Pengen Marah Selalu.

Ada banyak akar kemarahanku yang sudah kucabut. Kuganti tanamkan rasa syukur luar biasa. Meyakini terus bahwa disetiap kejadian buruk yang menjadi trauma ICku, pasti ada hikmah luar biasa dariNYA.

Seperti yang kusebutkan dibawah ini :

Hidup jauh dari ortu dan merasa ortuku abai, membuat aku dan suami jadi super mandiri. Tidak bergantung pada orangtua. Hanya bersandar pada kemurahan Allah SWT. Bersyukur tidak merepotkan orangtua dimasa tuanya mereka. Juga anak2 mandiri mendengar 1 kata dari kami ortunya karena tidak nempelan dengan kakek neneknya yang beda pola asuh.

Hidup jauh dari suami, membuatku belajar berani mengambil keputusan sendiri. Belajar mandiri dalam banyak hal. Terutama mandiri menyelesaikan trauma2 masa laluku tanpa terpicu suami sementara waktu.

Hidup jauh dari kakak ipar, membuatku bebas menentukan sikap mengatur seisi rumah dan rumah tanggaku. Serta bebas mendidik dan mengasuh kedua anakku tanpa campur tangan selain suami sendiri.

Hidup tak punya tetangga depan, mengurangi makan hati. Dulu mantan rumahku di depok menghadap selatan. Begitu buka pintu di pagi hari aku stres karena sedih melihat pemandangan anak tetangga yang terabaikan ortunya.

Sekarang rumah ku di Sokaraja, Purwokerto menghadap utara. Begitu buka pintu di pagi hari, mendapati pemandangan luar biasa Gunung Slamet. Betapa Allah sudah mengatur sedemikian rupa baiknya. Hanya balik arah dari utara ke selatan, aku jadi merasa ayem tentram. Bisa lanjut fokus mendidik Tyaga Jehan.

Dan akhirnya, kupetik hasil perjuangan MERASA SENDIRIAN selama hampir 3 tahun belakangan. Sahur tadi, Tyaga Jehan bangun sahur tanpa suara ngak ngek ngok. Karena memang terbiasa bangun pagi sedari keduanya bayi ceprot. Dulu aku pernah sangat repot membersamainya sendirian. Saat suami sedang tak dirumah. Sekarang Tyaga Jehan yang terbiasa sarapan pagi. Karena aku berusaha belajar disiplin menyiapkan sarapan keduanya. Sekarang keduanya jadi sudah mudah diajak sahur.

Semua ada hikmahNYA. HIKMAH BERSABAR.

-Ribka ImaRi-
Depresi & Bipolar Survivor

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan