Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Bebas Kategori Tetap

Pengendalian Emosi Rindu Ingin Bertemu

Oleh: Ribka ImaRi

Kata Dilan, “Jangan rindu. Ini berat, kamu takkan kuat. Biar aku saja.”

Kata Ribka ImaRi, “Ya, benar! Pengendalian emosi rindu itu memang berat. Namun, kita bisa belajar caranya. Yuk, berlatih bersama!”

Selama ini orang sering salah kaprah. Setiap kali diajak bicara tentang emosi, orang menganggap emosi itu indentik dengan marah. Ternyata, emosi itu beragam. Salah seorang ahli, Paul Eckman, menyebutkan ada enam macam emosi dasar yang terpaut dalam diri seseorang. Enam emosi tersebut adalah emosi bahagia, emosi sedih, emosi takut, emosi jijik, emosi marah dan emosi terkejut. (https://www.google.co.id/amp/s/www.sehatq.com/artikel/macam-macam-emosi-yang-membuat-anda-menjadi-manusia-seutuhnya/amp).

Saat ini, aku sedang mengalami emosi rindu benar-benar sangat rindu tetapi bukan tentang rindu gowes. Karena sudah sebulan penuh aku tidak gowes. Terakhir gowes tanggal 1 Juli 2020 waktu sekalian mampir beli bawang goreng ke rumah salah satu sahabat, mbak Tya Putri.

Lihatlah di belakangku!

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Foto di atas diambil pada tanggal 27 Mei 2020. Selang dua hari saja setelah Lebaran. Saat itu Stasiun Purwokerto dalam keadaan sepi luar biasa. Tak ada sebuah mobil pun terparkir dan tak ada seorang pun terihat ada di dalam stasiun. Sungguh, 180° berbanding terbalik dengan Lebaran di tahun-tahun lalu yang biasanya arus mudik dan arus balik pasti membeludak.

Melihat sepi seperti ini, benar-benar membuatku takjub. Karena sejak hijrah empat tahun lalu belum pernah satu kali pun aku melihat stasiun dalam keadaan sepi seperti itu. Ingin rasanya aku nekat dan segera berlari ke dalam, membeli tiket menuju Jakarta, untuk dapat segera ke rumah mama dan bapakku. Lalu memeluk keduanya dengan erat karena kami sudah dua tahun tidak bertemu sama sekali selain via chat, voice note dan video call.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Betul kata Dilan bahwa menahan emosi rindu selama dua tahun itu benar-benar berat rasanya. Jarak Purwokerto-Jakarta Barat hanya 600 Km tetapi ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan matang-matang untuk dapat ke Jakarta. Karena berada di posisiku dengan segala kendala yang ada, memang semua tak semudah membalik telapak tangan.

Terlebih di masa pandemi corona seperti ini, benar-benar tidak bisa serta merta meluncur ke Jakarta meski sendirian dan sedang ada rejeki waktu, tenaga dan biaya. Jiwaku meronta. Pikiran negatif berkelebat membuatku ingin menyalahkan keadaan.

Namun, aku berjuang mengendalikannya menjadi positif. Aku tidak mau gegabah menuju rumah orangtuaku dengan menjadi carrier/OTG (Orang Tanpa Gejala) tetapi justru rawan membawa virus di masa pandemi corona. Pun, tak ingin menyalahkan gara-gara pandemi aku seperti terpenjara begini.

Lagi pula mama mengabarkan keadaan di area rumah masa kecilku memang sedang dalam kondisi belum aman. Bahkan baru saja banyam yang positif terpapar covid-19 sejak diberlakukan era new normal. Satu hal yang benar-benar aku syukuri, kedua orangtuaku selalu dalam keadaan sehat.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Kalau dulu, sudah pasti aku termewek-mewek menangisi diri yang merasa paling menderita karena tidak bisa bertemu dengan orangtua dan menyesali keadaan yang tidak adil padaku. Kesal sendiri membuatku uring-uringan tidak jelas.

Ya Allah … aku syukur mengenal ilmu Mindfulness (ilmu mengasuh diri sendiri dengan kesadaran penuh untuk penuh sabar) sejak Agustus 2016. Aku jadi benar-benar berjuang bersabar lagi dan lagi. Segera ACCCEPTANCE luar biasa, “TERIMA TERIMA TERIMA … TERIMA TERUS DAN TERUS LAGI UNTUK TERUS MENERIMA KEADAAN LUAR BIASA DI LUAR KENDALIKU SEPERTI SAAT PANDEMI SEPERTI INI. YAKIN DAN PERCAYA BAHWA SEMUA SUDAH DIATUR OLEH ALLAH. YAKIN PERCAYA PASTI ALLAH PUNYA MAKSUD INDAH. TERUTAMA UNTUKKU BELAJAR SABAR DAN IKHLAS. PERCAYA AKAN ADA WAKTU TERBAIK DARI ALLAH UNTUK KAMI SEKELUARGA BISA BERKUMPUL BERSAMA ORANGTUA. AKU HANYA BISA BERDOA, ALLAH JAGA KEDUA ORANGTUAKU TETAP DALAM KEADAAN SEHAT-SEHAT SAJA. KEMUDIAN KAMI BISA BERTEMU NANTI, ENTAH KAPAN, DALAM KEADAAN BERBAHAGIA.”

Sokaraja, 22 Agustus 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 24 buku Antologi (Selama Januari 2019-Juli 2020. Sebanyak 16 antologi sudah terbit dan 6 antologi lagi sedang proses cetak)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/2019-202p)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan