Hari-Hari Bersama Duo ImaRi Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mindfulness Parenting Parenting Tema Ditentukan Writing Challenge Rumedia (WCR)

Pandemi Corona Mengajarkan Arti Khusyuk Ibadah di Rumah Saja

Oleh: Ribka ImaRi

“Dulu-dulu, kalau bulan puasa, terus malam minggu kayak gini, habis salat Magrib, biasanya Ayah pasti pesan gra* car, terus kita ke Rita Super Mall (mall di Purwokerto). Buka puasa di sana. Sekarang di rumah aja ya, Yah.” Celoteh Jehan, gadis kecilku seraya mengingat rinci momen bulan puasa tahun lalu.

“Iya, sekarang kita di rumah aja ya. Buka puasa makan masakan Bunda. Lebih sehat masakan rumahan seperti ini.” sahut ayah.

“Kangen jalan-jalan ke mall, Bun.” Tiba-tiba Tyaga mengucapnya dengan sedikit lirih. Perasaan yang wajar timbul pada anak seusia Tyaga. Ia baru saja genap 8 tahun tepat ketika hari pertama kami stay at home dua bulan lalu.

“Iya, Sayang, Bunda juga kangen. Habisnya asyik sih ya … makan di Solari* atau di Pizza Hu* kesukaan Mas dan Dede. Eh, tapi kita jadi keburu-buru salat Magrib-nya loh. Iya nggak?” Aku langsung menyambut celotehnya Jehan.

“Iyaaa … benar Bunda bilang. Kita jadi buru-buru salat Magrib biar cepat berangkat karena keburu lapar. Haha.” jawab Tyaga membenarkan keadaan beserta alasannya.

“Iya di rumah aja enak kayak gini. Bisa tenang salat Magribnya.” kata ayah menegaskan.

“Padahal, Bunda senang aja loh kalau kita buka puasa di luar. Karena Bunda nggak perlu repot-repot masak untuk buka puasa. Hihihi.”

“Itu mah maunya Bunda.” jawab Tyaga dan Jehan kompak dan kami tertawa bersama sambil menikmati hidangan buka puasa.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Ya, Ramadan kali ini aku malah sudah terbiasa masak terus tanpa membeli makanan matang bahkan sejak pertengahan bulan Maret lalu. Ini sungguh sangat berbeda 180° dari Ramadan biasanya ditahun-tahun lalu. Karena Indonesia bahkan dunia masih dilanda pandemi virus corona. Sebuah penyakit yang media penularannya tidak kasat mata. Namun, jika sudah tertular, meski tanpa gejala, tetapi bisa mematikan.

Pada akhirnya “memaksa” kami untuk patuh pada keadaan. Sampai-sampai dipenghujung Ramadan, kami benar-benar tidak ke mana-mana. Aku dan suami yang memang bisa dikondisikan “di rumah saja” jadi belajar patuh untuk memberi contoh nyata kepada Tyaga dan Jehan. Sekadar untuk berbelanja sesuatu yang diluar kebutuhan pokok pangan, kami menundanya demi kesehatan dan keselamatan sekeluarga. Termasuk imbauan untuk beribadah di rumah saja sudah digemakan dari masjid di belakang perumahan kami malahan sejak hari Jumat di minggu kedua lockdown.

Seperti yang terlihat pada spanduk di bawah ini. Berisi pengumuman bahwa Masjid Nur Laila Desa Karangrau, Sokaraja, Banyumas sedang ditutup sementara sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Aku acungi dua jempol untuk pengurus desa dan mesjid di lingkungan kami atas usaha mencegah penyebaran virus corona. Aku sendiri takjub dengan ketaatan warga sekitar masjid. MasyaAllah … alhamdulillah.

Pada awalnya, ini sangat berat. Padahal sangat ingin sesekali ke luar rumah bersama keluarga. Sekadar berbuka puasa di restoran di dekat rumah. Yang katanya baru saja buka menjelang bulan puasa dan hanya berjarak 500 meter saja dari rumah. Terlebih ingin sekali rasa hati menapakkan kaki ke masjid yang hanya berjarak 100 meter dari rumah.

Berkali-kali anak lelakiku bilang rindu salat Jumat berjamaah di masjid. Hati ini trenyuh mendengarnya. Kian ingin merasakan salat tarawih di masjid. Lebih-lebih merindukan salat Idul Fitri di alun-alun Purwokerto seperti tahun-tahun lalu. Memang sudah biasa kami lakukan semenjak pindah ke Purwokerto pada bulan Ramadan tahun 2016.

Apa daya, ibadah puasa dan Idul Fitri kali ini kami bukan saja berjuang menahan lapar dan haus semata, tetapi terlebih berjuang mengendalikan semua keinginan yang biasanya bisa kami penuhi dalam rangkaian ibadah di tahun-tahun lalu. Tahun ini, kami berjuang meraih kemenangan dengan pengendalian diri tiada batas meski dalam keadaan serba terbatas. Namun kami sangat bersyukur sebab memiliki waktu dan kesempatan beribadah yang tidak terbatas.

Terlalu banyak rasa syukurku jika di daftar satu per satu. Diantaranya, aku benar-benar bersyukur karena kami sekeluarga bisa melaksanakan makan sahur dan berbuka dengan formasi lengkap selalu berempat. Alhamdulillah Jehan yang sudah bisa berpuasa sehari penuh sejak H9 Ramadan. Lagi-lagi aku bersyukur mendalam karena kami juga selalu bisa salat berjamaah berempat karena ayah yang Work From Home bahkan sudah stay bekerja penuh di kota Purwokerto.

Kami tidak lagi dalam keadaan berjauhan akibat LDR sejak satu tahun lalu. Jadi Ramadan ini selalu bisa salat tarawih khusyuk di rumah dengan diimami ayah sebagai imam dalam keluarga kami. Lebih-lebih setiap hari suami bisa mengaji untuk seisi rumah. Dan semua pendampingan ibadah untuk Tyaga dan Jehan tetap berjalan lancar meski bundanya sedang berhalangan karena menstruasi seperti ini. Hal ini betul-betul membuatku bersyukur tiada terkira mengingat kami sempat LDR-an selama 2,5 tahun. Terlebih anak-anak yang sudah bisa khusyuk saat salat berjamaah.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Sungguh, kesyukuran ini membuat hati tenang dan teduh. Dan masih banyak kesyukuran lain yang tidak terlihat. Namun membuat kami sekeluarga belajar selalu bersyukur yang tiada terukur. Hal ini yang aku dan suami ajarkan kepada kedua anak-anak kami. Bahwa kita sebaiknya belajar menerima keadaan. Sambil terus berdoa dan memupuk keyakinan bahwa dibalik semua peristiwa yang Allah SWT izinkan terjadi seperti pandemi ini, pasti ada hikmah-Nya nanti.

Memang benar sulit dan bikin stres pada awalnya. Apalagi di minggu pertama saat kami masih adaptasi ritme belajar dan bekerja via daring. Anak tantrum, orangtuanya ikut tantrum. Atmosfer stres melingkupi serumah.

Namun, dalam tekad aku tetap yakin Allah pasti akan menolong mengatasi semua beban berat ini terutama beban psikis. Sebab janji-Nya selalu pasti.

“Sesungguhnya setelah kesulitan itu akan datang kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 6).

Jadi aku berjuang sungguh-sunguh mengendalikan emosi agar serumah tetap nyaman terkendali. Setelah masa-masa stres terlewati menjadi penerimaan keadaan, kami justru menjadi bertambah akur sekeluarga. MasyaAllah alhamdulillah ini benar-benar nyata efek positif dari pandemi Corona.

Jika kita mau berpikir positif. Meskipun mengalami kekurangan ini itu. Kami berusaha semakin memperat bonding antara suami, istri dan kedua anak. Sebab dalam 24 jam selalu bersama melakukan segala aktivitas di dalam rumah termasuk semua rangkaian ibadah terlebih selama bulan Ramadan ini. Selain itu aku pun gencar mengaplikasikan ilmu mindfulness parenting untuk terus sadar penuh agar bisa penuh sabar mengurus suami dan anak. Aku yakin ini juga termasuk ibadah seorang istri dan ibu.

Kesadaran ini membuatku rajin mengaplikasikan teknik PCES (Peluk, Cium, Elus, Sounding “I love you and thank you”). Kendatipun aku sedang sangat lelah akibat mengerjakan pekerjaan domestik yang seakan tiada habisnya. Sekalipun sudah dibantu oleh suami dan anak. Nyata terbukti, teknik yang sudah kulakukan bertahun-tahun ini bisa meluruhkan segala penat yang menempel di tubuh dan jiwa. Cobain deh!

Peluk saja … peluk semua orang serumah. Pelukan dengan orang yang kita cintai, membuat EGO (Emosi, Galau, Obsesi) meluruh dalam sekejap. Tak ada lagi Emosi meraja yang membuat nada suara meninggi. Tak ada lagi Galau mendera walaupun selama dua bulan penuh tidak ada agenda piknik keluarga. Tak ada lagi Obsesi ingin makan apa dan di mana saat berbuka puasa seperti biasanya.

EGO itu semua berganti rasa bersyukur bahwa kami masih diberi sehat dan selamat tanpa kurang suatu apa pun sampai sekarang di H24 Ramadan. MasyaAllah … alhamdulillah.

Betapa Maha Besar Karya Allah SWT yang mendatangkan makhluk dengan ukuran super kecil bernama corona. Yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, tetapi mampu membawa kebaikan luar biasa bagi keluarga kecil kami. Bukan saja merasakan nikmat damai sekeluarga tetapi juga nikmat khusyuk ibadah di rumah saja.

Aku berdoa agar keluarga lainnya di seluruh Indonesia bahkan dunia juga merasakan hal yang sama. Pun, doa mohon kekuatan untuk semua agar dapat menjalani ibadah dan kehidupan selanjutnya hingga Allah SWT nyatakan cukup sudah tugas virus corona membuat damai bumi ini. Aamiin.

Sokaraja, 17 Mei 2020
-Ribka ImaRi-
Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (2018)
Mentor Kelas Tantrum Anak (2018)
Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (2019)
Founder ImaRi’s Corner Parenting (2020)
imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan