Uncategorized

Pahlawan Masa Kini, Berjuang Melawan Emosi

Oleh: Ribka ImaRi

“Kalau nggak keburu, ya sudah nggak usah ikut lombanya. Nggak usah memaksakan diri. Bunda sudah ajak bikin tugasnya dari Hari Minggu, tapi Mas nggak semangat.” Bukannya mengerti, Tyaga malah cemberut, merengek dan air matanya mulai mengalir.

Aku mulai geram dan nada suaraku mulai meninggi!

Hari Rabu, tanggal 11 November 2020, sehari setelah peringatan Hari Pahlawan di Indonesia, kembali menjadi momen untukku berjuang melawan emosi diri sendiri. Meski sudah tidak dibelenggu penjajahan secara fisik nyata, tetapi nyata benar aku pernah dijajah oleh belenggu emosi masa lalu.

Atas pertolongan Allah, sekuat tenaga aku kerahkan PAUSING (JEDA SESAAT) untuk mencegah ledakan emosi. Kusadari, kemarahan saat itu terpicu oleh rasa benci melihat Tyaga yang cemberut dan merengek ketika meminta ikut lomba literasi di sekolahnya secara online karena memang masih masa pandemi. Akar penyebab kemarahan ini sebaiknya terus menerus digali, dikenali dan dipahami supaya bisa mencegah kemarahan bahkan ledakan akibat terpicu hal sepele.

***

Di buka kelas MIC Batch 11 (Mengasuh Inner Child) untuk belajar PAUSING (JEDA SESAAT) mencegah ledakan emosi sesaat sehingga bisa lanjut belajar mengelola emosi yang berakar dari pengalaman masa kecil.

Dimentori oleh Ribka ImaRi wa 085217300183

***

Saat itu, bunda inginnya Tyaga berjuang lebih dulu membuat karyanya sendiri. Meski deadline-nya tinggal 2 jam saja dari semenjak ibu guru memberi kabar via pesan whatsapp. Bukan tinggal terima jadi karena dibantu penuh oleh bundanya.

Sampai saat ini, di bulan kesebelas, di bulan November tahun 2020, aku memang masih berjuang terus belajar untuk bisa marah dengan sangat elegan tanpa naik nada. Meski sejak dua tahun lalu aku sudah bisa mengendalikan sumpah serapah apalagi main tangan. Namun, terkadang aku masih sering ketus dan naik nada.

Untuk itu, aku terus menerus membangun kesadaran penuh (MINDFULNESS) bahwa MENGASUH ANAK ADALAH MENGASUH DIRIKU LEBIH DULU. Aku yang lebih dulu mengasuh inner child-ku agar bisa mengasuh inner child Tyaga dengan baik.

Aku sadari, rasa benciku pada Tyaga saat itu berakar pada luka batin inner child-ku (IC) saat melihat wajah cemberut Tyaga yang kudapati mirip dengan wajah cemberut masa kecilku. Pun aku sering dan selalu melihat bapakku cemberut dan sumpah serapah serta mengamuk merusak barang.

PAUSING itu kulakukan dengan duduk bersandar pada tembok, lalu kupejamkan mata agar tidak terus menerus melotot. Kemudian aku mengepalkan tangan agar tidak melayang menghancurkan sekitar. Termasuk memukuli jidatku sendiri seperti dulu yang nyata akibat menirulakukan bapakku yang selalu memukuli keningnya berpuluh kali saat sudah tak mampu lagi terkendali.

Setelah itu, aku menggigit bibir agar bisa menahan segala rekaman sumpah serapah yang berisik di kepalaku. Semua itu seakan berebut meluncur ke luar dari mulutku dengan liarnya.

Alhamdulillah … alhamdulillah … alhamdulillah aku berhasil mengendalikan rekaman sumpah serapah bicara kotor (anjing, babi, anak setan, anak sialan, anak nggak tahu diri) yang kudapatkan dari bapakku dulu. Juga rekaman amukan bapak yang seperti orang kesetanan. Alhamdulillah juga … aku berhasil mengepal tangan dengan erat meski dorongan ingin memukul Tyaga saja, begitu kuat.

Seketika kepala terasa berat, nyeri di kedua pundak dan perut berasa kencang menahan emosi yang ingin kuledakkan saja semua.

Segera aku ACCEPTANCE, “Aku terima semua rasa terpicu saat mengasuh Tyaga, aku terima rasa kepala yang berat, nyeri di pundak dan perut yang kencang. Namun aku segera SADAR bahwa Tyaga hanyalah pemicu kemarahanku. Sementara penyebab kemarahanku berasal pada kejadian di masa lalu.”

Ya, aku benar-benar segera sadar bahwa Tyaga sedang belajar mengendalikan emosi melalui aku, bundanya yang penyintas bipolar–yang dalam sedetik bisa saja berubah menjadi monster yang mengamuk. Namun, aku benar-benar bertekad berjuang menjadi role model pengendalian emosi bagi anak. Terutama untuk Tyaga yang saat fase menirulakukan telanjur merekam semua kejadian buruk ketika aku sedang dalam kondisi depresi pengasuhan.

Aku berjuang sekuat tenaga mengendalikan semua hanya demi Tyaga tidak terluka batinnya. Hasilnya? Alhamdulillah, meski masih ada momen suaraku meninggi, tetapi kami lebih cepat berdamai. Kuulurkan tangan terlebih dulu ke Tyaga agar ia dapat menirulakukan meminta maaf lebih dulu tanpa disuruh.

***

Dibuka kelas HAI Batch 2 (Healing Anak oleh Ibu) agar ibu bisa menyembuhka luka batin anak.

Dimentori oleh Ribka ImaRi wa 085217300183

***

“Maafkan Bunda tadi ya. Hampir aja Bunda mengamuk seperti dulu-dulu, Nak. Tadi itu otak Bunda sudah berisik banget. Nyuruh ngamuk aja. Nyuruh mukul Mas. Nyuruh ngomong kotor. Benar-benar sudah ngggak terbendung rasanya, Nak. Tapi Bunda tahan semua karena saking sayangnya Bunda. Nggak mau Mas terluka karena perkataan dan perbuatan Bunda. Tolong bantu Bunda ya, Nak. Kita sama-sama berjuang terkendali juga. Supaya nggak saling menyakiti seperti dulu.” Jelasku panjanh lebar pada Tyaga.

“Maafin Mas juga tadi ya, Bun.” Tyaga mencium tanganku dengan takzim.

“Sudah pasti Bunda maafin, Nak. Tolong jangan diulangi lagi ya. Karena Bunda benar-benar terpicu saat lihat Mas cemberut. Itu tuh mirip banget mukanya Mbahkung (kakek Tyaga-bapakku).”

Beberapa saat kemudian, tak disangka Tyaga bisa mengarang bahan syair untuk lomba yang kemudian aku bantu sempurnakan sesuai aturan syair dalam bentuk terikat.

Bukan tentang prestasi yang pada akhirnya Tyaga bisa mengikuti lomba listerasi tersebut, tetapi tentang pembelajaran pengendalian emosi Tyaga. Pun tentang rasa tanggung jawabnya untuk mengikuti lomba atas usahanya sendiri bukan tinggal terima beres karena dibuatkan orangtuanya.

Terlebih menang karena tidak sampai menyakiti fisik apalagi psikisnya teramat dalam.

Dari setiap pertempuran emosi yang tejadi, kujadikan bahan Sounding (memberi pembelajaran melalui pesan) ke Tyaga untuk terus belajar mengenali pemicu kami masing-masing. Demi mencegah kejadian terulang lagi. Aku kerahkan SOUNDING terutama pada jam terbaik (best time) saat otak sedang dalam kondisi baik dan santai jadi sounding-nya lebih menancap.

***

Dibuka kelas TPS Batch 3 (The Power of Sounding) agar bisa menasihati anak dengan efektif dan mencegah keributan

Dimentori oleh Ribka ImaRi wa 085217300183

***

Agar rumah tetap ayem tentram. Apalagi sejak pendemi di bulan Maret 2020, kondisi kami yang berinteraksi tanpa jeda selama 24 jam. Memang sangat memicu emosi. Jadi sangat dibutuhkan pengendalian emosi tingkat tinggi.

Sokaraja, November 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 28 buku Antologi (Selama Januari 2019-Juli 2020 sebanyak 16 antologi sudah terbit dan 11 antologi menulis di Rumedia)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/2019-202p)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan