Hari-Hari Bersama Duo ImaRi ImaRi's Blog Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Ditentukan Writing Challenge Rumedia (WCR)

New Normal, to be Mindfulmom

Oleh: Ribka ImaRi

New normal adalah sebuah istilah dalam bisnis dan ekonomi yang merujuk kepada kondisi-kondisi keuangan usai krisis keuangan 2007-2008, resesi global 2008–2012, dan pandemi COVID-19. New normal dilakukan sebagai upaya kesiapan untuk beraktivitas di luar rumah seoptimal mungkin, sehingga dapat beradaptasi dalam menjalani perubahan perilaku yang baru. Perubahan pola hidup ini dibarengi dengan menjalani protokol kesehatan sebagai pencegahan penyebaran dan penularan COVID-19 (wikipedia).

Meskipun pandemi covid-19 belum sepenuhnya hilang dari muka bumi, tetapi perlahan aktivitas warga dunia maupun Indonesia mulai menggeliat pada berbagai aspek kehidupan. Bukan saja fokus pada protokoler kesehatan fisik, tetapi ada baiknya dibarengi dengan kesiapan mental untuk menghadapi perubahan hidup yang terjadi di masa pandemi.

Karena perubahan hidup yang drastis dampak pandemi, pada sebagian orang bisa saja menimbulkan masalah kesehatan jiwa akibat stres yang tak kunjung usai. Seperti halnya padaku, sebagai penyintas gangguan mental OCD (Obessive Compulsive Disorder) pada bersih membuatku pernah begitu terobesi pada segala hal yang bersih. Padahal sebelum pandemi covid-19 terjadi, aku sedang berjuang melepaskan banyak OCD yang sangat mengganggu kesehatan jiwaku.

Salah satunya mencuci tangan sampai puluhan kali dalam sehari. Terlebih saat sehabis dari luar rumah. Semua barang yang kubawa masuk ke dalam rumah, harus dicuci atau dibersihkan dahulu.

Sebenarnya, hampir semua standar kebersihanku sudah mulai melonggar sejak aku belajar mindfulness parenting. Sebuah ilmu pengasuhan untuk diriku sendiri terlebih dulu, baru kemudian mengasuh suami dan kedua anakku, agar bisa sadar sepenuhnya bahwa semua yang dilakukan adalah demi kesehatan dengan menjaga pola hidup bersih dan sehat diri sendiri. Bukan karena trauma masa keciku yang mendalam ketika di masa kecil (inner child=IC) melihat kakak kandung meninggal di usia 13 tahun. Karena sakit parah sampai koma berbulan-bulan dalam kondisi berbaring di tempat tidur hingga badannga hanya tinggal tulang berbalut kulit.

***

Bagi yang mau belajar menggali dan mengasuh inner child-nya bisa mengikuti kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Batch 7. Diajarkan salah satu teknik pausing, yaitu dengan memejamkan mata agar tidak melotot pada anak, menggigit bibir agar tidak menyumpah serapah pada anak, dan mengepal tangan agar tidak menyakiti anak dengan tangan. Dikelas MIC akan diajarkan melalui video. Silakan hubungi Mentor Ribka ImaRi di whatsapp 085217300183.

***

Dengan keadaan rumah orangtuaku yang belum layak standar kesehatan, membuat jiwa masa kecilku yan baru berusia 11 tahun, belum paham sepenuhnya tentang sebab akibat kakakku sakit sampai meninggal, aku berpikiran bahwa kakakku meninggal karena sakit akibat keadaan kotor. Kata kunci ini benar-benar pernah mempengaruhi kehidupanku sedari remaja berpuluh tahun lalu. Apalagi setelah menjadi ibu selama bertahun-tahun lalu. Bahkan dulu, OCD bersih ini pernah menjadi penyebab aku marah besar bahkan mengamuk ketika anakku bermain kotor seperti pada foto di bawah ini.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Dulu, aku benar-benar belum bisa menerima keadaan seperti di atas. Tak seorang pun Ada sensasi kemarahan luar biasa dalam diriku saat melihat anak mengorek-ngorek tanah. Padahal anak-anak pasti sangat menyukai aktivitas seperti itu, termasuk Tyaga dan Jehan. Namun, hal tersebut pernah membuat kepalaku dibagian belakang seperti dilempar batu besar, pelipis seperti ditusuk-tusuk, rahang gemeretuk dan leher belakang kencang. Sampai akhirnya aku bisa mengenali sensasi-sensasi itu adalah karena anak main kotor yang merupakan pemicu kemarahanku.

Sebelum pandemi corona ini melanda kini, aku bersyukur sudah memahami pemicu dan penyebab kemarahanku. Penyebabnya adalah ketakutanku pada kotor. Sementara anak-anakku atau keadaan lainnya selama pandemi ini adalah pemicunya. Jadi serangan ketakutanku selama pandemi masih murni karena traumaku pada kotor atau kuman atau virus yang menyebabkan kematian.

Mindfulness mengajariku menjadi ibu yang mindfulmom. Ibu yang sadar penuh untuk penuh sabar menghadapi semua. Karena mau tidak mau, siap tidak siap, stres atau tidak, aku harus bisa menerima keadaan new normal yang menuntutku siap menerima perubahan keadaan yang tengah terjadi di masa pandemi ini.

Segera aku kerahkan ACCEPTANCE (PENERIMAAN KEADAAN), bicara pada diriku sendiri dengan teknik SELF TALK dan AFIRMASI, “AKU TERIMA KEADAAN PANDEMI CORONA INI DAN SEKARANG SUDAH MEMASUKI FASE NEW NORMAL, PELAN-PELAN SEMUA AKAN KEMBALI NORMAL. AKU DAN SUAMI YANG TADINYA BISA SEMINGGU SEKALI BARU KELUAR RUMAH, KINI TIDAK TERLALU KETAT LAGI. YANG PENTING IKHTIAR POLA HIDUP BERSIH DAN SEHAT. SELEBIHNYA SERAHKAN KE ALLAH. YAKIN SEPENUHNYA AKAN SEHAT-SEHAT SAJA.”

Alhamdulillah, hasilnya aku sudah berani mencoba jajan untuk sekeluarga. Jajan di tukang bubur lewat di depan rumah. Setelah tiga bulan tidak pernah jajan makanan matang yang langsung dimakan seperti bubur ayam ini (tanpa dihangatkan atau dimasak lagi).

Bagi penyintas depresi OCD bersih yang takut kotor atau kuman atau virus, ini prestasi buatku. Karena selama pandemi covid 19, aku berkali-kali berjuang mengatasi emosi takut pada jajanan makanan matang. Padahal, setiap tukang bubur lewat, ada rasa kasihan ingin membelinya. Terlebih aku mengamati di awal pandemi, terdengar bunyi ting-ting mangkuk tukang bubur yang tidak pernah berhenti. Itu tandanya tidak ada yang membeli selama tukang bubur keliling perumahanku.

Saat itu aku hanya bisa berdoa bismillah laris manis jualannya bapak tukang bubur. Juga untuk semua tukang-tukang jajanan matang lainnya. Bismillah tetap laris manis dan tabah jalani jualan yang mungkin berdamapak pada penurunan omset setiap harinya

Meskipun bapak tukang bubur memakai masker seperti pada foto dibawah ini,

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Padaku tetap ada sedikit sensasi stres takut keluargaku akan tertular corona dari media yang tidak kasat mata. Namun pikiran sadarku segera mengajak untuk afirmasi, “Bismillah kita semua selalu sehat jiwa raga sampai pandemi hilang dari muka bumi. Meski jajan makanan matang seperti saat ini, Allah jaga kami semua.” Aamiin.

Sungguh, aku tidak ingin terus menerus capek fokus pada rasa takutku. Jadi aku berjuang fokus pada rasa berani. Meski ini sangat tak mudah bagiku, tetapi aku sadar sepenuhnya, tidak bisa selamanya mengurung Tyaga dan Jehan di dalam rumah seperti yang kulakukan selama tiga bulan penuh sejak imbauan Gubernur Jateng untuk stay at home ditanggal 15 Maret 2020 lalu.

Kini, pelan-pelan Tyaga dan Jehan mulai aku izinkan main sepeda di luar pagar rumah. Dengan sounding intensif agar mereka tetap ingat untuk jaga jarak dengan teman-teman sepermainan. Yang paling penting setiap sehabis main sepeda pagi dan sore, begitu masuk rumah, keduanya harus segera mandi dan keramas.

Langkah-langkah diatas sudah sedemikian rupa aku lakukan demi kebaikan kami sekeluarga dengan tetap menjaga Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Selebihnya, berserah pada penjagaan Allah SWT yang sudah terbukti memberi kesehatan lahir dan batin selama tiga bulan stay at home. Bismillah ya Allah … kami siap hadapi fase new normal, dengan menjadi mindfulmom yang sadar penuh untuk penuh sabar menghadapi apapun mengurus keluarga tercinta.

Sokaraja, 26 Juni 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 20 buku Antologi
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
❤️Penulis 20 buku Antologi
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan