Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mental Illness Tema Ditentukan Writing Challenge Rumedia (WCR)

Mudik? Bikin Hati Terusik

Oleh: Ribka ImaRi

Ketika menuliskan naskah Writer Challenge Rumedia dengan tema “ditentukan” ini didetik-detik terakhir, pikiranku masih berputar-putar mencari makna mudik. Namun tetap saja belum kutemukan makna mendalam tentang mudik. Saking tidak ada istimewanya bagiku. Sebegitu parahkah?

Ya, sebab dalam hidupku, momen mudik selalu berlalu begitu saja dari tahun ke tahun menjelang Hari Raya Idul Fitri. Hal ini disebabkan kedua orangtuaku tidak mengenalkannya sedari aku kecil. Namun belakangan di tengah pandemi Covid-19, kata mudik ini membuat hatiku terusik. Mengapa bisa demikian?

Begini ceritanya,

Kedua orangtuaku semula memeluk agama Islam. Dalam keadaan kekurangan ekonomi akhirnya membuat keadaan kami tidak memungkinkan mudik sekeluarga.

Lalu keduanya memeluk agama nasrani. Hal ini semakin membuat ritual mudik ke kampung halaman menjadi sesuatu yang semakin tidak harus. Apalagi mudik dari Jakarta ke Maos, Cilacap, kampung halaman mama, membutuhkan uang yang lumayan besar untuk kami berlima sekeluarga. Dengan dua orangtua dan tiga anak. Masku, aku dan adikku. Kalau pun pernah mudik, itu ketika mama atau bapak ada kebutuhan mendadak. Jadi yang kuingat, kedua orangtuaku pernah beberapa kali pergi seorang diri untuk mudik.

Jadi benar-benar belum pernah mudik karena momen menjelang Hari Raya Idul Fitri. Selalu berpikir harga tiket bis atau kereta api itu mahal harganya. Bahkan setelah aku sudah bekerja dan mampu membelikan tiket.

Kedua orangtuaku acapkali merencanakan mudiknya setelah Hari Raya saja. Selain harga tiket sudah normal kembali, lalu lintas pun kembali lengang. Jadi sama sekali tidak ada goresan kenangan indah tentang suasana mudik ke kampung halaman mama. Setiap Lebaran aku lalui dengan hambar ketika teman-teman sekolah sibuk bercerita tentang kegiatan mudiknya

Aku merasa kehidupan masa kecilku semakin tidak normal. Manakala mudik ke kampung halaman bapak di Boyolali, baru bisa kucicipi untuk pertama kalinya ketika aku sudah berumur 19 tahun lulus SMU lalu mendaftar kuliah di Universitas Diponegoro, Semarang. Awalnya, aku memakluminya. Mungkin karena biaya yang terbatas. Jadi tunggu ada momen sekalian seperti itu. Bisa mudik sekalian setelah mendaftar kuliah.

Namun, demi mendengar alasan bapak, dulu permah membuatku dendam. Seketika aku marah demi mendengar sendiri saat bapak bercerita bahwa beliau baru berani mudik Lebaran setelah aku, anaknya bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri. Saat itu, aku merasa seperti boneka hidup yang dipamerkan keliling kampung.

Semenjak itu, aku benar-benar ilfil jika membicarakan mudik. Sampai ketika menikah pun, selama enam tahun aku tidak punya kenangan indah tentang mudik. Sebab menjadi tidak wajib untuk mudik dalam arti menginap dalam beberapa waktu saat Lebaran. Karena kedua orangtuaku yang tidak merayakan Lebaran. Paling aku, suami dan kedua anakku, hanya berkunjung beberapa saat saja dari rumahku di Depok ke rumah orangtua, di Jakarta Barat.

Hal itu berlanjut terus sampai akhirnya keluarga kecilku pindah ke Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah.

Ada secercah harapan buatku mencicipi nikmat rasanya mudik dalam arti pulang ke kampung halaman orangtuaku atau suami di saat Lebaran. Alhamdulillah … akhirnya penantian panjang itu bisa terwujud. Aku bisa merasakan suasana Lebaran di kampung halaman mamaku yang berada di Maos. Dengan berjarak hanya 25 km dari rumahku di Sokaraja, sungguh rezeki luar biasa ketika bisa berkumpul dengan keluarga besar tercinta di Hari Raya Idul Fitri seperti yang terlihat di bawah ini.

Sumber foto: dokumentasi pribadi, Lebaran 2017

Mengapa aku pernah sangat antusias menyambut momen mudik. Sepele. Namun sedang giat-giatnya mengenalkan makna mudik kepada kedua anakku sedari dini. Agar keduanya punya kenangan indah berkumpul bersama keluarga besar.

Namun apa daya, di saat seperti ini, ketika pandemi Covid-19 sedang mewabah di dunia Indonesia. Sehingga keluar himbauan bahkan sampai larangan mudik.

Seketika ekspresi batinku menjadi biasa saja. Tidak ada rasa sedih. Karena memang aku bukan pelaku mudik yang rutin pulang ke kampung halaman. Sedangkan untuk mudik ke rumah orangtua di Jakarta Barat, aku laksanakan terakhir kalinya di bulan Oktober 2017. Itu pun sangat penuh perjuangan untuk merealisasikanya. Meski pada akhirnya bukan lagi tentang masalah ekonomi keluarga.

Hatiku terusik, “Akhirnya, orang-orang semua merasakan hal yang sama sepertiku. Sudah stay at home di rumah saja. Tidak usah ke mana-mana dulu sampai pandemi berakhir.”

Orang lain berserdih tidak bisa mudik, aku kok sok bijak menasihati. Rasanya seperti tidak ada empati. Namun fenomena ini benar-benar terjadi. Selama ini, aku pernah merasa sendirian. Merana ketika tidak bisa seperti orang kebanyakan yang merasakan mudik secara besar-besaran demi berkumpul dengan keluarga besar.

Terkesan jahat aku dong! Namun melalui mindfulness aku berjuang sadar pada diri sendiri bahwa deritaku ya deritaku. Jangan ajak-ajak orang lain untuk semakin menderita. Namun berdoa untuk kebaikan orang lain yang ingin mudik. Bismillah pandemi virus corona segera berakhir. Sehingga kebanyakan orang bisa kembali mudik seperti semula. Berikan kekuatan saat berjauhan. Sampai akhirnya bisa berkumpul bersama dalam pelukan.

Sokaraja, 6 Mei 2019
-Ribka ImaRi-
Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (2018)
Mentor Kelas Tantrum Anak (2018)
Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (2019)
Founder ImaRi’s Corner Parenting (2020)
imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan