Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Bebas Kategori Segar Writing Challenge Rumedia (WCR)

Mindfulness Untuk Dismenore (Nyeri Haid Hebat)

Oleh: Ribka ImaRi

“Sakit-sakitan karena depresi atau depresi karena sakit-sakitan?”

Dulu, aku mengalami dua-duanya. Sekarang, bebas dua-duanya. MasyaAllah alhamdulillah … aku bisa sembuh. Sujud syukur tiada terkira, tiga bulan menjelang usia 40 tahun. Sudah tua ternyata. Namun justru aku merasa semakin sehat jiwa dan raga.

Kemarin (Jumat, 12/6/2020) di hari kedua menstruasi, aku malah bisa gowes sejauh ini. Total pergi pulang sejauh 32,5 km dengan tanjakan Baturraden, Purwokerto yang bagiku, pesepeda pemula, sudah luar biasa menantang. Hampir menyerah di pinggir jalan. Rasanya ingin putar balik saja.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Merasa nggak sanggup menaklukkan tanjakannya. Waktu di tanjakan yang lumayan curam, berkali-kali menepi untuk istirahat. Pemandangan Gunung Slamet yang dari kejauhan sudah terlihat menjulang tinggi membuatku balik lagi bersemangat saat benar-benar hampir menyerah.

Sumber foto: dokumentasi pribadi.

Hanya karena Allah saja dan suntikan semangat dari suami tercinta, akhirnya untuk pertama kalinya aku berhasil sampai di gerbang Kawasan Wisata Baturraden. Alhamdulillah.

Bukan, bukan tentang hebatnya aku bisa kuat melakukan olahraga berat dengan gowes sejauh itu melewati banyak tanjakan luar biasa. Namun karena aku bisa menang menaklukkan ketakutan dalam diriku sendiri. Ketakutan yang bersemayam selama belasan bahkan puluhan tahun.

Takut pada serangan nyeri haid hebat seperti dulu-dulu yang selalu membuatku terkapar di hari pertama bahkan pernah sampai hari keempat. Kemarin pun sempat ada kelebat rasa celekit di perut bagian bawah. Kelebat trauma mengerikan selama menstruasi menghadirkan rasa tidak nyaman di perut semakin kentara.

Akan tetapi, karena aku sudah tahu ilmu mindfulness, aku semakin sadar untuk segera mengendalikan rasa sakit karena sudah memahami pemicu yang berkelebat dipikiran. Ini nyata benar bahwa koneksi antara pikiran ke tubuh itu seperti kecepatan cahaya.

Saat pikiran memikirkan bahkan hanya membatin, “Aduh aku sakit nggak ya ini?” secepat kilat tubuh bereaksi seperti protes. Seperti saat aku memikirkan nggak enak banget rasanya dulu sakit menstruasi. Pada detik itu juga, seketika perutku berkontraksi layaknya seperti sedang protes akibat sedang dibicarakan.

Menyadari perutku sakit, aku tak ingin menyerah pada keadaan. Sambil perlahan mengayuh sepeda, aku terus menerus menghirup dan menghembuskan napas dengan lembut dan lambat. Aku berusaha mindful, sadar penuh untuk hadir dan fokus sepenuhnya di jiwa dan ragaku yang sedang melakukan kegiatan bersepeda. Bukan lagi memikirkan masa laluku yang trauma sakit saat menstuasi. Kali ini aku tak mau kalah menyerah seperti dulu seperti saat jiwaku masih rapuh jadi mudah hilang semangat

Aku segera melakukan ACCEPTANCE (PENERIMAAN KEADAAN), “AKU TERIMA TRAUMA MASA LALUKU, JIWA MASA REMAJAKU YANG KALAU MENSTRUASI PASTI TERKAPAR BERHARI-HARI AKIBAT KISTA ENDOMETRIOSIS. YANG TERNYATA BERAKAR DARI TUMPUKAN KEMARAHAN KEPADA BAPAKKU SELAMA PULUHAN TAHUN SEJAK AKU REMAJA USIA 14 TAHUN HINGGA USIAKU 36 TAHUN BARU BISA MEMAAFKAN BAPAK SAMPAI KE DASARNYA (SETELAH BELAJAR MINDFULNESS). MESKIPUN SUDAH MEMAAFKAN BAPAK, KADANG-KADANG MASIH TERASA SAKIT SAAT MENSTRUASI AKIBAT SEDANG STRES ATAU MEMENDAM EMOSI KARENA HAL LAINNYA. SEKARANG JIWAKU SUDAH PLONG TIDAK LAGI MEMENDAM KEMARAHAN. JIWA DAN RAGAKU SUDAH MENDEWASA BAHKAN MENUA JELANG USIA 40 TAHUN. ALLAH SUDAH MEMBERIKAN BANYAK KETERAMPILAN MENGELOLA TUBUH MENJADI LEBIH SEHAT. PUN PIKIRAN MENJADI SEHAT JUGA. JADI AKU PASTI BISA SEHAT JIWA DAN RAGA SEKARANG INI. BISMILLAH AKU SEBENAR-BENARNYA SEHAT. HEMBUSKAN SEMUA RASA SAKIT SAAT INI. SEHAT-SEHATLAH TUBUHKU. AKU MENCINTAIMU TUBUHKU KARENA ALLAH SUDAH MEMBERIKAN TUBUH TERBAIK. AKU AKAN JAGA SUPAYA TETAP SEHAT SAMPAI ALLAH YANG CUKUPKAN USIAKU DI DUNIA.”

Panjang dan lebar aku bicara pada tubuhku dengan teknik SELF TALK dan ACCEPTANCE. Agar sakitnya mereda sambil terus menghembuskan napas seraya membuang sakit seolah keluar dari mulut. Huh! Sekali lagi aku hentakkan supaya benar-benar plong dan tidak sakit lagi. Ajaib! Alhamdulillah bisa dikendalikan sakitnya. Pun, dengan afirmasi positif, SEMANGAT KUAT DAN SEHAT. AKU NGGAK MAU NYERAH SAMA SAKIT. ALLAH KASIH AKU KENDALI LEBIH KUAT DARI PENYAKITKU. MasyaAllah yangbenar-benar sehat sampai hari ini. Nggak kecapekan sama sekali. MasyaAllah.

Takjub dengan pencapaian kesehatanku yang terbaik dari Allah. Ini benar-benar tak mudah bagiku pejuang DISMENORE (nyeri haid hebat) akibat KISTA ENDOMETRIOSIS selama 17 tahun. Biasanya dihari pertama dan kedua, aku pasti bedrest seharian penuh karena takut keluar rumah. Takut drop di jalan. Jika sudah terjadi seperti itu, malah merepotkan diri sendiri dan orang lain. Saking sakitnya bikin sampai tidak bisa berdiri.

Aku sampai harus terkapar ditrotoar, jadi butuh dijemput teman untuk membantu membawa sepeda motorku dari lokasi kejadian menuju rumah. Kalau sedang mengendarai mobil, aku bisa menepi beristirahat dan menuntaskan serangan muntah di plastik yang selalu kubawa sebagai bekal di saat menstruasi.

Rasanya sangat lelah harus seperti itu terus menerus selama belasan tahun. Pernah beberapa kali aku merasa sehat dan berani keluar rumah di pagi hari, tetapi menjelang siang atau sore hari bisa tiba-tiba terkena serangan nyeri haid luar biasa. Keringat dingin sekujur tubuh, bibir membiru, muntah tanpa bisa di tahan lagi, sampai yang keluar hanya tinggal cairan kuning, perut seperti sedang diperas dan diplintir membuatku tidak mampu berdiri apalagi berjalan. Aku pernah rebahan di halte, trotoar, rerumputan, emperan toko, teras kampus, dan entah mana lagi, masih banyak lagi. Karena selama 17 tahun masa menstruasi setiap bulannya aku belum pernah absen sakit. Setelah punya anak menjadi selang seling tergantung keadaan emosiku.

Sekiranya pantas aku takjub, karena seumur hidup sejak kecil sudah kenyang sakit-sakitan. Dari proses lahir yang dramatis terendam air seni mama, sampai SD seingatku, aku benar-benar penyakitan. Mulai dari sering muntah-muntah sampai keluar cacing (serem), sering diare, sering sariawan, sering batuk sampai njengking-njengking saking sakitnya tenggorokan, sering pilek sampai bawah hidung luka berkali-kali, sempat dua kali gejala sakit typus dan lain-lain.

Apalagi sejak mendapat menstruasi diusia 14 tahun, drama hidup dimulai karena nyeri haid hebat. Bisa jadi menstruasi di usia 14 tahun sudah menjadi pemicu depresi saat itu. Atau sebaliknya, depresi karena keturunan dari bapakku, yang memicu sakit saat menstruasi (nyeri haid hebat). Rasanya mau mati saja karena saking sakit luat biasa tak tertahankan. Teman kos Isnaeni Ippeh mungkin ingat. Sahabat KKN Novi Sartika jadi saksi hidup, kalau nggak lihat sendiri, mungkin nggak akan percaya kalau aku mengalami nyeri haid yang nggak umum seperti perempuan haid biasanya.

Sekarang aku sehat luar biasa masyaAllah alhamdulillah. Karena depresinya ditangani, semua emosi terpendam dikuras bersih agar tidak menumpuk di tubuh. Jadi tubuh bisa kembali sehat. Tubuh disehatkan, depresinya jadi sangat terkendali. Tidak saling memicu pada saat fase menstruasi yang membuat nyeri haid hebat. Atas perolongan Alllaj, semua jadi berjalan normal seperti apa adanya menurut siklus yang seharusnya terjadi di dalam tubuh.

Sokaraja, 13 Juni 2020
-Ribka ImaRi-
Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
Founder support grup ImaRi’s Corner Parenting (2020)
Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan