Curahan Hati Kisah Hikmah Latihan Menulis Komunitas Motivasi dan Inspirasi Parenting

Meski Pernah Tak Mudah, Acceptance Terus Sampai Akhirnya Terasa Mudah

MESKI PERNAH TAK MUDAH, ACCEPTANCE TERUS SAMPAI TERASA MUDAH

Entah sudah berapa kali hitungan jari tanganku mengalami keadaan sulit air. Entah itu karena mesin pompa air yang rusak atau pdam yang mati seperti kali ini.

Sebenarnya ini adalah hal biasa terjadi di kehidupan sehari-hari. Namun pernah membuatku mengamuk dulu. Karena rekaman Inner Child (IC) yang terbiasa menyaksikan bapakku yang selalu saja mengamuk saat menghadapi masalah sepele sekali pun.

Tetapi pagi ini aku sudah bersyukur alhamdulillah untuk otakku yang sudah tidak korslet lagi neurotransmitter-nya jadi sudah bisa bersyukur untuk keadaan genting yang sedang dihadapi.

Air pdam yang mati total selama 27 jam membuat air di tandon 1000 L dan 1 galon air 19 L sudah habis untuk keperluan 2 orang dewasa dan 2 anak selama seharian kemarin sampai pagi ini.

Syukur alhamdulillah untuk otak yang sudah bisa tetap positif thinking mana kala terbangun jam 2 pagi melihat air kran yang menyala tetapi kecil sekali dan hanya menghasilkan air sebanyak 2 ember besar tapi tak sampai penuh.

Syukur alhamdulillah untuk Tyaga dan Jehan yang sudah membesar seiring OCD (Obsessive Compulsive Disorder) perfeksionis bersih yang sudah bisa turun jauh dari standar kebersihan yang pernah tinggi. Karena dulu tiap saat aku harus memastikan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sampai bersih. Sekarang sudah bisa hanya dengan hand sanitizer.

Keadaan yang sudah bisa aku ACCEPTANCE (ACC) saat melihat 3 ember cucian baju yang sudah terendam selama 24 jam. Pun keadaan cucian piring yang menumpuk sejak siang kemarin dan menimbulkan bau tak sedap.

Pokoknya TERIMA SAJA. TERIMA LAGI. TERIMA TERUS KEADAANNYA. Satu per satu keadaan terus menerus diterima dengan mengajak pikiran untuk terus afirmasi positif. Ajaib, hasilnya menjadi terasa positif. Bukan saja kepalaku yang tidak lagi terasa sensasi stresnya. Tetapi badan yang masih terasa nyaman meski mandi terakhir kemarin pagi. Karena tubuh yang diterima adanya, jadi terasa nyaman apa adanya.

Dan prestasi yang luar biasa buatku adalah tetap bisa lembut ke Tyaga dan Jehan. Meski ada satu atau dua momen bikin naik nada, tetapi sungguh sangat terkendali. Karena berulang kali aku mengerahkan PAUSING (JEDA SESAAT) dan ACCEPTANCE (MENERIMA KEADAAN).

Atas pertolongan Allah dan otakku yang berulang kali aku ajak berlatih dengan menancapkan ACC sekaligus afirmasi positif terus menerus bahwa “PENERIMAAN TIDAK AKAN MENGUBAH KEADAAN, TETAPI PENERIMAAN MEMBUAT BEBAN ITU TERASA LEBIH RINGAN.” Akhirnya memang benar ketika menghadapi masalah kali ini jadi terasa lebih mudah dan ringan.

Sokaraja, 10 Maret 2020
Penyintas depresi genetik dari orangtua yang dulu selalu stres menghadapi masalah dalam kehidupan sehari-hari karena memang kondisi otak yang sakit.

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan