Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Bebas Kategori Tetap Writing Challenge Rumedia (WCR)

Meski Pedih, Kutempuhi Jalan-Nya untuk Menyembuhkan Luka Batin Inner Child-ku

Oleh: Ribka ImaRi

Semangat pagi Sahabat ImaRi’s😍
Salam hangat dari Kota Mendoan, Purwokerto😍

Aku berdoa semoga semua sahabat ImaRi’s juga bisa merasakan kelegaan sehat jiwa raga seperti diriku. Aamiin….

Empat tahun lalu, suatu pagi di tanggal 4 Juni 2016, mobil kecil kami memasuki kota satria ini. Setelah semalaman kami sekeluarga menempuh perjalanan pindah dari Depok, Jawa Tengah ke kota Purwokerto tercinta ini. Meskipun pada kenyataannya, rumah kami masuk area kecamatan Sokaraja (jarak 500m dari perbatasan Purwokerto Selatan).

Bagiku, kepindahan ini luar biasa berat karena membawa banyak beban luka batin dari orangtuaku, suami, kakak ipar dan tetangga depan rumah di Depok dulu. Pada akhirnya aku mengenali, keempat pemicu depresiku itu, sebenarnya semua berakar dari pola asuh orangtuaku.

Atas seizin Allah, aku dimampukan mengenali, menggali dan akhirnya bisa menangani secara otodidak setelah mendapat bimbingan melalui Mentorku, pakar Mindfulness Parenting, bapak Supri Yatno. Dengan mengikuti kelas online beliau di bulan Agustus 2016.

Pagi ini, tepat 4 tahun aku tinggal di kota. Kota yang pernah kusematkan sejuta harapan bagi kesembuhanku. Alhamdulillah, nyata benar anugerah Allah. Kini aku bisa tegar berdiri di sini, di atas kaki sendiri tanpa merasa terpicu sama sekali oleh siapapun dan apapun. Aku pun bisa berfoto bersama sepeda yang dibelikan suami dalam keadaan sehat jiwa raga.

Aku sudah bisa mindful, yakni sadar sepenuhnya untuk bahagia berada di sini dan sekarang.

Padahal, beberapa tahun silam, kata dan sebentuk “sepeda” mampu membangkitkan kesedihan mendalam dari Inner Child-ku (jiwa masa kecilku yang terpicu oleh kenangan pada sepeda). Simak ceritanya besok ya.

Sekarang, simak dulu cerita salah satu jalan kesembuhan inner child-ku berikut ini.

Sujud syukur kepada-Mu ya Allah yang telah memberi petunjuk salah satu jalan kesembuhan dari DEPRESI & BIPOLAR-ku dengan mengedarkan SEDEKAH NASI JUMAT melalui tanganku sendiri. Walaupun tetap dibantu dana dari para donatur dan tenaga dari suami dan kedua anakku, aku tetap ingin melakukannya sendiri. Hanya demi aku bisa menguras tuntas segala sensasi emosi saat aku terpicu kenangan masa kecil (inner child).

Terimakasih bertubi-tubi untuk suamiku atas izinnya yang pernah alot dulu. Hehe. Namun karena aku keras kepala dan ngeyelan akhirnya suami membolehkan aku berbelanja, memasak, mengedarkan semuanya sendirian dengan segala kerepotanku mengurus dua anak sendirian sewaktu masih LDM (Long Distance Marriage selama Juni 2016-Febuari 2019). Pun, akhirnya aku menemukan kegiatan yang benar-benar melatih berjuang sabar, mandiri, tangguh dan mengendalikan mood swing dari bipolarku. Sungguh, sangat berat mengendalikan emosi agar tetap sabar. Namun aku berjuang untuk tidak menyerah.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Aku berbelanja ke pasar besar, Pasar Wage di Purwokerto dengan membawa kedua anakku. MasyaAllah … Tyaga dan Jehan lah yang membantuku berbelanja. Meski harus benar-benar sabar menunggu keduanya beristirahat sejenak, sambil menyemil jajan pasar. Padahal, jujur, mauku secepatnya pulang ke rumah untuk memasak. Namun aku kembali sadar, jika aku bisa sabar, kedua anakku jadi lebih mudah diajak kerjasama.

Untuk berlanjut di rumah nanti ketika aku menyiapkan semua bahan dan memasaknya sendiri. Entah berapa kali berhenti memasak karena harus mengasuh Tyaga dan Jehan sampai benar-benar anteng, nyaman dan bisa ditinggal melanjutkan pekerjaan di dapur. Sebab tidak ada yang membantu mengasuh keduanya. Nasi sedekah jumat memang penting bagiku. Namun, perasaan anak-anakku lebih utama.

Kemudian menatanya dalam kemasan yang layak untuk bapak becak dan pemulung.

Hingga semua siap packing untuk kemudian aku mengedarkannya dengan menggunakan sepeda motor menuju jalan-jalan di Purwokerto.

Terkadang aku baru siap mengedarkannya di waktu hari sudah malam.

Pernah juga aku menyalurkannya ke panti asuhan Harapan Mulia di bilangan Mersi, Purwokerto.

Terimakasih banyak kepada semua donatur. Berkah untuk semua donatur yang telah berkenan mengamanahkan SEDEKAH NASI JUMAT. Dan sangat pengertian ketika harus sabar menunggu antrian terlaksananya sedekah nasi Jumat.

Sangat tak mudah menjalaninya lebih dari setahun. Sempat vakum beberapa saat karena kerepotanku yang tak berujung. Hingga pada akhirnya suami hanya membolehkan aku mengkoordinir SEDEKAH NASI JUMAT, tetapi membelinya dalam bentuk sudah siap diedarkan seperti pada foto ini.

Atas support adekku Vika Indriana, mulai Januari 2020 ini, aku bertekad merutinkan lagi SEDEKAH NASI JUMAT. Dengan membelinya dari :
1. walimurid teman sekelas Tyaga, bunda Olive Lani Shaqilla Lani Shaqilla dengan Lemon’s Kitchen-nya.
2. sahabat ketemu di FB, Mbak Rianita Nur Pratiwi dengan Kalief Fried Chicken-nya. Terimakasih semuanya berkah untuk semua.

Pernah, tanganku atau tangan suamiku atau tangan mungil kedua anakku yang terulur lalu diterima dengan senyum sumringah penuh syukur oleh bapak becak dan gepeng, benar-benar membuat sejuk hatiku.

Awal aku melaksanakan SEDEKAH NASI JUMAT di Maret 2018, tangisku pecah sejadi-jadinya sepanjang perjalanan pulang dari Pasar Wage, Purwokerto (tujuan terakhir mengedarkan ke para gelandang dan pengemis di emperan toko dan di trotoar samping Hotel Cor) sampai rumahku di Karangrau, Sokaraja.

Meski Pedih, kutempuhi jalan untuk menyembuhkan luka batin inner child-ku. Dalam menempuhi jarak kurang lebih 4 km, mataku tertutup air mata yang berderai tiada henti. Namun aku tahu saat itu, “inilah jalan kesembuhan dari Allah untuk mengobati luka batin masa kecilku yang pernah kekurangan makan. Sekarang dengan cara memberi makanan kepada yang membutuhkan, membuatku merasa terpenuhi jiwa masa kecilku yang selalu kekurangan makanan.”

Semasa kecil, aku dan saudara-saudaraku harus menahan perut melilit saat tidak ada makanan yang bisa dimakan di rumah. Aku juga sering menahan liur ketika melihat anak tetangga sedang memakan buah rambutan atau duku. Karena sekadar memakan buah musiman yang adanya setahun sekali pun aku belum bisa saat itu. Karena memang keadaan ekonomi kedua orangtuaku yang berada di bawah garis kemiskinan.

Hal itu pernah membuatku sedih mendalam. Karena memang dulu aku belum diajari caranya menerima keadaan dan bagaimana bisa bangkit dari keterpurukan. Kini, akhirnya aku bisa memaafkan dan memaklumi keadaan orangtua yang memang belum mapan secara ekonomi ditambah kami belum memahami ilmu pengasuhan.

Kesedihan masa kecilku di tahun 1987-an pernah terus bersemayam di jiwa masa kecil selama 30 tahun. Sampai pertengahan 2017 aku pernah berdoa, “Ya Tuhan … aku ingin sembuh dari depresi. Aku juga nggak mau berobat-berobat lagi ke psikiater. Sayang-sayang duitnya. Lumayan uangnya untuk satu kali kontrol habis 250.000 ribu rupiah. Cukup dua kali itu saja ya aku berobatnya. Lebih baik uangnya untuk yang lainnya yang lebih bermanfaat. Salah satunya rutin memasak untuk nasi jumat meski sedang tidak ada donatur.”

MasyaAllah alhamdulillah … di awal tahun 2020 ini sudah tak ada lagi tangis menyesakkan jiwa saat aku mengedarkan SEDEKAH NASI JUMAT. Aku sudah sembuh masyaAllah ….

Hari ini tepat empat tahun aku berproses menyembuhkan luka batin masa kecil. Allah bukan saja sudah menyembuhkan, tetapi justru telah menjadikanku Mentor yang mengasuh ratusan ibu muda yang masih terjebak emosi inner child. Memberi mereka pembelajaran dalam sebuah kelas online di whatsapp grup. Yang sebagian materi adalah sharing pengalaman hidupku sendiri. MasyaAllah … alhamdulillah.

Sungguh, semua atas seizin Allah, kini sudah memasuki batch 6. Alhamdulillah ….

Atas keberkahan Allah memberi kesembuhan tepat empat tahun berproses. Maka bagi yang mendaftar KHUSUS HARI INI akan mendapat DISKON sebesar 40%😍

Silakan hubungi wa 085217300183

Salam sehat jiwa raga,

Sokaraja, 4 Juni 2020
-Ribka ImaRi-
Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
Founder support grup ImaRi’s Corner Parenting (2020)
Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan