Latihan Menulis Komunitas

Mengubah Inner Child Negatif Menjadi Positif

Mengubah Inner Child Negatif Menjadi Positif

Oleh: Ribka ImaRi

Suamiku begitu orangnya. Istri dan anaknya disuruh duduk manis di kursi, sementara dia menyapu lantai seluruh rumah sampai bersih.

Omong-omong, dia pernah bilang “pengen liat bunda nyapu”. Namun, sepertinya hal mustahil. Sejak menikah dari Agustus 2010, rasio antara suami dan istri yang menyapu adalah 90% : 10%.

Kenapa bisa begitu?

Setelah belajar Mindfulness Parenting (ilmu mengasuh dengan kesadaran penuh) ternyata tergali akar Inner Child-ku (jiwa masa kecil) yang negatif. Aku sangat pernah membenci pekerjaan menyapu akibat perlakuan bapakku yang perfeksionis. Bapakku bisa menyapu berkali-kali bahkan belasan kali.

Yang terekam di otakku, bapakku hampir selalu pegang sapu. Dalam kondisi mengomel dan marah-marah dengan kata-kata menyakitkan hati. Terutama saat menyuruhku menyapu tetapi dengan embel-embel menghakimiku sebagai anak perempuan malas menyapu.

Padahal, bukannya aku malas menyapu. Walaupun aku sudah menyapu, bapak tetap menyapunya lagi. Jadi pikiran masa kecilku, percuma saja aku menyapu. Toh nanti bapak akan menyapunya lagi.

Kemudian ketika sudah mejadi istri dan ibu, meskipun menyapu adalah kewajibanku sebagai IRT, aku pernah sangat membencinya. Jadi aku sangat malas mengerjakannya. Malasnya sudah sampai tingkat depresi. Malas yang benar-benar malas. Tak ingin pegang sapu sama sekali. Karena ada rasa yang benar-benar benci pada sapu akibat teringat benci pada bapakku.

Kalaupun akhirnya aku mengerjakannya, aku mengerjakannya dengan dada rasa penuh emosi. Karena terpicu IC-ku. Gemuruh, mendendam dan membenci. Semua campur aduk menjadi satu. Muka cemberut. Bibir dower. Alis bertaut. Persis sosok bapakku saat menyapu semasa kecilku. Sosok yang pernah sangat kubenci.

Kalaupun aku berusaha mengerjakannya dengan senang hati, dadaku sesak. Tak bisa kupungkiri. Aku masih terpicu. Setengah mati aku menahan mood swing yang tiba-tiba hinggap di otak dan perasaanku. Dari yang semula bahagia menyapu, seklebat saja berubah menjadi benci sapu. Yang ternyata ini adalah bentuk bipolarku. Dalam keadaan senang, bisa tiba-tiba membenci.

Untuk itu, aku berjuang dan berusaha memaafkan bapakku yang menjadi akar kebencian. Lalu mengajak suamiku melakukan pekerjaan rumah tangga dengan cara-cara yang menyenangkan tanpa marah. Berjuang menerima dan mengasuh IC-ku yang negatif yang berhubungan dengan pekerjaan rumah tangga. Agar tidak terpicu. Supaya Tyaga Jehan, kedua anakku, bisa meniru dan merekamnya menjadi IC yang positif.

Karena sangat penting sekali membentuk inner child yang positif di berbagai sendi kehidupan. Supaya anak berkembang menjadi pribadi yang mudah menerima segala keadaan dalam hidupnya dengan hati yang senang dan menjadi antusias menjalani hidupnya karena mendapat contoh yang menyenangkan saat melakukan suatu pekerjaan. Bukan dengan beban. Apalagi dibarengi dengan amarah.

-Ribka ImaRi-
Sokaraja-Purwokerto, 19 April 2019
ImaRi’s Corner

Sumber foto: dokumentasi pribadi

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan