Hari-Hari Bersama Duo ImaRi Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Mental Illness Mindfulness Parenting

Mengikis Akar Perfeksionis Kronis-Bagian 4 (Tamat)

Bagian 1: https://wp.me/pbUoBX-3z
Bagian 2: https://wp.me/pbUoBX-3H
Bagian 3: https://wp.me/pbUoBX-3S

Sementara gangguan yang satunya lagi adalah
Obsessive-compulsive personality disorder (OCPD) merupakan suatu gangguan kepribadian yang ditandai dengan perfeksionisme, keteraturan, dan kerapian yang ekstrem. Seperti pada saat membersihkan lele ini. Harus benar-benar teratur langkah-langkah membersihkannya sampai menggunting perut lele dengan rapih tanpa beda satu sama lain.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Orang dengan OCPD juga akan merasa perlu untuk memaksakan standar mereka sendiri pada lingkungan di luar mereka. (Honestdoc Editorial Team. 2019. Obsessibe Compulsif Personality Disorder-Penyebab, Gejala dan Pengobatannya.
https://www.google.co.id/amp/s/www.honestdocs.id/obsessive-compulsive-personality-disorder.amp. Diakses 24 Desember 2019).

Pada gangguan OCPD-ku ini, dulu sering membuatku sangat membenci berantakan.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Jika sudah berkutat pada pekerjaan berberes, aku merasa sangat sulit menghentikannya. Jika sudah membereskan suatu area, aku bisa marah jika ada mengganggu. Misal anak yang minta ini itu dan membuat aku harus menghentikan sementara pekerjaan membereskan berantakan atau cucian piring yang berserakan seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Seiring perjalananku menjadi ibu dari dua anak dan sebagai rumah tangga tanpa asisten, aku mulai menyadari ini sangat tidak baik untuk diriku sendiri terlebih perkembangan jiwa anakku. Sebab anak pertamaku, laki-laki menjadi sulit menerima keadaan kotor yang menempel pada kakinya.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Begitu pula pada anak kedua, perempuan, ia sudah menunjukkan gangguan ketika ia mengharuskan dirinya untuk mencuci tangan berulang kali dalam sehari jika merasa kotor. Bersyukurnya, saat foto-foto ini diambil, Juni 2019, keduanya sudah bisa enjoy bersentuhan dengan keadaan kotor akibat pasir pantai yang menempel. Karena aku telah lebih dulu berjuang MENERIMA keadaan kotor sehingga bisa menerima anak-anakku yang sedang dalam keadaan kotor.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Gangguan OCPD-ku ini sebenarnya sangat menyiksaku dan juga merusak hubunganku dengan orang terdekat. Aku pernah bertengkar hebat dengan kakak ipar karena beliau belum mencuci tangan atau memakai hand sanitizer (pembersih tangan anti kuman tanpa air) sebelum memegang bayiku yang baru berusia 1,5 bulan. Pun, merusak hubunganku dengan suami yang sangat baik mau membantu pekerjaan rumah tangga sehari-hari.

Akan tetapi jadi malas membantu karena begitu banyak aturan dan tata pelaksanaan dariku. Kesan cerewet dan tidak tahu berterimakasih melekat padaku, “Sudah dibantu, masih saja kurang begini begitu.” Karena aku ketakutan tangan suamiku tidak sebersih tanganku yang sudah dicuci berkali-kali ketika akan memegang baju-baju bayi kami untuk dijemur.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Rasa takut dalam pikiran masa kecilku mengenai kematian mas kandung akibat keadaan kotor, begitu merasuk dan merusak pikiran normalku. Lagi-lagi sebenarnya ada terbersit sedikit sadar untuk tidak cerewet. Akan tetapi aku sangat sulit menghentikan kendaliku pada orang sekitar untuk melakukan semua pekerjaan dengan sempurna sesuai aturan dan urutan yang biasa aku lakukan.

Penyebab pasti dari OCPD masih tidak diketahui. Namun OCPD kemungkinan disebabkan oleh kombinasi genetika dan pengalaman masa kecil. Benar adanya, bahwa aku mendapat penyebab genetik dari bapakku. Aku sangat ingat, bapakku sering berlebihan saat berberes hal apapun di rumah dan didominasi oleh kemarahan. Karena anak adalah peniru ulung, jadilah aku berkembang menjadi gadis yang hobi berberes saat sedang marah. Ditambah pengalaman masa kecil yang pernah trauma akibat kematian mas kandung, lengkap sudah mengkombinasi gejela OCD dan OCPD-ku.

Gejala-gejala OCPD yang melekat padaku :

-perfeksionisme yang dapat mengganggu kemampuan untuk menyelesaikan tugas atau aktivitas sehari-hari

-tingkah laku yang kaku, atau formal

-kebutuhan yang luar biasa untuk tepat waktu

-perhatian yang berlebihan terhadap sesuatu dan mendetail

-pengabdian yang berlebihan untuk bekerja dengan mengorbankan keluarga atau hubungan sosial

-ketidakmampuan untuk berbagi atau mendelegasikan pekerjaan karena takut pekerjaan tersebut tidak dapat dilakukan dengan benar

-kepatuhan yang kaku terhadap peraturan dan ketentuan

-merasa paling benar tentang cara melakukan sesuatu

-kepatuhan yang kaku terhadap kode moral dan etika

OCPD didiagnosis ketika gejala tersebut dapat merusak kemampuan Anda untuk beraktivitas dan berinteraksi dengan orang lain. (Honestdoc Editorial Team. 2019. Obsessibe Compulsif Personality Disorder-Penyebab, Gejala dan Pengobatannya. https://www.google.co.id/amp/s/www.honestdocs.id/obsessive-compulsive-personality-disorder.amp. Diakses 24 Desember 2019).

Ya, dengan gejala di atas, aku benar-benar sudah merasa terganggu. Karena saat semua aktivitas di luar kendaliku, akan ada rasa bersalah yang luar biasa besar. Stres berkepanjangan. Bahkan sudah bisa dikatakan depresi sejak masa remajaku di tahun 1992.

Setelah mempunyai dua anak di tahun 2014, aku merasa tenagaku tidak lagi mampu melakukan semuanya sendirian. Aku ingin sekali tutup mata terhadap pekerjaan mendetail yang membutuh banyak sekali waktu tersita. Seperti halnya mencuci ikan lele, aku melakukannya dengan langkah-langkah mencuci sesuai aturanku yang sangat rinci dan sangat bersih. Hal ini benar-benar membuatku tidak percaya orang lain mampu mengerjakannya dengan sangat bersih seperti standar kebersihanku.

Namun, seiring masa pertumbuhan dan perkembangan kedua anakku yang aktif dan waktuku lebih banyak tersita mengurus keduanya. Terlebih demi memberi contoh perilaku yang baik kepada keduanya, jangan sampai keduanya meniru perilaku OCD dan OCPD yang telanjur melekat padaku, pelan-pelan aku berjuang mengurangi obsesi “kesempurnaan.” Meskipun aku harus terseok-seok menahan sensasi stres luar biasa saat ada aktivitas yang tidak sesuai standarku.

Namun, sejak belajar mindfulness parenting secara online padaAgustus 2016, dengan bapak Supri Yatno sebagai mentor, pelan-pelan aku tumbuh kesadaran untuk mengikis OCD perfeksionis. Demi kedua anakku tidak mengalami beratnya menjalani hidup akibat dibayangi pikiran ribet dan njlimet.

Dengan teknik ACCEPTANCE (PENERIMAAN), aku memulai dengan penerimaan terhadap penyebab OCD-P ku yang berasal dari trauma masa kecil, yaitu trauma mas kandung meninggal karena sakit. Setelah menerimanya, aku terus memupuk kesadaran bahwa sakit adalah proses hidup yang harus dijalani. Siapapun bisa saja sakit.

Penerimaan bahwa sakit adalah hal umum yang bisa dialami siapa saja. Jadi pelan-pelan aku berjuang melepaskannya satu per satu trauma masa kecil. Agar trauma-trauma tersebut tidak terus menerus melekat dalam jiwaku dan merusak tatanan hidupku dalam segala aspek.

Alhamdulillah setelah tiga tahun berproses secara intensif, kini aku sudah bisa lebih santai jika melihat hanger baju tidak tertata rapih berdasarkan urutan warna bahkan sembarang saja aku menaruhnya seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Hingga pagi ini, tanggal 25 Desember 2019, aku merasa sudah sangat terkedali dari OCD-P. Namun, aku masih terus berjuang membaik sampai merasa benar-benar tidak mudah terpicu stres lagi saat ada banyak pemicu yang tidak sesuai dengan kehendakku yang harus “sempurna”.

Pun, terus mengajarkan kepada kedua anakku yang masih usia dini untuk belajar menerima keadaan apa adanya tanpa harus terobsesi pada kesempurnaan. Sebab kesempurnaan hanya milik Allah semata.

TAMAT

Sokaraja, 18 Desember 2019
-Ribka ImaRi-
Penyintas OCD & OCPD sejak kelas 5 SD hingga usiaku 39 tahun saat ini. Namun terus berjuang mengikisnya. Alhamdulillah, kini sudah bisa terkendali dibanyak aspek hidupku menjadi ibu rumah tangga.

Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)

Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (2018)

Mentor Kelas Tantrum Anak (2018)

Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (2019)

Founder ImaRi’s Corner Parenting (2020)

imariscornerparenting/ribkaimari

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...