Hari-Hari Bersama Duo ImaRi Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mental Illness Mindfulness Parenting

Mengikis Akar Perfeksionis Kronis-Bagian 3

Bagian 1: https://wp.me/pbUoBX-3z
Bagian 2: https://wp.me/pbUoBX-3H

—–

Yang kuingat, segala macam gangguan mental yang paling terlihat padaku, terjadi beberapa hari setelah kejadian mas-ku kandung yang meninggal karena sakit di tahun 1992. Aku ingat betul saat aku mulai mempunyai kebiasaan menyiram piring atau gelas dengan air matang setiap kali akan kupakai untuk makan. Hal itu aku lakukan sejak aku berusia 11 tahun pada tahun sampai sekarang sudah berusia 39 tahun.

Kala itu, pikiran masa kecilku dipenuhi ketakutan. Ketakutan kalau aku akan mati juga karena sakit. Sakit yang disebabkan oleh lingkungan yang kotor. Tak ada seorang pun menjelaskan secara rinci tentang penyebab kematian masku. Aku menemukan inilah akar perfeksionis kronis bersih yang melekat padaku.

Meski kini, aku telah bisa MENERIMA semua keadaan 28 tahun lalu sebagai bagian perjalanan hidup yang memang harus kulalui untuk membentuk jiwa dewasaku. Akan tetapi trauma itu begitu banyak mempengaruhi pola hidupku karena adanya gangguan dalam pikiran jiwa masa kecilku (inner child). Terlebih mempengaruhi pola asuhku kepada kedua anakku, Tyaga dan Jehan.

Kejadian traumatis tersebut yang menyebabkan aku begitu membenci keadaan disaat kedua anakku bermain tanah bahkan sekadar bersentuhan ringan dengan tanah seperti yang terlihat pada gambar.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Dulu, aku belum paham apa yang terjadi pada jiwaku. Setelah menjadi ibu, aku banyak mendengar dan membaca tipe ibu perfeksionis. Pelan-pelan aku mulai menyadari, sifat perfeksionis padaku ada penyebabnya dan itu sangat mendasar bahkan berakar. Yakni peristiwa kematian masku yang aku ceritakan di atas.

Kejadian tersebut ternyata melahirkan sebuah gangguan mental juga gangguan kepribadian. Ya, aku mengidap OCD (Obsessive Compulsif Disorder) sekaligus OCPD (Obsessive compulsive personality disorder) seperti yang dijabarkan pada penjelasan di bawah ini.

Obsessive compulsive disorder atau OCD bisa diartikan sebagai gangguan mental yang ditandai dengan munculnya pikiran yang mengganggu secara terus-menerus. Munculnya pikiran ini adalah wujud obsesi terhadap suatu hal yang tidak atau kurang realistis.

Obsesi tersebut sering kali menimbulkan kecemasan dan memicu perilaku berulang-ulang sebagai cara untuk mengatasi rasa cemas akibat obsesi yang dialaminya. Akibatnya, perilaku berulang-ulang tersebut justru menghambat produktivitas dan kegiatan sehari-hari. (Al Fajar, Kemal. 2019. Perfeksionis dan Gila Kendali Belum Tentu OCD. Bagaimana Membedakannya?https://www.google.co.id/amp/s/hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/perbedaan-ocd-dan-ocpd/amp/. Diakses tanggal 23 Desember 2019).

Salah satu contoh OCD yang terlihat nyata terjadi padaku adalah mencuci tangan hingga belasan kali dalam rentang waktu singkat. Apalagi sehabis memegang uang, aku akan mencuci tangan berkali-kali. Untuk aktivitas lainnya, aku bisa puluhan kali mencuci tangan dalam sehari.

Sering, aku sadar bahwa ini sangat mengganggu aktivitasku. Namun, aku sangat sulit menghentikan pikiran untuk terobsesi mencuci tangan.

Bersambung ke bagian 4: https://wp.me/pbUoBX-3T

Sokaraja, 18 Desember 2019

-Ribka ImaRi-
Penyintas OCD & OCPD sejak SD hingga usiaku 39 tahun saat ini.

Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)

Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (2018)

Mentor Kelas Tantrum Anak (2018)

Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (2019)

Founder ImaRi’s Corner Parenting (2020)

imariscornerparenting/ribkaimari

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...