Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Mental Illness

Mengikis Akar Perfeksionis Kronis-Bagian 2

Bagian 1: https://wp.me/pbUoBX-3z

——

Seingatku sewaktu SMA, aku penyuka warna hitam dan putih. Hampir semua baju pergi kalau tidak berwarna hitam, ya warna putih. Namun, sekitar tahun 2000, ketika masih kuliah di FH Undip, Semarang, aku mulai menyukai warna biru. Ketika membeli barang baru, sebisa mungkin harus yang berwarna biru.

Aku sampai harus mengelilingi Pasar Johar, Semarang. Hanya untuk mencari kipas angin dengan warna biru secara keseluruhan, tanpa ada campuran warna lain. Saat belum mendapatkannya, aku pantang menyerah mencarinya.

Saat ditawari stok kipas angin yang ada di toko, tetapi tidak berwarna biru, aku langsung menolaknya. Hal seperti ini berlanjut ketika aku sudah bekerja dan mendapat penempatan di kota Padang. Saat itu, aku merasa semakin mengalami gangguan obsesi.

Seluruh isi kamarku hampir seluruhnya biru. Mulai dari DVD player, magic com, sprei, gorden, ember, gayung, piring, sendok dan yang lainnya. Pokoknya kalau masih bisa dicari berwarna biru, aku akan terus mencari sampai mendapatkannya.

Kala itu aku belum merasa terganggu akibat terobsesi warna biru. Pun, aku belum paham ada gangguan obsesi pada diriku. Sampai suatu ketika di tahun 2011, saat aku sudah menikah, aku mengobrol dengan tetanggaku. Dari tetanggaku itulah aku baru tahu tentang OCD (Obsessive Compulsive Disorder).

Gangguan obsesi ini ternyata makin nyata ketika aku sudah mempunyai anak pertama pada tanggal 15 Maret 2012. Sekadar hendak memegang dan menggendong bayiku, aku harus mencuci tangan atau membasuh tanganku dengan tisu basah atau antiseptik bermerk ant*s.

Lama kelamaan aku tersadar ini sangat mengganggu aktivitasku. Sebab aku bisa berpuluh kali mencuci tangan atau menuangkan ant*s di telapak tangan. Jika aku tidak melakukannya, aku seperti merasa sangat bersalah sebab merasa akan menularkan penyakit kepada bayiku.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Seiring perkembangan usia bayiku dan aktivitasku menjadi ibu muda, aku semakin OCD. Aku mulai terbiasa menyediakan bermacam spon cuci piring tergantung peruntukannya. Untuk gelas sponnya sendiri, untuk piring juga terpisah, untuk panci beda lagi, apalagi untuk wajan bekas minyak. Sponnya semua benar-benar harus terpisah.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Begitu pula aktivitas mencuci baju, embernya harus dicuci dulu. Baru kemudian aku merendam baju dengan dipisah-pisah berdasarkan warna. Lalu menjemur baju pun dengan hanger baju berdasarkan kelompok warna.

Ketika menjemur baju-baju bayiku pun, hangernya harus tersusun rapih berdasarkan warna seperti foto di bawah ini.

Sumber foto: dokumentasi pribadi.

Aku mulai merasa lelah pikiran. Karena saat melakukan aktivitas tersebut, dadaku berdebar-debar kencang. Adrenalin terpacu. Seperti sedang mengikuti perlombaan yang dinilai. Aku merasa harus menyelesaikannya secara sempurna semua.

Sebenarnya hati kecilku berbisik, “Tidak seharusnya aku melakukan sebegitu terobsesinya.” Namun, sungguh … rasanya aku sangat sulit melepaskan semua kebiasaan yang sudah aku lakukan sejak belasan tahun lalu. Bahkan puluhan tahun lalu, lebih tepatnya 27 tahun silam. Dimulai sejak mas kandungku meninggal di tahun 1992. Dari kejadian itulah semua berawal…..

Bersambung ke bagian 3: https://wp.me/pbUoBX-3S

Sokaraja, 18 Desember 2019

-Ribka ImaRi-
Penyintas OCD sejak SD hingga usiaku 39 tahun saat ini.

Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)

Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (2018)

Mentor Kelas Tantrum Anak (2018)

Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (2019)

Founder ImaRi’s Corner Parenting (2020)

imariscornerparenting/ribkaimari

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...