Acceptance Artikel Umum Curahan Hati ImaRi's Blog ImaRi's Corner Parenting Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mindfulness Parenting Seputar Kesehatan Mental atau Jiwa Tulisan Ribka ImaRi (Owner)

Mengendalikan Emosi Iri

Oleh: Ribka ImaRi

“Iri tanda tak mampu!”

Sumber foto: edit by canva

Kurasa ada benarnya pameo di atas. Apalagi aku sering sekali mendengar dan membacanya.

Menurut KBBI, kata “iri” berarti merasa kurang senang melihat kelebihan orang lain (beruntung dan sebagainya); cemburu; sirik; dengki. Dari makna kata “iri” yang sebenarnya, tersirat bahwa saat merasa iri, dalam jiwa diri sendiri merasa tidak puas dengan keadaan diri setelah melihat kondisi orang lain.

Ini yang pernah terjadi padaku. Dulu seringkali aku terbajak emosi iri pada orang lain termasuk pada suami sendiri. Melihat orang bisa begini atau begitu, bisa ke sana atau ke mari, aku iri. Namun, alhamdulillah sekarang semakin hari semakin terkendali. Terlebih di awal 2022 aku semakin bisa SADAR (MINDFULNESS) terus menerus untuk mengendalikan emosi.

Pagi ini langsung disambut bab pengendalian emosi iri ke suami sendiri. Pratiknya sudah lama ketika suami pergi ke acara-acara kantor sementara aku sudah resign. Namun, kali ini latihan lagi untuk pengendalian emosi iri yang dimulai dari kepergian suami ke Bali pada hari Minggu, 9 Januari 2022. Padahal aku sudah MENERIMA, bahwa suami pergi dalam rangka Kick of Meeting alias meeting tahunan dari kantornya, PT. Abbot Indonesia.

Aku SADAR, kali ini emosi iri yang tiba-tiba berkelebat berasal dari memori otakku di tahun 2006. Kala itu aku juga ikut meeting nasional dari kantor, PT. Eisai Indonesia. Sebuah perusahaan farmasi Jepang. Perusahaan di mana aku dan suami, sebelum menikah, pernah satu naungan yang sama selama 1,5 tahun. Jadi kami sering pergi ke acara kantor bareng-bareng.

Setelah menjadi istri, sebenarnya suami pun sangat sering mengajakku dan anak-anak untuk.ikut kerja, tetapi kali ini tidak memungkinkan di ajak karena ini di sini suami baru menjadi karyawan baru terhitung sejak bulan Agustus 2021.

Kemudian, pagi tanggal 14 Januari 2022, suami mengirim foto sedang berdiri di depan Bali Hai Cruise. Doi mau pesiar. Nah, untuk kasus ini, berjuang terkendali emosi iri itu butuh perjuangan luar biasa bagiku.

Sumber foto: WA dari suami

Ya, jujur saja pengendalian emosi bab ini memang sangat tak mudah bagiku, makanya aku menulisnya saat ini, supaya bisa merilis emosi diri sendiri. Mengingat aku dan suami dulu pernah sekantor sejak pertama bertemu tahun 2007. Lalu saat pacaran tahun 2008 kami berdua sempat mendapat reward bareng karyawan se-Indonesia berupa trip ke Kuala Lumpur, Malaysia. Seru banget! Kami juga pernah mendapat reward perjalanan ke Hongkong sekeluarga sewaktu hamil Jehan tahun 2014. Bisa dibayangkan emosi iriku seperti apa terhadap suami.

Sumber foto: dokumentasi pribadi
Batu Cave, Malaysia, Juni 2008

Karena sekarang, aku yang sudah jadi ibu rumah tangga sejak tahun 2011, sedari pagi sudah berjuang mengendalikan emosi ketika Tyaga mengerang sakit kala bangun tidur karena jari kelingking kakinya bengkak sejak kemarin pulang sekolah akibat ketiban kursi dengan tidak sengaja.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Namun, aku belajar untuk FOKUS mengendalikan emosi iri pagi tadi, sehingga biss merespon chat suami dengan santai seperti bukti percakapan di bawah ini,

Sumber foto: screenshoot WA dari suami

Kalau aku yang dulu, lima tahun lalu, pada tahun 2016 pasti sudah ngedumel kesel bahkan marah banget akibat overthinking meraja yang berasal dari emosi iri. “Suami enak-enakan jalan-jalan, gue di sini capek urus anak. Mana Tyaga pagi ini gak sekolah, repot dah. Mana nanti mau jenguk wali murid dan kondangan juga. Kepikiran sana-sini. Gak suami yang bisa dititipi anak. Suami lagi enak-enakan jalan-jalan.”

Sempat ada rasa kencang rahang karena kesal, kepala belakang berat karena kepikiran Tyaga, dan leher menengang karena sempat mengeluhkan keadaan Tyaga yang tidak sekolah.

Segera aku SADAR (MINDFUL) untuk duduk bersandar, jeda sejenak (PAUSING) demi bisa mengolah napas agar dadaku yang tadi gemuruh agar bisa mereda. Aku lepaskan KELUH itu dengan MENULIS semua emosi supaya rilis dan tidak lagi MEMBELENGGU sepanjang hari.

Kuganti FOKUS terkendali emosi dengan Radical Acceptance (PENERIMAAN YANG MENDASAR), melalui SELF TALK, aku bicara pada diri sendiri, “TERIMA, TERIMA, TERIMA SAJA  APAPUN YANG TERJADI HARI INI TANPA MENGHAKIMI TYAGA. AKU TERIMA KEADAAN SAKIT TYAGA. APAPUN YANG TERJADI HARI INI, AKU AKAN FOKUS TERKENDALI EMOSI. AGAR TETAP LEMBUT KE DIRI SENDIRI, TYAGA  DAN JEHAN. YANG UTAMA ADALAH ANAK-ANAKKU. BISMILLAH SEMUA RENCANAKU BISA TERLAKSANA SATU PER SATU. TANPA MERASA ANAK MENJADI BEBAN YANG MENGHALANGI RENCANA-RENCANAKU MESKI SUAMI SEDANG TAK DI RUMAH DAN DAN SEDANG TAK BISA BERBAGI TUGAS DENGAN SUAMI APALAGI DIMINTAI BANTUAN.”

Dalam satu momen Radical Acceptance di atas, ada beberapa penerimaan emosi iri terhadap suami sendiri.

Alhamdulilah, lega … tak ada emosi iri lagi ke suami. Berganti emosi syukur luar biasa karena suami bisa berbahagia di Bali. Pun, tak ada emosi kesal ke Tyaga, berganti emosi welas asih melihatnya sakit. Aku pun bisa kondangan dengan tenang. Setelah bisa lebih dulu mengendalikan emosi iri yang tampak sepele tetapi bisa membuat segalanya kacau sepanjang hari jika tidak segera sadari umtik dikrnxalikanamjajaajskskskkssuntik

Yuk, bareng-bareng belajar mengendalikan emosi iri supaya lebih ringan menjalani hari.

Gabung di kelas Mengasuh Inner Child Batch 25. Hubungi Mentor Ribka ImaRi di Whatsapp

Sumber foto: edit by canva oleh Pamela Wuri

Sokaraja, 14 Januari 2022

-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 45 buku Antologi sejak Januari 2019 (Sebanyak 35 antologi sudah terbit, 26 dari Penerbit Rumedia, 8 dari Wonderland Publisher dan 1 dari Aksana Publisher)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/Desember 2019-Sekarang)
❤️Mentor Kelas The Power of Sounding (TPS/2020-Sekarang)
❤️Mentor Kelas Healing Anak oleh Ibu (HAI/2020-Sekarang)
❤️Mentor Kelas Be Mindfulness Wife (BMW/Mei 2021-Sekarang)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (Desember 2019-sekarang)
❤️Owner website binaan Rumah Media: ImaRi’s Corner Parenting (April 2020-sekarang)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

6 Komentar

  1. Hani menulis:

    Makasih remindernya. Semoga engga iri ke suami. Samma nih, aku pernah iri ke suami, karena dia bisa S3, sedangkan aku enggak. Tapi dipikir lagi, males banget S3 sih. Atur antara rumah, kerjaan, dan sekolah tuh cukup jungkir balik. Akhirnya menikmati ngeblog dan nulis-nulis saja…

  2. menulis:

    Banyak sekali sesuatu hal yang bisa membuat hati kita iri. Rasanya memang sulit untuk meminta diri ini menerima apapun yang terjadi pada kita. Tapi bukan berarti nggak bisa sih ya. Semangat… Hehehe….

  3. Urusan hati, perasaan, dan emosi itu kadang rumit, ya. Pada sebagian orang, bisa timbul rasa iri yang ‘unik’. Ke suami bisa iri? Bisa, dong dan saya paham banget.
    Akui dulu dan kelola rasanya kemudian. Insyaallah bisa 🙂

  4. Hmm.. kayaknya saya juga pernah ada di posisi seperti itu, deh! Iri dengan kesenangan suami yang sedang jalan-jalan wkwkwk.

    Tapi untungnya suami malah yang suka ngajak saya ikut supaya bisa senang-senang bareng, katanya ;D

  5. ternyata terima dulu perasaan irinya ya mba, baru deh bicara sama diri sendiri. Alhamdulillah dengan ikutan kelas mba Ribka jadi bisa mengelola rasa emosi dengan cara yang bijak dan nggak meluap. Semoga aku bisa mencontohnya mba :))

  6. Moga lekas pulih ya kakinya Tyaga. Penerimaan di dalam hati dan pengendalian emosi, serta mindfulness, adalah kuncinya ya.

Tinggalkan Balasan