Curahan Hati Depresi Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Suami Idaman (MSI) Mindfulness Parenting Tulisan Ribka ImaRi (Owner)

Mengasuh Inner Child Tragis demi Rumah Tangga Harmonis

Oleh: Ribka ImaRi

Semilir angin sore mengibarkan ujung bawah jilbab instanku yang berwarna milo. Kupeluk manja pinggang lelakiku tersayang. Sebelum akhirnya kulepaskan saat ia hendak memarkir si Genio tepat di samping pintu masuk Restoran Pempek Kamto.

Suasana Kota Purwokerto sore itu sedang lengang. Terlihat dari sedikitnya kendaraan yang terparkir. Mungkin karena efek pandemi Covid-19.

Sejak Maret 2020 lalu, sepertinya para penikmat wisata kuliner tidak bisa bebas bepergian seperti sebelum pandemi. Begitu pula dengan kami yang ketika berencana makan di luar rumah, memilih tidak membawa serta kedua anak dan mencari kafe yang tidak sedang ramai pengunjung.

Aku melepas helm berwarna hitam lalu meletakkannya di ujung jok sepeda motor berwarna dominan merah dan putih. Kuda besi buatan Jepang ini memang sengaja dibelikan suamiku dalam rangka memperingati hari jadi pernikahan kami yang ke-9 di Agustus 2019. Hari bahagia yang jatuh tepat di tanggal 17 Agustus telah menginpsirasiku untuk memilih varian warna merah dan putih. Seolah simbol warna senada yang disamakan dengan bendera merah putih. Hehe.

Setelah memastikan si Merah Putih terkunci dengan benar, kami melangkah bersama memasuki kedai makan bernuansa bangunan tempoe doeloe. Selain kasir dan pelayan, hanya tampak dua orang wanita tengah menikmati hidangan khas palembang, duduk di sisi kiri restoran. Suamiku memilih meja di ujung ruangan yang terletak di dekat jendala.

Sayup kudengar lembut lirik lagu yang keluar dari speaker audio restoran. Ternyata bagian refrein lagu Sampek Tuwek dari penyanyi pop Jawa, Denny Caknan. Suamiku yang memberi tahu. Ia lebih update dalam banyak hal daripada aku.

Sampek tuwek we ra bakal tak culno

Masio wis ra wancine, sayang-sayangan ning kene

Siji-sijine wong sing gawe ayeme ati

Gawe uripku seneng, mesem saben bengi

Tanpa sengaja aku ikut menyanyikan lagu yang tiba-tiba merasuk dan menghadirkan rasa nyamanku di depan suami. Sekaligus mereguk syukur mendalam bahwa memang “sampai tuwek” setidaknya menjelang tua bersama di usia pernikahan kami yang akan 11 tahun di tahun 2021 nanti, suamiku masih tetap setia padaku. Atas kemurahan-Nya alhamdulillah, belum pernah satu kali pun ia mendua. Bahkan sekadar melirik nakal atau chatting dengan wanita lain.

Aku yang sedang memandang takjub lelaki hebat pemberian Allah, dikagetkan pelayan berseragam atasan berwarna merah dan bawahan berwarna hitam yang datang menghampiri untuk menulis orderan pempek kami. Setelah selesai mencatat pesanan, gadis muda yang ramah itu meninggalkan kami yang terbawa suasana romantis kedai makan bercat putih dan mulai temaram suasana senja.

“Foto yuk, Bun!” ajak suamiku yang berkulit hitam manis. Ia mencondongkan tubuhnya mendekatiku yang berada di kursi seberang meja. Lantas ia menyalakan dan mengatur ponsel agar kami bisa ber swa-foto berdua. Sedetik aku sempat kaget dengan ekspresinya yang belakangan ini hampir selalu manis.

Sumber Foto: dokumenstasi pribadi

Sekilas yang melihat pasti menyangka kami adalah pasangan yang harmonis seperti terlihat pada foto. Sebab suami menggenggam erat tanganku. Padahal yang sebenarnya terjadi, aku harus mendahului menggamit jemarinya untuk kugenggam kuat. Ini yang membuatku tertawa terpingkal akibat mendapati suami yang masih saja kaku sikapnya. Tak ada kesan romantis walaupun kami sudah menikah selama 10 tahun 4 bulan. Tentu kami sudah sangat halal, bukan? Mengapa pula harus malu-malu. Hehe.

Sumber foto: dokumentasi pribadi.

Ya, dulu … aku dan dia–yang sekarang sudah menjadi satu hati–harus berjuang sampai berdarah-darah dan melewati banyak momen air mata yang menganak sungai hingga akhirnya berhasil mengasuh inner child (IC) kami yang pernah tragis semasa kecil.

Bagaimana tidak menyedihkan?

Ia, sebenarnya suami yang sangat baik dan bertanggung jawab. Namun pernah sangat buruk penuh kekerasan dan dingin memperlakukanku. Sementara aku, istri yang sering sarat kasih sayang tetapi masih saja sempat menuntut suami untuk menggenggam atau menuntun atau menggandeng tangan kecilku dalam arti yang sebenarnya. Karena suamiku bilang tanganku memang kecil sekali.

Ditambah sikapku kala itu yang seperti anak kecil merengek bahkan mengambek dengan berurai air mata saat suami tidak peka untuk menggandeng tanganku ketika menyeberang jalan. Dahulu aku masih menebak-nebak, apa hal yang membuatnya tidak peka? Karena mungkin sedari kecil, ia tidak mendapat sentuhan hangat orangtua dan contoh nyata pernikahan harmonis dan romantis dari kedua mertuaku almarhum dan almarhumah.

Ini benar dan nyata, sebelum mengenal ilmu Mindfuness Parenting dari Mentorku, Pak Supri Yatno di Agustus 2016, tepat enam tahun usia pernikahan kami, jiwa masa kecilku (IC) pernah sangat haus genggaman dan gandengan tangan suami. Akibat tak pernah sekali pun mendapatkan seluruhnya dari bapak kandungku.

Seingatku, bahkan sejak aku kecil sampai jelang menikah, memang tak ada rekaman dalam di otak masa kecilku (IC) tentang sosok bapak yang menggandeng tangan putri kecilnya. Sungguh sangat menyedihkan rasanya. Hal ini membuatku pernah pernah menangisi nasib saat berjalan di belakang suami. Persis nasib mamaku yang selalu ditinggal di belakang oleh suaminya yang tak lain dan tak bukan adalah bapakku sendiri. Seperti dejavu aku merutuki nasib sekalian menyumpahi suami yang tega meninggalkanku di belakangnya.

Padahal ayah ImaRi, begitu aku menyimpan nama suami dalam kontak HP-ku, adalah suami yang luar biasa berkorban untuk keluarga kecilnya. Namun saat itu ia berjalan di depanku dengan terburu-buru karena mau mengurus administrasi untuk aku melahirkan, semua biaya persalinanku kala itu hanya suamiku yang bertanggung jawab. Air mataku justru menetes sambil mengelus perut besarku akibat sangat sedih. Padahal beberapa jam lagi aku akan berada di ruang operasi. Aku berharap suamiku bisa menguatkan meski sekadar menggenggam tanganku sejenak.

Andai saat itu aku sudah mempunyai bekal ilmu MINDFULNESS PARENTING (ilmu mengasuh diri dengan kesadaran penuh untuk hadir di sini dan sekarang) , aku pasti bisa sadar untuk bersyukur sepenuh jiwa dan MENERIMA keadaan suami apa adanya. TERIMA SUAMI YANG TIDAK PEKA KARENA MEMANG IC-NYA BELUM PERNAH DIGANDENG ATAU DIGENGGAM TANGANNYA. Namun rekaman trauma IC negatif pada jiwaku saat itu justru fokus pada perlakuan buruk suami yang membuat netraku tertutup kabut tebal air mata.

Alih-alih bersyukur mempunyai suami yang sangat bertanggung jawab, rekaman di otakku malah mengingatkan sikap tega bapak pada mama yang sering meninggalkan mama berjalan jauh di belakang bapak. Hatiku nyeri kala itu karena sering mengalami hal yang sama dengan mama. Terlebih di hari terberat seumur hidup menjadi istri sekaligus ibu pada tanggal 14 Maret 2012 saat hendak persiapan melahirkan Tyaga dan 20 Agustus 2014 ketika mau persalinan Jehan. Yang keduanya kutempuhi dengan cara operasi caesar karena kondisi janin yang sama, melintang. Aku berjalan tertinggal di belakang suami. Inner child ini benar-benar nyata. Kelebat-kelebat menyedihkan dan menyayat hati.

Tahun berganti, kini aku bersyukur sekali, saat mengikuti challenge Menulis Spesial Wedding Anniversary dari Mbak Emmy, Manager Area Sumatera NuBar Rumedia, yang bertema Menjaga Keutuhan Rumah Tangga ini, perjuanganku selama empat tahun terasa tidak sia-dia, sebab aku sudah sepenuhnya bisa mengasuh IC. Khususnya. IC yang pernah memicu masalah rumah tangga. Pun bersama-sama mengasuh IC suami.

Sumber foto: edit flyer by Mbak Emmy

Selamat hari jadi pernikahan yang ke-11 ya, Mbak Emmy dan Suami. Tepat di tanggal 19 Desember 2020 lalu. Semoga semakin sakinah, mawadah dan warohmah. Aamiin.

***

Challenge ini juga diikuti oleh sahabatku sesama PJ (Penanggung Jawab) NuBar Rumedia, Mbak Juniawati Salamat, yang lebih dikenal dengan panggilan sayang, Mbok Jun dengan judul Manfaatkan 4 Waktu untuk Pertahankan Pernikahan. Kami pernah bertemu bulan lalu di tanggal 17 November 2020 ketika beliau ada urusan di Kota Purwokerto.

Sumber foto: dokumentasi Mbok Jun

***

Kesadaranku untuk lebih dulu mengasuh IC-ku, membuatku belajar keras melepas mental korban agar bisa sadar lebih dulu menggamit tangan suamiku. Aku tidak lagi menggerutu dan mengeluhkan suami yang tidak peka. Namun aku melakukan aksi mula-mula, agar suamiku bisa merespon dengan baik lalu mencontohnya.

Aku tidak ingin terpuruk terus menerus dalam kenangan IC yang menyedihkan sampai tuwek nanti. Tak mengapa jika dulu, harus aku yang terus menerus berjuang lebih dulu mengasuh IC-ku dan suami demi menggapai kebahagiaan dalam pernikahan. Hasilnya, ternyata suamiku bisa berlaku sangat manis seperti saat ini. Hasil ia meniru perilaku istrinya yang lebay. Hahaha.

Bahkan hingga semalam, kami selalu bergenggaman tangan dan berpelukan sewaktu tidur malam sampai pagi menjelang. Menghadirkan sensasi rasa syukur luar biasa saat bangun pagi. Padahal dulu jika aku memeluknya, aku serasa memeluk kayu besar yang keras. Karena saking kakunya.

Namun aku tak putus asa berjuang terus memeluknya. Meski hatiku hancur akibat ditolak suami dan bisikan mentalku yang selalu saja mendamba pelukan suami. Lagi-lagi akibat IC yang tidak pernah dipeluk bapakku. Sekarang, ajaib! Suamiku yang sering mendahului memelukku erat. MasyaAllah alhamdulillah.

Dari keajadian demi kejadian dalam rumah tanggaku yang sudah berjalan satu dekade, aku ingin berbagi saran, sebaiknya mengasuh IC sejak gadis belum menikah. Sebab ada peserta kelas privat yang mengalami hal sama serupa denganku, seperti screenshoot di bawah ini.

Iya ini PENTING sekali untuk mengenali dan mengasuh IC-IC yang sekiranya bakal terpicu ketika sudah bersuami apalagi mempunya anak nantinya. Di buka kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Batch 13 untuk tanggal 17-24 Januari 2021. Mentor Ribka ImaRi wa.me/6285217300183

Sebab tiga tahun lalu, sebelum IC-ku terasuh tuntas–sebelum akhirnya aku menjadi mentor yang dapat membimbing banyak istri untuk tidak lagi MENUNTUT suami yang tidak peka, melainkan melepas mental korban lalu mengambil tanggung jawab MENUNTUN suami agar bisa bersikap manis seperti harapan para istri–aku pernah berandai-andai … andai aku tahu lebih awal tentang ilmu mengasuh inner child, mungkin rumah tanggaku tak perlu terpuruk sampai enam tahun lamanya. Suami yang IC-nya mengalami kekerasan fisik dan psikis, aku yang juga melihat KDRT bapak dan mengalami kekerasan psikis dari bapak, terasa saat mengasuh semuanya menjadi sangat melelahkan dan membuat hampir menyerah saat berjuang menjalani prosesnya selama empat tahun setelah mengenal MINDFULNESS PARENTING dari Mentorku Pak Supri Yatno.

Namun sekarang, aku menerima dan memahami, aku perlu mengalami semua kesakitan itu. Karena, atas seizin-Nya, ini adalah cara Allah agar aku bisa bermanfaat untuk banyak rumah tangga yang mengalami hal serupa. Berbagi ilmu MINDFULNESS dan caraku mengasuh IC tragis demi mengatasi masalah rumah tangga sampai bisa harmonis seperti sekarang ini. Alhamdulillah.

Sokaraja, 23 Desember 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 32 buku Antologi sejak Januari 2019. (Sebanyak 18 antologi sudah terbit, 12 NuBar di Rumedia)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/2019-2020)
❤️Mentor Kelas The Power of Sounding (TPS/2020)
❤️Mentor Kelas Healing Anak oleh Ibu (HAI/2020)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website binaan Rumah Media: ImaRi’s Corner Parenting (April 2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan